Takzir dengan Membayar Uang, Apakah Boleh?

1
1249

BincangSyariah.Com –Sering kita jumpai di lembaga pendidikan sebuah peraturan yang mewajibkan peserta didiknya untuk membayar sejumlah uang jika melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Ini dilakukan agar peserta didik patuh terhadap aturan dan sebagai ta’zir bagi para pelanggarnya. Sebenarnya, apakah boleh ta’zir dengan membayar uang? Bagaimana hukumnya?

Kebanyakan ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ta’zir dengan membayar uang atau mengambil harta benda tidak diperbolehkan. Mereka berpendapat bahwa ta’zir atau denda tidak diberlakukan dengan mengambil uang atau harta, melainkan diberlakukan sebatas pada hukuman raga atau fisik. Hal ini karena tujuan ta’zir adalah mendidik, bukan merusak atau mengambil uang dan harta benda.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub berikut;

ولا يجوز التعزير بحلق اللحية ولا بأخذ المال

“Tidak boleh menta’zir (menghukum) dengan mencukur jenggot atau dengan mengambil harta.”

Imam al-Baihaqi dalam kitab Sunan al-Kubra juga menyebutkan pendapat Imam Syafii yang tidak membolehkan ta’zir dengan membayar uang atau mengambil harta. Beliau berkata;

قال الشافعي: لا تضعف الغرامة على أحد في شيء إنما العقوبة في الأبدان لا في الأموال

“Imam Syafii berkata, ‘Denda tidak diperlakukan dengan mengambil sesuatu, hukuman diperlakukan sebatas pada raga, bukan pada harta.”

Di sisi lain, sebagian ulama Hanafiyah membolehkan ta’zir dengan membayar uang atau mengambil harta, dengan catatan dikembalikan lagi pada pemiliknya setelah dia bertobat. Dalam kitab al-Fiqh ‘ala Mazahibil ‘Arba’ah disebutkan sebagai berikut;

واجاز بعض الحنفية التعزير بالمال على انه اذا تاب يرد له

“Sebagian ulama Hanafiyah membolehkan ta’zir dengan cara mengambil harta namun wajib dikembalikan apabila pelakunya telah bertobat.”

Sementara itu, sebagian tabi’in dan Syaikh Abdul Qohir al-Maghribi membolehkan ta’zir dengan mengambil harta dan tidak perlu dikembalikan pada pemiliknya meskipun dia bertobat. Akan tetapi harta tersebut digunakan untuk kepentingan umum atau dimasukkan ke kas lembaga. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Yaqutun Nafis berikut;

Baca Juga :  Cara Menyucikan Air Sumur yang Terkena Najis

ﻭﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺑﺎﻟﻐﺮﺍﻣﺔ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ؟ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻻ ﺗﺠﻴﺰ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺑﺎﻟﺘﻐﺮﻳﻢ ﻟﻜﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑﻲ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺯ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻻ ﺗﻌﻮﺩ ﺍﻟﻐﺮﺍﻣﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺘﻀﺮﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﻳﻤﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻌﻮﺩ ﺍﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ

“Apakah boleh ta’zir dengan hukuman harta? Empat mazhab tidak membolehkan ta’zir dengan mengambil harta, akan tetapi sebagian tabi’in dan Syaikh Abdul Qohir al-Maghribi mengatakan boleh. Mereka  mengatakan, harta tersebut tidak perlu dikembalikan pada orang yang telah melanggar aturan, namun dikembalikan pada baitul mal (kas umum).”

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here