Tauhid Itu di Dalam Hati

3
747

BincangSyariah.com – Saya, alhamdulillah, sejak 2012 diberikan nikmat besar oleh Allah, dibiasakan untuk berzikir tauhid (Laa Ilaaha Illa Allah) setiap setelah salat minimal 165 kali. Walau pun ketika proses pembiasaan itu, saya dicap ‘melenceng’ dari tradisi, karena zikir saya mengikuti tarekat Qâdiriyah wa Naqsyabandiah.

Saya tidak bergeming dan tidak bergesar semilimiter pun untuk memuliakan kalimat tauhid dengan melafalkannya dengan cara yang diajarkan guru saya, dari guru saya hingga Rasulullah saw. Walau demikian, tetap saja, cara seperti itu, dianggap melecehkan Allah Swt., karena dizikirkan dengan keras dan penuh hentakan.

Suatu saat, pernah saya sodorkan banyak referensi kebolehan mengeraskan zikir. Bahkan saya sering berdiskusi hingga larut malam. Tapi tetap saja mereka tak menerimanya, dan ujungnya menganggap saya telah keluar dari tradisi yang lurus.

Mereka yang saya sebutkan ini, adalah mereka yang beragama dengan rasa dan semangat keislaman yang tinggi, Tapi sayangnya masih minus ilmu, miskin literasi, sehingga beranggapan apapun yang dia tidak ketahui adalah sebuah kesalahan. Padahal, tidaklah semua yang kita tidak ketahui adalah salah dan tidak semua yang diketahui adalah benar.

Begitupun dengan pembakaran bendera yang bertuliskan lafal tauhid. Banyak kitab fiqh, klasik ataupun kontemporer, pendapat para mujtahid lintas mazhab disertai dalil naql dan ‘aql-nya terhampar luas yang semuanya membahas kebolehan membakar benda yang di dalamnya ada nama agung Allah, Rasulullah ataupun ayat Alquran, di mana niatnya agar benda benda itu terawat dan terhindar dari najis, keinjak-injak dan hal lainnya. Semuanya bertujuan agar tidak jatuh pada melecehkan nama agung Allah Swt atau ayat-ayat Alquran yang mulia.

Lagi-lagi, banyak yang enggan membaca dan menerima pendapat-pendapat tersebut. Alasannya, mereka lebih mengedepankan rasa ketimbang literatur keilmuan. Ketika akal sehat sirna, dan semangat keislaman tinggi, maka kebisingan suara mereka tak terhindarkan lagi. Tuduh sesat, tuding sesat, terucap deras.

Baca Juga :  Hukum Makan Laron

Dan kini, bukan hanya bendera bertuliskan tauhid saja yang ada, tapi topi, baju, kerudung, dan semua pernak perniknya disertakan kalimat tauhid itu. Pertanyaannya, bisakah mereka merawat kemuliaan kalimat tauhid yang menempel pada benda-benda tersebut? Ketika keringat mengucur dan membasahi baju, masih mampukah dia memuliakan kalimat tauhid dari baunya keringat? Ketika ke toilet, ingatkah mereka untuk mencopot benda benda yang bertuliskan tauhid itu?

Bagi saya, kalimat tauhid itu harus terus terucap dan tertanam dalam sanubari terdalam, tak perlu diperlihatkan dan dipertontonkan. Ketakwaan itu ada dalam hati, maka siramilah dan hiasai hati dengan kalimat tauhid.

Betullah sabda baginda Nabi saw., orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt. adalah orang yang diberikan pemahaman agama, kaya literasi. Mafhum al-mukhalafah-nya? Wallahu a’lam.

3 KOMENTAR

  1. Segala sesuatu tergantung niatnya klo niatnya untuk menunjukkan kebencian tentu tdk dibenarkan apalagi dg memberikan pembenaran bahwa kejadian itu dimaksudkan untuk menjaga kalimat tauhid… semoga kita semua termasuk golongan yg lurus…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here