#TanyaBincangSyariah; Mencaci Maki Pemerintah Zalim, Benarkah Berpahala?

1
19

Pertanyaan

Assalamualaikum, Min izin bertanya, bagaimana hukum mencaci maki pemerintah zalim, benarkah berpahala? Terima kasih

Wasalamualaikum

Jawaban

BincangSyariah.Com— Waalaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Dalam ajaran Islam, Pemimpin memilki posisi mulia. Pasalnya, seorang pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar, baik di sisi manusia, pun kelak di hadapan Allah. Oleh karena itu, tak setiap orang bisa menjadi pemimpin. Pemimpin itu adalah manusia pilihan.

Dalam Al-Qur’an  Allah menyuruh manusia untuk taat kepada pemimpin. Allah berfirman dalam Q.S an-Nisa’ ayat 59;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.”

Dan juga pada hadis lain baginda Nabi bersabda ;

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Artinya: Atas seorang wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat. (HR. Bukhari/7144)

Dalam ayat dan hadis ini Allah menyuruh manusia untuk taat kepada para pemimpin. Pada ayat an-Nisa di atas, Allah menempatkan taat pada pemimpin pada posisi ketiga—setelah taat pada Allah dan para Rasul—, mengindikasikan betapa mulia seorang pemimpin.

Menarik  menganalisa ayat ini, saat menerangkan “pemimpin” Allah tak mendahuluinya dengan kata “Athiuu (taatlah)’”. Pasalnya, taat pada pemimpin sejatinya merupakan ikutan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul. Untuk itu, seorang muslim tak boleh taat kepada pemimpin tatkala ia disuruh berbuat maksiat kepada Allah. Tak ada kewajiban taat pada makhluk— sekalipun pemimpin— bila memerintahkan kepada kezaliman.

Lantas, bagaimana bila pemimpin atau pemerintah yang berkuasa itu zalim? Bolehkah seorang muslim mencaci maki pemimpin atau pemerintah? Atau bolehkah kita mencela pemimpin yang zalim? Apakah berpahala menghina dan mencerca pemimpin yang zalim?

Menurut Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al Muhadzab, taat kepada pemimpin itu wajib, sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak adil. Seorang muslim harus tunduk pada pelbagai peraturan yang dibuat pemimpin. Meskipun ia tak membenci peraturan itu. Selama pemimpin itu tak menyuruh maksiat pada Allah.

Imam Nawawi berkata dalam Majmu’ jilid 10, halaman 47;

تجب طاعة الإمام في أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ، ما لم يخالف حكم الشرع، سواء كان عادلًا أو جائرًا

Artinya; wajib hukumnya taat pada pemimpin, pada apa yang ia perintahkan dan larang, selama itu tidak menyalahi hukum syariat. Meskipun pemimpin itu adil atau tidak adil (baca; wajib ditaati).

Pada sisi lain, Abu Hamid Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan tidak boleh hukumnya seseorang menghina pemimpin. Meskipun pemimpin itu zalim dan fasik. Pasalnya, pemimpin itu adalah orang-orang pilihan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin Juz IV, halaman 99

واعلم أن السلطان به قوام الدين فلا ينبغي أن يستحقر وإن كان ظالماً فاسقاً.  قال عمرو بن العاص رحمه الله إمام غشوم خير من فتنة تدوم

Artinya: ketahui oleh mu, sesungguhnya pemimpin tegaknya agama. Maka tidak sepantasnya pemimpin itu dihina, meskipun pemimpin itu berbuat zalim dan fasik. Ada pun Amar bin Ash berkata; pemimpin yang zalim lebih baik dari pada kekacauan (huru-hara) yang tidak  kunjung usai (selamanya).

Menurut ulama dari mazhab Maliki, Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al Maliki dalam kitab al Bayan wa at Tahsil wa Syarh wa Taujih wa Ta’lil li Masaili al Mustakhrijah, bahwa wajib taat kepada pemimpin meskipun pemimpin tersebut tidak berlaku adil. Dengan catatan, selama ia tak memerintahkan durhaka dan melanggar syariat Allah.

Menurut Ibnu Rusyd Al Jadd, akrab sapaannya, kewajiban taat kepada pemimpin tersebut tak bisa ditawar, sekalipun pemimpin banyak yang tak menyukainya. Ibn Rusy Al Maliki mengungkapkan;

واجب على الرجل طاعة الإمام فيما أحب أو كره، وإن كان غير عدل، ما لم يأمره بمعصية   

Artinya; Wajib atas seseorang taat kepada pemimpin, pada apa yang ia sukai dan ia benci, meskipun pemimpin itu berlaku tidak adil. Tapi dengan catatan, pemimpin itu tak menyuruh maksiat pada Allah.

Dengan demikian tak ada perintah untuk mencaci maki pemimpin atau pemerintah yang zalim. Rasulullah telah lama mengambarkan dalam hadisnya terkait pemimpin yang zalim. Menurut beliau suatu saat akan datang menimpa umat Islam pemimpin yang zalim dan tak berlaku adil.

Nabi Muhammad bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim;

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: { سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Artinya; bersumber dari Hisyam bin ‘Urwah, dari Abu Hurairah, sesungguhnya nabi bersabda;  Selagi kamu temui nanti—ketika aku sudah tiada—akan pemimpin kalian, ada pemimpin yang baik akan memimpin dengan kebaikannya dan pemimpin yang fajir (zalim) akan memimpin kalian dengan kefajirannya.

Meski demikian, maka dengarlah dan taatilah mereka pada perkara-perkara yang sesuai dengan kebenaran saja. Apabila mereka berbuat baik maka kebaikannya adalah bagimu dan untuk mereka, namun, bila mereka berbuat buruk maka bagimu (untuk tetap berbuat baik) dan bagi mereka (keburukan mereka). (HR. Imam Bukhari Muslim)

Sejatinya Islam menganjurkan seseorang untuk memberikan nasihat kepada pemimpin yang zalim dan tak adil. Namun, Islam memberikan rambu-rambu, agar menyampaikan kritik tersebut dengan elegan dan lemah-lembut. Tidak dengan hinaan dan caci-maki yang kadang berbau rasis.

Nabi Muhammad bersabda;

وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Nabi Muhammad bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak (benar), di sisi pemimpin yang zalim. (HR. Imam At Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Pun dalam Al-Qur’an Allah berfirman Q.S Thaha ayat 43-44;

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ  ,فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (43) maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.

Dalam ayat ini, Allah menyuruh pada Musa dan Harun untuk menemui Fira’un. Pemimpin zalim dan fasik. Namun, Allah menyuruh menyampaikan kritik dan dakwah dengan lemah lembut, tidak dengan menghina.

Demikian penjelasan, hukum mencaci maki pemerintah yang zalim, benarkah berpahala? Semoga bermanfaat.

(Baca: #TanyaBincangSyariah: Benarkah Nahi Munkar Itu Harus dengan Kekerasan?)

 

 

 

 

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here