Tak Bisa I’tikaf di Masjid karena Covid-19? Ini Solusinya dalam Tinjauan 4 Mazhab Fikih

1
1049

BincangSyariah.Com – Sebagaimana diketahui bahwa syarat dan rukun i’tikaf dalam pandangan jumhur ulama ada 4, yaitu: mu’takif (orang yang beri’tikaf), niat, tempat i’tikaf dan diam di masjid. (Baca: Enam Hal yang Dimakruhkan saat I’tikaf)

Untuk tempat i’tikaf juga telah disepakati bahwa i’tikaf hanya sah bila dilakukan di masjid. Batasan dari suatu tempat disebut masjid yang sah dipergunakan sebagai i’tikaf ini, dalam pandangan Madzhab Hanafi,  adalah:

أن كل مسجد له إمام ومؤذن معلوم وتصلى فيه الخمس بالجماعة

 “Sesungguhnya setiap masjid yang memiliki imam rawatib dan muadzin yang diketahui, serta didirikan sholat 5 waktu secara berjamaah di dalamnya” (Ibn Nujaim al-Mishry, Al-Bahru al-Raiq Syarh Kanz al-Daqaiq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 2, halaman 526)

Pendapat ini disandarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا اعتكاف إلا في مسجد له أذان وإقامة

“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang disitu dikumandangkan adzan dan iqamah.” (Ibn Nujaim al-Mishry, Al-Bahru al-Raiq Syarh Kanz al-Daqaiq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 2, halaman 526)

Menurut kalangan Malikiyah yang diwakili oleh Al-Dasuqy disebutkan bahwa batasan dari suatu tempat disebut masjid adalah masjid secara mutlak, artinya pokok di situ bisa didirikan sholat, meski tidak sholat lima waktu, atau sholat jum’at. Keharusan di masjid jami’ hanya berlaku bagi laki-laki ahl al-jum’ah, oleh karenanya ia wajib i’tikaf di masjid jami’ manakala i’tikafnya dilakukan di hari jum’at. Satu catatan yang tidak boleh dilupakan bagi Madzhab Maliki adalah bahwa orang yang beri’tikaf harus dalam kondisi puasa.

بمطلق مسجد مباح، لا بمسجد بيت ولو لامرأة إلا لمن فرضه الجمعة

“Pokoknya masjid secara mutlak dan mubah (diwakafkan/diidzinkan), akan tetapi bukan masjid rumah meskipun bagi perempuan. Kecuali untuk laki-laki yang memiliki kewajiban jum’ah (maka harus di masjid jami’). (Muhammad ‘Irfah al-Dasuqy, Hasyiyah Al-Dasuqy ala Al-Syarhi al-Kabir, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Juz 2, 181).

Menurut kalangan Syafi’iyah, qaul mu’tamad dalam qaul jadid Imam Syafii  menyebutkan harus di masjid jami’ sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

لا يصح الاعتكاف من الرجل ولا من المرأة إلا في المسجد، ولا يصح في مسجد بيت المرأة ولا مسجد بيت الرجل، وهو المعتزل المهيأ للصلاة

“I’tikaf seorang laki-laki dan seorang perempuan hanya sah bila di masjid. Oleh karenanya tidak sah untuk seorang perempuan i’tikaf di masjid rumahnya, demikian pula seorang laki-laki tidak sah i’tikaf di masjid rumahnya. Karena masjid rumah adalah masjid terpisah yang disiapkan untuk sholat semata.” (Al-Majmu Syarah al-Muhadzab, Juz 6, halaman 505).

Adapun menurut pendapat qaul qadim, untuk kaum perempuan boleh beri’tikaf di masjid rumahnya.

أصحهما وهو الجديد هذا (والثاني) وهو القديم: يصح اعتكاف المرأة في مسجد بيتها

“Pendapat yang paling shahih adalah qaul jadid. Pendapat yang kedua adalah qaul qadim, yaitu sah i’tikafnya perempuan di masjid rumahnya.” (Al-Majmu Syarah al-Muhadzab, Juz 6, halaman 505).

Akan tetapi pendapat ini diingkari oleh Syeikh al-Qadli Abu Thayib. Oleh karenanya, pendapat yang diqaul qadim ini dianggap sebagai pendapat yang lemah. Akan tetapi, pendapat ini merupakan yang banyak diikuti oleh kalangan Syafiiyah dari Khurasan dan Iraqiyyun.

Menurut kalangan Hanabilah, i’tikaf hanya sah bila dilakukan di masjid secara hukman dan haqiqatan, yaitu tempat yang di situ didirikan sholat berjama’ah, dan secara hukum tempat itu dihukumi sebagai masjid. Berdasarkan kriteria hukman dan haqiqatan ini, maka masjid rumah, adalah bukan termasuk bagian dari masjid secara hukum dan haqiqi dalam Madzhab Hanbali. Dengan demikian, tidak bisa dijadikan sarana beri’tikaf di dalamnya.

Bagaimana cara kita agar tetap bisa mendapatkan pahala i’tikaf di tengah situasi Covid-19?

Jika kita merujuk pada pendapat kalangan Hanafiyah, maka i’tikaf boleh dilakukan di masjid rumah, khususnya bagi seorang muslimah. Mengapa? Karena kriteria masjid menurut pandangan Hanafiyah ini adalah tempat yang di situ senantiasa didirikan sholat berjamaah 5 waktu. Seorang suami istri, yang biasa melakukan sholat berjamaah di rumahnya bersama dengan anak-anaknya maka baginya sudah boleh beri’tikaf di tempat yang ia sering sholat berjamaah itu. Namun, ini adalah pendapat kalangan Hanafiyah.

Bagaimana agar kita tidak perlu berpindah madzhab, akan tetapi tetap dalam bingkai Madzhab Syafii, misalnya? Dalam bingkai madzhab Syafii, qaul mu’tamad memang menyebutkan bahwa i’tikaf hanya sah bila dilakukan di masjid jami’. Namun, ada catatan dalam qaul qadim bahwa pernah ada pendapat yang mu’tabar dari Imam Madzhab ini yang pernah menyatakan bahwa boleh beri’tikaf di masjid rumah.

Nah, dalam situasi pendemik Covid-19 yang menghendaki Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mana bila kita nekad berkerumun di masjid dengan banyak orang justru rawan dengan tertularnya virus yang berbahaya bagi kesehatan, maka ada baiknya kita mengambil pendapat mu’tabar dari kalangan Madzhab Syafii yang tertuang di dalam qaul qadim, yakni yang menyatakan akan hukum kebolehan beri’tikaf di masjid rumah, khususnya bagi perempuan. Namun untuk laki-laki, sepertinya harus tetap intiqal madzhab ke Hanafiyah, sebab dhahir nash yang dipergunakan dalam qaul qadim hanya menyebut i’tikafnya kaum perempuan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here