#TanyaBincangSyariah: Benarkah Jenazah Orang Musyrik Tak Perlu Dimuliakan?

1
17

Pertanyaan

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Mimin saya mau bertanya. Benarkah bahwa jenazah orang musyrik tak perlu dimuliakan? Sekian pertanyaan dari saya. Terima kasih.

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Jawaban

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Terkait pertanyaan apakah harus memuliakan jenazah orang musyrik atau tidak, kita mesti memahami terlebih dahulu makna kata “musyrik”. Sebab, menganggap orang lain musyrik secara sembarangan adalah hal yang cukup problematis.

Larangan Melaknat

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa salah satu hal yang jangan sampai dilakukan oleh lisan adalah melaknat atau berdoa agar dijauhkan dari hal-hal yang baik.

Laknat yang dimaksud bisa ditunjukkan pada manusia, hewan, atau bahkan makanan. Saat Nabi Muhammad Saw. disuguhi makanan yang tidak disukai, beliau cukup meninggalkannya dan tidak mencaci atau melaknati makanan tersebut.

Dalam sumber lainnya, Imam Nawawi dalam Syarah Bidayatul Hidayah juga menjelaskan tentang larangan melaknati manusia yang memasukkan selain orang Muslim seperti orang Yahudi.

Beliau mencontohkan kalimat yang tidak boleh diucapkan sebagai berikut: “Semoga zaid dilaknat oleh Allah”. Zaid yang dimaksud adalah orang Yahudi atau non-Muslim.

Mengapa kalimat di atas tidak bisa diucapkan? Sebab, tidak menutup kemungkinan si Zaid tersebut akan masuk dalam agama Islam dan meninggal dalam keadaan yang diridhai oleh Allah Swt.

Imam Nawawi dalam Maraqiyul Ubudiyah juga memperingatkan untuk tidak melaknat seseorang atas dasar tuduhan yang diungkapkan oleh keterangan catatan sejarah. Sebagai misal, kabar yang menyatakan bahwa yang membunuh atau memberi perintah membunuh cucu Nabi yakni Sayyid Husain adalah Yazid bin Mu’awiyah.

Kabar tersebut masih simpang siur. Maka, jangan sampai meyakini bahwa hal tersebut adalah fakta dan membuat seorang Muslim melaknat Yazid bin Mu’awiyah. Sebab, kabar tersebut berbeda dengan kasus pembunuhan Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib oleh Ibn Muljam.

Larangan Menuduh Musyrik

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menerangkan tentang larangan memberi tuduhan atau memberi kesaksian secara meyakinkan bahwa orang lain musyrik, kafir, atau munafik.

Sebab, hal tersebut adalah bentuk ikut campur urusan Allah Swt. dengan hamba-Nya. Imam Al-Ghazali berkata:

وَلَا تَقْطَعْ بِشَهَادَتِكَ عَلٰى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِشِرْكٍ أَوْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ؛ فَإِنَّ الْمُطَلِّعَ عَلٰى السَّرَائِرِ هُوَ اللهُ تَعَالٰى، فَلَا تَدْخُلْ بَيْنَ الْعِبَادِ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالٰى

“Jangan engkau memantapkan kesaksianmu pada salah seorang ahli kiblat, tentang kemusyrikan, kafir atau munafik. Yang mampu melihat apa yang ada dalam hati adalah Allah ta’ala. Maka jangan ikut campur urusan antara para hamba dan Allah ta’ala.”

Dalam kitab Al-Kifayah Syarah Bidayatul Hidayah, Imam Al-Fakihi memberikan komentar bahwa umat Islam tidak hanya dilarang menuduh orang lain musyrik, kafir atau munafik, tapi juga ada larangan menuduh berdasarkan sangkaan semata. Hal tersebut berdasarkan hadis larangan menuduh orang lain kafir.

Menuduh dengan berdasarkan pada sangkaan saja tidak boleh, apalagi menuduh sesama Muslim dengan tuduhan musyrik. Seperti penjelasan Imam Al-Ghazali di atas, Allah Swt. saja yang bisa mengetahui apakah hamba-Nya musyrik atau tidak. Manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

Dalam penjelasan tersebut, Imam Al-Ghazali seakan mengingatkan manusia agar tahu diri dengan batas-batas pengetahuannya. Berbeda dengan Allah  Swt. yang Maha Besar dan Maha Tak terbatas, kemampuan seorang manusia sangatlah terbatas.

Untuk itu, alangkah zalimnya seorang manusia, apalagi sesama Muslim yang menuduh orang lain bahkan saudaranya yang seiman sebagai orang musyrik. Imam Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa perilaku lahiriyah yang menyiratkan kemusyrikan, kekufuran atau kemunafikan tidak bisa menjadi pijakan.

Perilaku-perilaku yang tertangkap indera manusia tidak bisa menjadi landasan bahwa si pelaku memang benar musyrik, kufur atau munafik. Justru, perilaku yang terlihat mungkin saja tidak berhubungan dengan keyakinan musyrik, kufur atau munafik.

Menurut Al-Ghazali, keyakinan adalah tentang apa yang ada dalam batin manusia. Tidak ada yang lebih mengetahui persoalan batin manusia kecuali Allah Swt. Maka, persoalan tentang keyakinan adalah persoalan pribadi antara seorang hamba dengan Allah Swt. yang maha mengetahui apa yang dalam hati manusia.

Hal tersebut menyiratkan bahwa menebak-nebak atau mengklaim telah mengetahui tentang keyakinan seseorang maka sama saja mencampuri urusan Allah Swt. dengan hamba-Nya.

Baca: Benarkah Mencaci Maki Orang Musyrik Bagian dari Jihad?

Kewajiban Mengurus Jenazah

Tajhiz atau mengurus jenazah adalah kewajiban fardlu kifayah. Artinya adalah apabila tidak ada satu orang pun yang mau mengurusi jenazah, maka masyarakat sekitar akan menjadi berdosa.

Tajhiz meliputi memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan. Seluruh madzhab fiqih telah sepakat dengan kewajiban jika jenazahnya adalah jenazah seorang Muslim.

Lantas, bagaimana apabila jenazahnya adalah jenzah orang musyrik atau yang dianggap musyrik yakni seorang muslim yang melakukan dosa besar seperti membunuh orang lain dan membunuh dirinya sendiri?

Pada kasus seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri, para ulama memiliki pendapat yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak terletak pada persoalan menyalatinya, tapi ada dalam pertanyaan:

Apakah seorang Imam (pemimpin) boleh ikut menyalatinya?

Beirkut adalah pendapat tentang hal tersebut:

وَاخْتَلَفُوا فِي الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ ، فَذَهَبَ أَكْثَرُهُمْ إِلَى أَنَّهُ يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَكَانَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الَعَزِيزِ لَا يَرَى الصَّلَاةَ عَلَيْهِ ، وَبِهِ قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ ، وَقَالَ أَحْمَدُ : لَا يُصَلَّي عَلَيْهِ الْإِمَامُ ، وَيُصَلَّي عَلَيْهِ غَيْرُهُ ، وَاحْتَجُّوا بِمَا رَوَي عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَتَلَ نَفْسَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِسْحَاقُ اَلْحَنْظَلِيُّ : إِنَّمَا لَمْ يُضَلِّ عَلَيْهِ تَحْذِيرًا لِلنَّاسِ عَنْ مِثْلِ مَا فَعَلَ

Artinya, “Para ulama berbeda pendapat mengenai penshalatan orang yang meninggal dunia karena bunuh diri. Menurut pendapat mayoritas ulama, ia tetap dishalati. Sedang Umar bin Abdul Aziz tidak berpendapat untuk menshalatinya.

Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai. Imam Ahmad bin Hanbal memiliki pandapat bahwa Imam tidak perlu ikut menyalatinya, sedang yang menyhalatinya adalah selain imam.

Mereka berhujjah dengan riwayat dari Jabir bin Samurah yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki yang mati karena bunuh diri kemudian Nabi Muhammad Saw. tidak menshalatinya.

Menurut Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad Saw. yang tidak ikut menshalati jenazah itu pada dasarnya merupakan peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.”

Perintah Nabi untuk menyalatkan jenazah namun beliau sendiri tidak ikut menyalatkan ternyata bukan hanya terjadi pada kasus bunuh diri, namun juga pada kasus matinya seseorang yang melakukan dosa besar lainnya seperti zina.

Sekian penjelasan tentang bagaimana sebaiknya mengurus jenazah orang musyrik. Apa yang perlu digarisbawahi adalah nasihat Imam Al-Ghazali yang mengingatkan umat Islam agar tidak sembarangan menuduh seseorang musyrik bahkan mengklaim jasad seseorang sebagai jenazah orang musyrik.

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bissawab.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here