Tahukah Kamu Kalau Terjemahan Al-Qur’an di Indonesia Mengalami Beberapa Revisi?

0
1703

BincangSyariah.Com – Biasanya, jika kita tidak menguasai suatu bahasa tertentu pada sebuah teks apapun, semisal buku, maka kita akan mencari terjemahannya atau jika tidak ada, secara perlahan menggunakan bantuan kamus untuk memahaminya, sekaligus perlahan memahami bahasanya. Hal yang sama juga terjadi dalam Al-Qur’an, yang menggunakan bahasa Arab. Ada banyak umat Islam di Indonesia secara khusus yang menjadi terjemahan Al-Qur’an sebagai rujukan utama – atau bahkan tunggal – untuk memahami Al-Qur’an.

Fenomena itu sebenarnya tidak menunjukkan kekeliruan apapun, karena nyatanya memang terjemahan Al-Qur’an dibuat dan dikaji oleh para ulama di Indonesia untuk membantu umat Islam memahami makna Al-Qur’an. Namun, yang perlu diketahui dan menjadi pelajaran bagi umat muslim adalah bahwa ada beberapa saat dimana para ulama di Indonesia mengkaji kembali terjemahan Al-Qur’an kemudian membuat beberapa perubahan atau revisi redaksi terjemahan Al-Qur’an.

Sebelum Pemerintah Indonesia merilis terjemahan Al-Qur’an resmi yang disusun oleh Departeman (sekarang: Kementerian) Agama, sebenarnya ada banyak ulama yang sudah mengeluarkan terjemahan Al-Qur’an hasil mereka sendiri, bahkan sejarahnya dapat ditelusuri hingga abad ke-17.

Syaikh ‘Abdu Ar-Rauf As-Sinkili, lewat karyanya Turjuman al-Mustafid, disebut para pakar sebagai jejak terjemah Al-Qur’an pertama, meski banyak yang tidak sepakat karena yang lain berpendapat beliau juga menafsirkan disana. Di masa itu, banyak juga yang tidak setuju Al-Qur’an diterjemahkan.

Sayyid Usman bin Yahya, ulama yang menyandang sebutan “Mufti Betawi” di awal abad ke-20 itu sempat mengharamkan terjemah Al-Qur’an. Prof. Mahmud Yunus, ulama asal Minangkabau ini juga pernah mengeluarkan terjemah Al-Qur’an berjudul Tafsir Al-Qur’an Karim dan sempat ada yang menyatakan tidak setuju. Seperti yang ia kisahkan dalam mukadimah tafsirnya.

Baca Juga :  Di Ijtima' Ulama Al-Qur'an, Dihasilkan Enam Poin Rekomendasi

Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, memaparkan tentang sejarah revisi terjemahan Al-Qur’an di Indonesia yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Departemen Agama, pertama kali dirilis secara resmi pada tahun 1965.

Kemudian, terjemah Al-Qur’an ini terus digunakan namun mendapatkan banyak masukan dari banyak pihak sehingga mulai dilakukan revisi di tahun 1990. Revisi ini menghasilkan terjemah Al-Qur’an setebal 1294 halaman, karena di dalamnya disertai dengan catatan kaki (footnote) dan sejumlah penjelasan terkait ilmu-ilmu Al-Qur’an (‘ulum al-Qur’an) dan sejarah terjemah Al-Qur’an di dunia.

Kemudian di tahun 2002, terjemahan Al-Qur’an direvisi, diantaranya dengan penghilangan catatan kaki/foonote sehingga terjemah menjadi lebih ramping dengan tebal 960 halaman. Sedangkan, terjemahan yang beredar saat ini adalah terjemahan penyempurnaan dari edisi tahun 2002.

Di tahun 2019 ini, dalam waktu dekat tim pakar dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) akan merilis revisi terjemahan Al-Qur’an setelah dikaji pakar ulama Al-Qur’an dan pakar bahasa Indonesia selama lebih dari setahun. Terjemahan Al-Qur’an ini akan dibahas sebelum diluncurkan pada acara Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an pada 8-10 Juli 2019.

Dr. Muchlis M. Hanafi yang merupakan doktor di bidang Tafsir Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar Mesir ini menegaskan bahwa penerjemahan adalah bagian dari bentuk penafsiran. Karena sifatnya tetap ingin mengantarkan orang memahami Al-Qur’an, khususnya bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab.

“Sesempurna apapun terjemahan Al-Qur’an – tegas Dr. Muchlis – tidak akan mampu mencakup seluruh makna dan pesan di dalam Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an punya karakter hammalun li al-wujuh (satu kata atau redaksi saja, memiliki banyak kemungkinan makna).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here