Takdir dan Usaha Manusia Menurut Imam Abul Hasan al-Asy’ari

2
2986

BincangSyariah.Com – Persoalan takdir atau masalah qadha dan qadar merupakan persoalan pelik yang menggayut dalam pemikiran para filosof dan teolog Islam sepanjang masa. Yang dipersoalkan dalam konsep ini mengenai usaha manusia. Apakah manusia itu dalam melakukan tindakan-tindakannya di alam ini bebas berkehendak (mukhayyar) ataukah sudah ditentukan oleh Allah (majbur)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, umat Islam terbagi menjadi dua: pertama, Qadariyyah yang mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan dan dipilih oleh manusia sendiri bukan oleh Tuhan dan kedua, Jabariyyah yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia semuanya sudah ditakdirkan dan ditentukan oleh Tuhan.  Namun ada aliran Islam yang mencoba mendamaikan dua kecenderungan pemikiran yang kontradiktif ini, namanya ialah al-Asy’ariyyah. (Baca: Pelaku Dosa Besar dalam Mazhab Teologi Islam)

Al-Asy’ariyyah mencoba menengahi dua kutub yang bertentangan dengan mengetengahkan konsep kasb, yakni bahwa Tuhan menciptakan perbuatan  (af’al al-ibad) sedangkan manusia diberi kemampuan untuk memperoleh implikasi dari perbuatan tersebut. Jadi perbuatan itu sendiri sudah tercipta sedangkan manusia tinggal memperolehnya saja dengan kemampuan yang dimilikinya. Ringkasnya Allah menciptakan perbuatan sedangkan manusia, dengan kemampuan yang tercipta dalam dirinya, memperoleh hasil perbuatan tersebut, entah yang baik ataupun yang buruknya.

Dengan hasil/dampak/implikasi yang diperoleh dari perbuatan yang tercipta oleh Allah ini, manusia dengan sendirinya memiliki tanggung jawab atas apa yang diperolehnya ini, entah pahala atau dosa. Jadi inti yang paling mendasar dari konsep ini ialah bahwa tidak ada yang mencipta dan memperbuat sesuatu kecuali oleh Allah. Melalui konsep penciptaan oleh Allah yang sangat sentral dan melalui konsep kasb seperti ini, mungkin kita bertanya-tanya bagaimana mungkin manusia bisa memperoleh implikasi dari perbuatan yang diciptakan oleh Tuhan sementara di saat bersamaan ia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya? Haruskah manusia diberi pahala dan disiksa karena perbuatan yang diciptakan Tuhan?

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Apa Tugas-tugas Para Malaikat itu?

Singkatnya manusia harus bertanggung jawab atas dampak baik dan buruk dari semua perbuatan yang diciptakan Tuhan. Jadi dalam kasb ini, jelas ada kontradiksi yang cukup nyata, dan bahkan mungkin cenderung ke konsep ketidakbebasan manusia seperti yang digaungkan oleh teologi Jabariyyah. Sebab, teologi ini membasiskan diri pada konsep la fa’il illa Allah (tidak ada yang menciptakan perbuatan kecuali Allah).

Adalah Imam Abu-l Hasan al-Asy’ari yang pertama kali mengetengahkan konsep ini dalam kitab Maqalat al-Islamiyyin yang kemudian dikembangkan lagi oleh al-Baqillani dalam kitab at-Tamhid fi Ilmil Kalam dan oleh al-Juwaini dalam kitab as-Syamil. Banyak ahli yang mengkritisi konsep kasb al-Asya’riyyah ini karena ulasan mereka tentang kasb bukannya memperjelas malah membikin ambigu.

Bahkan kalau kita baca kamus-kamus idiom bahasa Arab, akan kita temukan idiom yang bunyinya akhfa min kasbil asy’ariyyah yang artinya ‘lebih samar/lebih tidak jelas dari konsep kasbnya aliran Asy’ariyyah’. Idiom ini digunakan orang Arab ketika mereka menemukan persoalan yang ambigu, atau rumit dipecahkan, lalu mengucapkan idiom seperti ini.

Al-Asy’ari seperti yang dikutip oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal menjelaskan konsep kasb demikian:

“أن الله تعالى أجرى سنته أن يخلق عُقيب القدرة الحادثة، (أي التي يحدثها في الإنسان) أو تحتها أو معها، الفعلَ الحاصل إذا أراده العبد وتجرد له، وسمَى هذا كسبا، فيكون خلقا من الله تعالى إبداعا وإحداثا، وكسبا من العبد حصولا تحت قدرته”

“Allah SWT menjalankan hukum-hukum yang ditetapkannya, yakni, setelah adanya  kemampuan yang ada dalam diri manusia atau di bawah pengaruh kemampuan atau bahkan bersamaan dengan kemampuan tersebut, Allah menciptakan suatu perbuatan ketika manusia memaksudkannya. Inilah yang disebut sebagai kasb, maksudnya, Allah menciptakan perbuatan sedangkan manusia hanya memperoleh hasilnya dengan kemampuan yang dimilikinya.”

Baca Juga :  Ini Empat Amalan yang Dapat Mengangkat Derajat Seseorang

Jadi paling tidak ada dua hal yang perlu dilihat di sini: pertama, perbuatan yang dicipta oleh Allah dan kedua, kemampuan yang ada dalam diri manusia. Kendati memiliki kemampuan, manusia tetap tidak bisa menciptakan perbuatan-perbuatannya. Yang manusia bisa hanya memperoleh hasil dari perbuatan ini. Untuk itu, as-Syahrastani secara detail mengutipkan kembali pandangan Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam kitab al-Milal wa an-Nihal demikian:

“أصل له مؤداه: لا تأثير للقدرة الحادثة في الإحداث، لأن جهة الحدوث قضية واحدة لا تختلف بالنسبة إلى الجوهر والعرض. فلو أثرت في قضية الحدوث لأثرت في حدوث كل محدَث حتى تصلح لإحداث الألوان والطعوم والروائح وتصلح لإحداث الجواهر والأجسام، فيؤدي إلى تجويز وقوع السماء على الأرض بالقدرة الحادثة”.

“Meski dalam dirinya tercipta kemampuan, manusia tetap tidak memiliki daya untuk menciptakan perbuatan. Sebab, proses penciptaan tidak jauh berbeda dengan proses yang ada dalam substansi dan aksiden. Jadi proses penciptaan dan proses gerak substansi dan aksiden bisa dibilang masih satu persoalan. Kalau kemampuan ini memiliki pengaruh terhadap proses penciptaan niscaya kemampuan tersebut juga mempengaruhi semua hal yang tercipta. Dari sini dengan kemampuan tersebut, terciptalah oleh manusia berupa warna, bau, dan rasa dan bahkan ia mampu menciptakan substansi dan jisim. Ini semua akan berimplikasi kepada kemungkinan bisa jatuhnya langit ke atas bumi dengan kemampuan yang tercipta yang dimiliki manusia itu.”

Perandaian yang sangat jauh memang kalau dengan kemampuan yang dimilikinya manusia dapat menciptakan perbuatannya sendiri, itu artinya manusia juga bisa menciptakan warna dan seterusnya, sampai langit pun bisa jatuh. Ini kata Abul Hasan al-Asyari.

Jadi singkat kata, dalam pandangan Abul Hasan al-Asy’ari, yang menciptakan perbuatan itu Allah, sedangkan manusia hanya memperoleh hasil perbuatan itu, entah hasilnya berupa kebaikan yang dengannya ia dapat pahala ataupun berupa keburukan dan kejahatan yang dengannya ia mendapat siksa.

Baca Juga :  Najiskah Bulu Ayam yang Dicabut Saat Masih Hidup?

Allahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Dalam tulisan sebelumnya, dijelaskan bahwa manusia dalam teori kasb tidak bisa menciptakan perbuatannya sendiri. Manusia hanya memiliki kemampuan untuk memperoleh hasil perbuatan tersebut. Adapun perbuatan itu sendiri diciptakan oleh Allah. Jadi tanggung jawab manusia terletak pada usahanya dalam memperoleh kebaikan dan keburukan dari perbuatan yang diciptakan Tuhan. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here