#TanyaBincangSyariah; Benarkah Bencana Alam di Indonesia Akibat Pemimpin Zalim?

1
12

BincangSyariah.ComAssalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Saya mau bertanya, benarkah bencana alam di Indonesia akibat pemimpin zalim? Saya Mohon penjelasannya, Min.

Waalaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Tak bisa dipungkiri, bencana silih berganti di Indonesia.  Bencana tsunami melanda Aceh dan Banten beberapa tahun silam. Pun gempa bumi yang jamak terjadi menguncang Indonesia. Belum lagi banjir bandang yang rutin menerjang kawasan Indonesia setiap tahun. Imbasnya, jutaan nyawa manusia telah melayang akibat bencana alam.

Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Tak hanya itu, di sisi bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi. Pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Berangkat dari data ini, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat. Pun geografis Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim.

Bencana alam  Menurut Al-Qur’an

Menurut Profesor Quraish Syihab, dalam Alquran terdapat tiga istilah yang menggambarkan tentang bencana alam. Pertama, ada istilah musibah—biasanya dalam KBBI musibah diartikan bencana alam—, Al-Qur’an menggunakan kata musibah ini dalam arti yang negatif, yang menimpa manusia akibat ulahnya.

Walapun sesuatu itu ringan. Misalnya seseorang membuka lampu, kemudian jatuh, dan pecah. Ini juga disebut musibah. Ketika ditimpa musibah ini kita dianjurkan, mengucapkan innalililahi.

Kedua, Al-Qur’an mengggunakan bala. Bala itu ujian.  Bentuk ujian dari Tuhan bisa jadi menimpa orang orang baik dan orang yang buruk. Bala itu bisa positif bisa negatif. Misalnya, Nabi sulaiman yang dianugerahi kekuasaan, kekayaan dan kerajaan yang besar, namun, ia menganggap itu bala buat bagi Nabi Sulaiman.

Allah berfirman dalam Q.S an-Naml ayat 40;

فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ

Artinya: Tatkala Nabi Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.

Dan juga ada firman Allah dalam Q.S Al-Qur’an ayat 155;

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Arti: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ketiga, Al-Qur’an memakai kata bencana yaitu “fitnah”. Pengertian fitnah itu adalah ujian. Baik itu ujian berupa nikmat atau kebaikan,maupun kesulitan, atau keburukan. Ada pun pengertian fitnah adalah Tuhan mengingatkan manusia untuk  berhati-hatilah terhadap fitnah. Fitnah bisa menimpa tidak hanya menimpa orang orang yang berbuat aniaya di antara kamu, tetapi terkadang menimpa orang yang baik.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Q.S al-Anbiya ayat 35;

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 Artinya; Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.

Musibah terjadi karena akibat pemimpin Zalim?

Dalam Al-Qur’an ketika terjadi bencana, seseorang harus intropeksi diri. Seandaikan kita merasakan bahwa terjadinya bencana alam akibat kesalahan dan dosa yang kita lakukan, Islam menyuruh kita memperbaikinya.

Dan bila kita menganggap itu bukan karena kesalahan kita, maka kita  menganggap itu sebagai ujian supaya kita mendapat suatu tempat dan kedudukan di sisi Tuhan.  Allah berfirman dalam Al-Qur’an;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya:Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka itu belum diuji.

Menurut Quraish Shihab dalam Shihab dan Shihab Bincang-Bincang Seputar Tema Populer Terkait Ajaran Islam, menjelaskan larangan menuding seseorang akibat bencana. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah mengecam sekelompok umat terdahulu, karena mereka beranggapan Nabi mereka penyebab mereka mengalami sial dan musibah.

Allah berfirman dalam Q.S Yasin ayat 18;

قَالُوٓا۟ إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا۟ لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya; Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.

Pun dalam Al-Qur’an tak terdapat ayat yang menjelaskan tentang penyabab bencana adalah pemerintah yang zalim. Al-Qur’an menjelaskan penyebab bencana karena manusia mengekploitasi alam. Sehingga terjadi bencana ekologi.

Allah berfirman ;

ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ

Artinya; Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, sehingga Allahmencicipkan kepada mereka mereka  sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Menurut Ibn A’syur, alam raya telah diciptakan oleh Allah dalam satu sistem yang sangat serasi dan sesuai dengan kehidupan manusia. Sayangnya, manusia melakukan ekploitasi dan berbuat binasa sehingga terjadi kepincangan  dan ketidakseimbangan di dalam  sistem alam semesta.

Termaktub dalam kitab al-Tahrir wa al- Tanwir karya Ibn A’syur,  juz X halaman 111-112, ia berkata;

ويجوز ان يكون المعنى ان الله تعالى خلق العالم على نظام محكم ملاؤم صالح للناس فاحدث الانسان فيه اعمالا سيئة مفسدة

Artinya: Makna ayat (baca; Q.S. ar-Rum; 41) bahwa Allah adalah pencipta alam dengan susunan hukum alam yang sesuai bagi kehidupan manusia, tetapi manusia membuat kerusakan yang merugikan.

Selanjutnya ada juga ayat Al-Qur’an Allah tak akan menurunkan bencana padahal manusia masih ada yang meminta ampun kepada Allah. Dalam Q.S Al-Anfal ayat 33;

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya; Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun

Tak ada ayat yang menyatakan bencana alam di Indonesia terjadi akibat pemerintah zalim. Di Indonesia bencana ada dua macam; bencana alam disebabkan kejadian alam (natural disaster), maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Tak bisa dipungkiri, bencana di Indonesia lebih banyak diakibatkan oleh kelakuan manusia yang mengekploitasi alam secara brutal. Ilegal loging dan pemanasan global, ini mengakibatkan bencana besar.

(Baca:Tafsir Surah as-Rum Ayat 41: Kerusakan Lingkungan di Darat dan Laut Akibat Perbuatan Manusia)

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here