Tak Sengaja Memegang Kemaluan Suami, Apakah Wudhu Batal?

0
38

TBincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa di antara hal-hal yang membatalkan wudhu adalah menyentuh kemaluan, yaitu kubul dan dubur, melalui telapak tangan. Namun bagaimana jika tidak sengaja menyentuh kemaluan orang lain tanpa sengaja, misalnya memegang kemaluan suami, apakah wudhu batal? (Baca: Menyentuh Bulu Kemaluan, Apakah Membatalkan Wudhu?)

Terdapat dalam kitab-kitab fiqih bahwa di antara perkara yang membatalkan wudhu adalah menyentuh kemaluan, baik kemaluan diri sendiri atau orang lain, kemaluan anak kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, hidup maupun sudah mati, melalui telapak tangan. Ketika seseorang menyentuh kemaluan diri sendiri atau orang lain, kecil maupun dewasa, baik sengaja atau tidak sengaja, maka wudhunya batal. (Baca: Apakah Menyentuh Kemaluan Hewan Membatalkan Wudhu?)

Oleh karena itu, jika seorang istri memegang kemaluan suami, baik sengaja maupun tidak sengaja, maka wudhunya batal. Tidak ada bedanya sengaja maupun tidak sengaja dalam masalah ini, semuanya sama-sama membatalkan wudhu.

Pendapat Ulama Fikih Mengenai Memegang Kemaluan

Ini sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin sebagai berikut;

الناقض الرابع: مس فرج الآدمي، فينتقض الوضوء إذا مس ببطن كفه فرج آدمي، من نفسه، أو غيره، ذكر أو أنثى، صغير أو كبير، حي أو ميت، قبلاً كان الممسوس أو دبراً

Perkara yang membatalkan wudhu yang keempat adalah menyentuh kemaluan anak adam (manusia). Karena itu, wudhu menjadi batal ketika seseorang menyentuh kemaluan anak adam dengan telapak tangannya, baik kemaluan diri sendiri, orang lain, laki-laki, perempuan, anak kecil, dewasa, hidup atau mati, baik yang disentuh adalah kemaluan depan (kubul) atau kemaluan belakang (dubur).

Terdapat dalam kitab Kasyifatus Saja juga keterangan sebagai berikut;

الرابع مس قبل الآدمي أو حلقة دبره ببطن الراحة أو بطون الأصابع ولو صغيراً أو ميتاً من نفسه أو غيره

Keempat (yang membatalkan wudhu), adalah menyentuh kemaluan depan anak adam atau menyentuh bagian kemaluan belakangnya dengan telapak tangan atau telapak jari-jari, meskipun kemaluan anak kecil, atau kemaluan mayat, kemaluan diri sendiri atau orang lain. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here