#TanyaBincangSyariah: Benarkah Nahi Munkar Itu Harus dengan Kekerasan?

2
14

Pertanyaan

Assalamu ‘Alaikum Wr.Wb.

Ada konsep amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam. Nah, dua tindakan terorisme di Indonesia belakangan ini yakni bom bunuh diri di gereja katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri membuat saya akhirnya berpikir tentang bentuk dari pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar tersebut.

Benarkah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar harus dengan jalan kekerasan?

Mohon dijawab, Min. Karena saya penasaran. Terima kasih.

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Jawaban

Assalamu ‘Alaikum Wr.Wb.

Pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar semestinya bertolak pada cara Rasululllah Saw. dalam melaksanakan dakwah baik di Mekkah maupun di Madinah. Sejatinya, dakwah yang Rasulullah Saw. lakukan tidak dilaksanakan dengan menggunakan kekerasan sama sekali. Beliau justru menyampaikan pesan damai dan kesetaraan antarsesama manusia dalam setiap dakwahnya.

Berikut saya akan menjelaskan tentang konsep dakwah Rasulullah Saw. dan bagaimana dasar dakwah tersebut dilaksanakan. Selanjutnya, ada konsep Islam Wasathiyyah di Indonesia yang menerapkan perdamaian dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Selanjutnya, akan ada penjelasan tentang bagaimana cara berdakwah yang damai tanpa menggunakan kekerasan.

Dakwah Rasulullah

Salah satu ajaran pokok dalam dakwah Rasulullah Saw. terutama di kota Mekkah adalah tauhid. Rasulullah Saw. diutus oleh Allah Swt. untuk membawa ajaran tauĥid.

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam praktik kemusyrikan. Islam datang dan Nabi Muhammad Saw. menyampaikan kepada kaum Quraisy bahwa Allah Swt. Maha Pencipta.

Segala sesuatu di alam ini, langit, bumi, matahari, bintang-bintang, laut, gunung, manusia, hewan, tumbuhan, batu-batuan, air, api, dan lain sebagainya itu merupakan ciptaan Allah Swt.

Oleh sebab itu, Allah Swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedangkan manusia lemah tak berdaya. Ia Maha Agung (Mulia), sedangkan manusia rendah dan hina.

Selain Maha Pencipta dan Maha Kuasa, Allah Swt, memelihara seluruh makhluk-Nya dan Allah Swt. menyediakan seluruh kebutuhan ciptaannya, termasuk manusia.

Salah satu ajaran pokok dalam dakwah Rasulullah Saw. adalah Nabi Muhammad Saw. Yang mengajarkan bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui.

Allah Swt. juga mengajarkan manusia berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak diketahuinya dan cara memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut.

Ajaran keimanan adalah ajaran utama yang diembankan kepada Rasulullah saw. yang bersumber kepada wahyu-wahyu Ilahi. Tauhid adalah ajaran pokok dalam dakwah Rasulullah Saw.

Ada banyak sekali ayat al-Qur’ān yang memerintahkan beliau agar menyampaikan keimanan sebagai pokok ajaran Islam yang sempurna.

Allah Swt. berfirman dalam Quran Surat al-Ikhlas:

 قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

qul huwallāhu aad

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

 ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

allāhuamad

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

lam yalid wa lam ylad

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

 وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

wa lam yakul lah kufuwan aad

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Ajaran tauĥid menjejak sangat dalam di hati Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya. Tauhid menimbulkan keyakinan yang kuat, mapan, dan tak tergoyahkan. Ketahuhidan yang kuat membuat dakwah Rasulullah berjalan tanpa kekerasan.

Sebaliknya, karena landasan tauhid, Rasulullah justru mengasihi sesama dan menyebarkan perdamaian. Tauhid membuat Rasulullah Saw. tidak menggunakan kekerasan dalam melaksanakan dakwahnya yakni ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Islam di Indonesia

Dua tindakan terorisme di sepertiga tahun 2021 sesungguhnya tidak mencerminkan wajah Islam di Indonesia yang sejatinya diliputi dengan perdamaian. Pengeboman bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri sejatinya adalah tindakan yang berasal dari penafsiran yang salah terhadap amar ma’ruf nahi munkar.

Rasulullah Saw. tidak mengajarkan kekerasan dan sama sekali tidak ada kekerasan dalam wajah Islam di Indonesia yang sarat dengan toleransi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui bahwa tantangan Islam di masa depan sama sekali tidak ringan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan dinamis mengharuskan manusia hidup dengan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, MUI telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Fatwa tersebut mengajak umat Islam agar mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyyah sebagai opsi terbaik menjawab tantangan zaman dalam skala lokal, nasional, bahkan global. Bukan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi dalam dua peristiwa di atas.

MUI menyatakan bahwa Islam wasathiyyah akan mengafirmasi sikap dan praktik keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, toleran, dan mengutamakan praktik beragama tanpa kekerasan. Apa sebenarnya Islam wasathiyyah yang dimaksud MUI tersebut?

Wasatiyyah adalah sebuah kerangka berpikir, bersikap dan bertingkah laku yang ideal, penuh keseimbangan dan proposional dalam syariat Islam dan seharusnya tertanam dalam pribadi Muslim. Arus wasathiyyah dipopulerkan oleh Dr. Yusuf Qardhawi, cendekiawan Muslim dari Mesir yang hijrah ke Qatar.

Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa Islam wasatiyyah bukanlah ide aslinya tapi merupakan sebuah prinsip dasar yang melandasi semua ajaran Islam, baik aqidah, syariah maupun akhlak.

Menjadi wasathiyyah berarti menyediakan ruang terbuka yang tepat dan nyaman untuk siapapun termasuk agama lain. Sikap ini akan membuat mereka yakin bahwa Islam hanya membawa kebaikan dan kita bisa meniru Rasulullah Saw. yang rahmatan lil’alamin.

Indonesia dianggap sebagai negara yang dikenal paling berhasil dalam menjinakkan gerakan teroris jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah. Hal ini mengundang para ulama dunia untuk melihat dari dekat bagaimana kehidupan beragama di wilayah Indonesia yang dikenal karena memiliki tradisi gotong royong, toleran, dan dialog baik antar sesama umat Islam yang berbeda mazhab, bahkan dialog lintas agama.

Islam wasatiyyah memiliki dasar normatif-teologis yang tercantum dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat al-Baqarah ayat 143. Islam wasathiyyah juga pernah dibuktikan dalam sejarah Islam baik semasa hidup Rasulullah Saw., juga semasa abad pertengahan.

Wajah Islam saat itu begitu toleran, akomodatif, dan apresiatif terhadap budaya luar. Hal tersebut menandakan bahwa Islam telah membuktikan dirinya sebagai penggerak peradaban.

Dalam esai berjudul Watasiyyat Islam (2018), Komaruddin Hidayat mencontohkan Islam wasatiyyah terlihat di Indonesia dengan kehadiran Islam ke Nusantara melalui jalan damai.

Hingga saat ini, warisan Hindu-Buddha seperti candi Borobudur dan Prambanan tetap dipelihara dengan apik, baik oleh pemerintah dan masyarakat sekitarnya yang beragama Islam.

Selain itu, masyarakat Islam juga ikut menjaga kelestarian tradisi Hindu Bali dan beberapa aliran kepercayaan lokal yang ada di Nusantara. Islamisme, nasionalisme, dan modernisme. Hal paling fenomenal dan historis ialah pembentukan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Pancasila adalah pertemuan dan kompromi antara Islamisme, nasionalisme, dan modernisme. Sebagai warga negara mayoritas dengan sederet nama pejuang kemerdekaan ialah tokoh-tokoh Islam, umat Islam di Indonesia tetap menganut paham demokrasi atau republik, bukan negara Islam (Islamic State).

Kerukunan yang terjadi didukung oleh negara yang juga tetap peduli pada kehidupan beragama. Kita patut bersyukur, kehidupan agama di Indonesia dipayungi oleh Pancasila dan dilindungi Undang-undang.

Maka, tak berlebihan apabila Pancasila disebut sebagai jalan tengah sebuah ijtihad dan eksperimentasi sejarah antara keislaman dan kebangsaan, antara islamisme dan nasionalisme.

Komaruddin Hidayat menambahkan bahwa Pancasila adalah landasan bersama atau bisa disebut sebagai kalimatun sawa’ untuk mengakomodasi dan melindungi keragaman etnik, agama, dan kepercayaan penduduk Nusantara yang sangat plural.

Dalam naungan Pancasila, semua warga negara memiliki kedudukan sama di depan hukum. Pancasila sejalan dengan Islam wasatiyyah yang menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta di mana rahmat Islam berlaku bagi seluruh umat manusia sekaligus binatang.

Oleh karena itu, Islam wasathiyyah harus saling menyayangi dan berbagi, bukan malah melakukan tindakan kekerasan yang bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad Saw.

Baca: Kajian Rumahan: Beragamalah dengan Riang Gembira, Karena Islam Itu Kabar Gembira

Berjihad Merajut Perdamaian

Musdah Mulia, seorang aktivis perempuan, peneliti, konselor, dan penulis di bidang agama Islam serta Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Sekretaris Jendral ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), dan pernah menjabat sebagai Ahli Peneliti Utama Bidang Lektur Keagamaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama memaparkan tentang berjihad merajut perdamaian.

Musdah merujuk ke berbagai ayat di Al-Qur’an dan hadits sahih. Saat menjelaskan arti “jihad” yang sebenarnya, dan apa yang dimaksud dengan “kafir”, ia menyatakan bahwa ada 48 makna “kafir” dalam al Qur’an. Penjelasan tersebut tercantum dalam buku Ensiklopedi Muslimah Reformis (2020) dalam bab Berjihad Merajut Perdamaian yang serupa dengan judul acara.

Musdah menambahkan bahwa apa yang sering dikumandangkan yakni “Amar Ma’ruf” dan “Nahi Munkar” yang seringkali digunakan untuk memaksakan kehendak demi kepentingan kelompok tertentu mesti dimaknai kembali dan diingatkan kembali tentang maksud dan arti yang sebenarnya.

Salah satu arti kata kafir adalah mereka yang tertutup hatinya dari kebenaran. Maka, arti tersebut juga berlaku untuk umat Islam sendiri, misalnya dalam tindakan korupsi yang menggunakan uang rakyat dengan semena-mena dan para manusia yang mengeksploitasi alam habis-habisan hanya demi kepentingannya sendiri.

Musdah Mulia melanjutkan dengan pemaparan tentang kata jihad. Jihad adalah upaya untuk mendorong umat mencapai puncak kejayaan kebudayaan dan peradaban. Misalnya, peranan Ibnu Sina di bidang kedokteran di abad ke-10/11;  Al-Khawarizmi di bidang matematika, geografi, astronomi di abad-8/9; Ibnu Kaldun di bidang sejarah dan sosiologi Islam di abad ke-14 dan lain-lain.

Kata jihad akan bermakna positif-konstruktif saat diartikan dalam pengertian meningkatkan kualitas diri dan masyarakat. Oleh karena itulah umat Islam dikenal sebagai masyarakat rahmatan lil’alamin. Kata jihad lalu mengalami degradasi makna. Saat ini, jihad hanya diartikan sebagai perintah perang yang seringkali berakhir dengan penghancuran peradaban manusia.

Selanjutnya, Musdah Mulia menjelaskan tentang amar ma’ruf yang merupakan upaya-upaya transformasi untuk meningkatkan kualitas diri, fisik, intelektual, emosi dan spiritual, dan kudhu diberlakukan kepada diri sendiri terlebih dahulu.

Sementara itu, nahi munkar adalah upaya memanusiakan manusia atau humanisasi.  Melalui edukasi, advokasi, pelatihan, ini semua adalah upaya untuk mengeliminasi semua bentuk eksploitasi, dominasi satu pihak terhadap yang lain, dan segala manifestasi ketidakbenaran.

Menurut Musdah Mulia, kedua hal tersebut harus dilakukan setiap Muslim untuk diri sendiri secara kontinu, tidak henti-hentinya. Is berpesan agar memulai berjihad dengan diri sendiri dahulu.

Kalau terhadap orang lain, baik Muslim maupun non-Muslim, sudah banyak hadits yang mensyaratkan bahwa seorang Muslim harus bersikap hati-hati dan hanya boleh dengan maksud membantu atau melindungi.

Sebagai khalifahNya di bumi, manusia pun harus berjihad untuk alam semesta, sebab manusia punya tanggungjawab mengelola dan menjaga kelestarian alam semesta dan bumi tempat manusia hidup.

Musdah juga menjelaskan bahwa jihad akbar yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. adalah jihad melawan atau memerangi hawa nafsu. Jihad dalam artia inilah yang paling sulit, sebab harus melawan godaan diri sendiri yang berusaha menjustifikasi tindakan-tindakan yang dilakukan dengan logis atau akal.

Musdah mulia menyimpulkan dalam pemaparan tentang berjihad merajut perdamaian bahwa jihad menurutnya adalah upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan semua potensi baik lahir dan batin, namun tetap mengedepankan cara-cara yang santun dan beradab, baik secara individu maupun komunal.

Baginya, hal tersebut mesti dilakukan untuk mengeliminasi segala bentuk ketidak adilan, kezaliman, diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap sesama manusia, khususnya kelompok rentan, maupun terhadap alam semesta.

Demikian penjelasan tentang pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang berangkat dari cara Rasululllah Saw. dalam melaksanakan dakwah yang tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Beliau justru menyampaikan pesan damai dan kesetaraan antarsesama manusia dalam setiap dakwahnya.

Konsep Islam Wasathiyyah di Indonesia yang menerapkan perdamaian dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar juga tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Wallahu A’lam Bissawab.

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here