Talak Zhihar dan Warisan Budaya Jahiliyah

3
235

BincangSyariah.Com –  Kasus talak zhihar sudah terjadi sejak masa Jahiliyah. Masyarakat Jahiliyah ketika marah pada istrinya selalu mengucapkan anti ‘alayya ka zhari ummi, bagiku, dirimu itu sama seperti punggung ibuku. Kata zhihar masih satu akar kata dengan kata zhar (punggung).

Pada waktu itu, punggung perempuan merupakan simbol akan keindahan tubuh perempuan yang membuat libido lelaki memuncak. Seperti disebutkan di atas, bahwa tujuan penyamaan diri istri dengan punggung ibu itu sama saja dengan mengharamkan dirinya sendiri untuk berhubungan badan dengan istrinya itu, karena ibu pada masa Jahiliyah pun tidak boleh dinikah apalagi berhubungan badan dengannya.

Pada waktu itu, perkataan anti ‘alayya ka zhari ummi ditujukan untuk memposisikan istri sama seperti ibu kandung. Artinya, ketika seorang lelaki mengatakan perkataan di atas tidak lagi boleh menggauli istrinya untuk selama-lamanya. Hal ini sebagaimana seorang anak dilarang menggauli ibu kandungnya sendiri.

Selain itu, suami juga tidak lagi bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya. Tradisi buruk yang merugikan perempuan ini juga terjadi pada masa Nabi yang kemudian menyebabkan turunya surah al-Mujadalah ayat pertama.

Waktu itu istri sahabat Aus bin Shamit, Khaulah, mengadu pada Rasul atas perbuatan suaminya yang semena-mena men-zhihar-nya, sementara Khaulah memiliki anak banyak, dan dia juga masih cinta pada suaminya.

Bila tradisi zhihar yang berlaku pada masa Jahiliyah masih berlaku pada masa Islam tentu hal tersebut merugikan banyak sekali perempuan. Konon, Aus bin Shamit marah sampai men-zhihar istrinya gara-gara tidak mau diajak berhubungan badan. Padahal waktu itu Khaulah baru selesai dari salat.

Tradisi zhihar pada masa Jahiliyah seperti yang disebutkan di atas sudah ditinjau ulang semenjak surah al-Mujadalah ayat 1-4 turun. Turunya surah itu untuk merespon curhat Khaulah kepada Nabi saat suaminya men-zhihar dirinya.

Baca Juga :  Membincang Anjuran Memotong Kuku dan Rambut saat Hendak Berkurban

Sejak saat itu, suami yang melakukan zhihar pada istrinya hanya diwajibkan membayar kafarat. Namun men-zhihar istri itu termasuk dosa besar. Sementara itu, pembayaran kafarat dapat dilakukan sesuai kemampuan suami, bisa membebaskan budak mukmin perempuan, puasa dua bulan berturut-turut, memberi makan kepada enam puluh fakir miskin.

Saya kira tradisi talak zhihar ini tidak berlaku di Indonesia, karena tidak dikenal dalam kebudayaan Indonesia. Bahkan Ibnu Asyur menyebutkan bahwa tradisi zhihar itu hanya dikenal oleh masyarakat Madinah (Yatsrib) saja, tidak dikenal di Mekah.

Bila kita membaca ulang hukum-hukum Islam yang diajarkan Nabi tidak jarang yang berupa respon terhadap budaya-budaya jahiliyah, termasuk talak zhihar ini. Hanya saja, Nabi berupaya untuk menjadikan Islam ini sebagai agama yang humanis, dan dapat merespon terhadap budaya-budaya yang mengakar di masyarakat.

Bayangkan, jika talak zhihar seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah tidak direvisi oleh Nabi, maka banyak wanita yang dirugikan. Ini sama artinya, Nabi juga sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan di mata hukum.

Selain itu, pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari kasus talak zhihar ini adalah umat Islam harus berpikir inovatif dan solutif menanggapi permasalahan sosial-budaya yang berlaku di masyarakat sekitar sebagaimana yang Nabi lakukan.

Nabi tidak menghapus tradisi zhihar yang sudah mengakar di masyarakat Jahiliyah itu, tetapi justru Nabi mencarikan solusi agar talak zhihar itu tidak merugikan perempuan. Budaya yang sudah mengakar di masyarakat itu cenderung susah untuk dihilangkan. Karenanya, kita tidak perlu menghapus budaya yang sudah mengakar di masyarakat, apalagi budaya itu positif. Jika budaya yang mengakar itu negatif, maka yang perlu kita carikan solusinya. Bukan menghujat, apalagi mengharamkannya tanpa solusi.

3 KOMENTAR

    • tapi tetap ya, saya belum memahami dari beberapa poin tulisan di atas. pertama, Rasulullah memberikan solusi, solusinya apa?. kedua, setelah saya buka surat al-mujadalah ayat 1-4, disana saya menemukan bahwasanya ada dua hukuman bagi siapa yang melakukan zhihar, yaitu memerdekan budak jika tidak mampu puasa dua bulan berturut-turut, apakah maksud anda ini adalah sbuah solusi?. ketiga, sayamsih belum paham batasan mana budaya mana agama, klo anda mengatakan ini unsur budaya, adakah ciri-ciri dari sesuatu kalau itu harus dihhukumi dari sisi budaya?
      terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.