Takhalli, Tahalli, dan Tajalli; Tiga Cara Sufi Mencapai Kesucian Jiwa

3
20961

BincangSyariah.Com – Meregangkan jari tangan sendiri saja bayi yang baru lahir tidak mampu. Jerit tangis adalah satu-satunya modal yang bisa dilakukan bayi agar orang lain yang mendengar tangisnya tergerak dan bersikap iba. Bayi tidak punya kuasa membuat orang lain mengerti bahwa dirinya sedang lapar atau membutuhkan pelukan kasih-sayang kecuali dengan jerit dan tangis. Artinya, manusia sedari awal terlahir sebagai mahkluk yang lemah tanpa daya tapi bukan mustahil untuk menjadi pribadi yang sempurna (Insan al-Kamil).

Oleh sebab itu, amat tercela apabila manusia hanya dapat meratapi dan menetapi ketidak-berdayaan mengingat sakralnya tanggungjawab manusia yang diembankan Tuhan, khalifah fil ardh atau wakil Tuhan di bumi. Ikhtiyar atau usaha merupakan keterdesakan yang harus dikerahkan dan dibina oleh seluruh manusia untuk merampungkan tugas dan tanggung jawabnya dengan prima. Manusia mengandalkan pada ketentuan Tuhan sejak zaman azali (baca: takdir) semata jelas tengah melenceng dari kodrat.

Manusia dikodrati oleh Tuhan kecenderungan untuk berubah. Itulah mengapa Tuhan tidak akan mengubah suatu keadaan selama perubahan itu tidak dimulai oleh manusianya (QS. ar-Ra’ad: 11). Akidah Islam menegaskan bahwa qudrat (kuasa) dan iradat (kehendak) Tuhan bertautan erat dengan hal-hal yang mungkin. Adapun kemungkinan-kemungkinan bisa terrealisasi tentu memerlukan hukum kausalitas atau yang lumrah disebut dengan sebab dan akibat. Singkatnya, perubahan akan terjadi apabila disertai perbuatan nyata.

Dua tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sangat menggandrungi gerakan hijrah. Sebuah gerakan yang mengajak manusia untuk kembali ke jalan yang diridhai Tuhan. Hingga kini animo hijrah tetap menyala dan semoga tidak pernah menemui keredupan. Lewat gerakan tersebut banyak kalangan aktris perempuan mengenakan hijab bahkan tidak sedikit artis papan atas yang memilih menjadi mualaf, Dedy Corbuzer salah satunya.

Baca Juga :  Pesan Imam Al-Mawardi: Beragamalah dengan Akal dan Hati Nurani

Lain dari pada itu, di antara pemuda-pemudi kita saat ini ada yang semakin menunjukkan penyimpangan dengan tindak-tanduk yang amoral. Bisa dibilang, hampir setiap hari kita melihat, mendengar, dan membaca informasi tentang penggerebekan muda-mudi yang bermesraan tanpa ada ikatan yang sah secara Agama. Hasrat primitif lebih dilayani oleh sebagian mereka sehingga yang mengemuka adalah sifat-sifat kebinatangan. Na’udzubillah.

Ada yang alpa dalam diri kita khususnya pemuda-pemudi dewasa ini. Oleh karena nafs al-lawwamah (nafsu pengekskusi) lebih condong dan sibuk melayani nafs al-ammarah (nafsu tercela) dari pada nafs al-muthmainnah (nafsu terpuji). Jika kecondongan semacam ini dibiarkan, alih-alih menjadi manusia yang perfek justru kian terpuruk dilembah kecacatan moral. Dengan moral yang cacat jangan harap masa depan cerah di dunia dapat digapai apalagi di singgasana akhirat kelak.

Menjadi pribadi perfek tidak bisa diukur dengan meteran apapun. Sebab perfek yang dimaksud yaitu bagaimana agar prilaku manusia tidak memunggungi tatasusila dan tetap selaras dengan limit-limit aturan Agama. Tidak ada sesuatu yang lebih sempurna melampaui kepatuhan terhadap rambu-rambu Agama dan tidak menyalahi tata susila.

Maka yang harus hadir dan dilakukan manusia untuk mencapai keperfekan (insan al-kamil) sekurang-kurangnya ada tiga hal seperti yang dicontohkan kaum sufi terdahulu. Pertama, mengosongkan atau membersihkan jiwa (takhalli). Setiap orang memiliki kecenderungan yang berpotensi membuat kotor jiwa atau rohaninya. Kotoran jiwa seperti hubbub ad-dunya (cinta dunia), panjang angan-angan (thulu al-amal) dan sejenisnya harus dibersihkan karena ia hanya hanya menjadi tabir penghalang bagi manusia untuk lebih memesrai Tuhannya.

Kedua, memperindah diri (tahalli). Selama ini manusia hanya sibuk mempermak fisik dan lalai pada keindahan jiwa. Tidak sedikit di antara kita yang meluangkan waktu lama bersolek di depan cermin namun tergesa-gesa tatkala sedang berada di atas sajadah beribadah kepada Tuhan. Padahal kecantikan jiwalah yang kelak dapat mengantarkan manusia keindahan yang hakiki yakni perjumpaan hamba dengan sang Maha Indah kelak dalam kahyangan surgaNya.

Baca Juga :  Hasud Dapat Merusak Iman

Ketiga, menyambungkan diri dengan Tuhan (tajali). Seorang hamba yang menempuh jalan tajali akan mengarahkan sejauh mata memandang selalu bermuara pada keindahan Tuhan, kemuliaanNya, kasih-sayangNya, kebaikanNya, kekuasaanNya, dan seterusnya. Manusia yang sudah nyambung dengan Tuhan mengerahkan seluruh panca indra bergerak ke satu arah titik focus yakni, hanya dari, untuk, dan kepada Tuhanlah kehidupan yang senyata-nyatanya.

Bergembiralah dan tautkan seluruh ikhtiyar kita pada tiada daya dan upaya kecuali dengan Tuhan (La haula wala quwwata illa billah) sembari menanamkan dalam hati sesungguhnya kami milik Tuhan dan kepadaNya akan berpulang (Inna lillahi wainna ilaihi rajiun).

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here