Tahnik adalah Vaksinasi Islami, Benarkah?

0
441

BincangSyariah.Com – Karena saya bukan dokter, maka artikel ini lebih kepada interpretasi tentang hikmah al-tasyri’ bahwa praktik tahnik (mengunyahkan kurma kepada bayi) itu sebenarnya adalah bentuk vaksinasi, cuma tidak dalam bentuk yang sekarang – yang umumnya menggunakan vaksin suntik dengan dosis tertentu dan kandungan yang tertera cukup gamblang pula. Dan apakah tepat jika tahnik disebut sebagai vaksinasi islami?

Sejujurnya, saya baru mengetahui kalau praktik yang bernama tahnik itu adalah bagian dari sunah Nabi Saw. kira-kira sekitar 3-4 tahun yang lalu. Soalnya, waktu saya mengaji sejak kecil, terutama ketika membahas soal aqiqah, tidak pernah seingat saya mendengar persoalan tahnik ini. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa, wallahu a’lam.

Rupanya, tahnik yang menurut para ulama sebagai kesunahan ini ada dasarnya. Dalam hadis Nabi Saw. Ada banyak riwayat, namun yang paling lengkap ceritanya adalah kisah tentang Abu Thalhah dan istrinya, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Ra. dan terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim :

كان ابنٌ لأبي طَلحَةَ يَشتَكي، فخرَج أبو طَلحَةَ، فقُبِضَ الصبيُّ، فلما رجَع أبو طَلحَةَ قال : ما فعَل ابني، قالَتْ أمُّ سُلَيمٍ : هو أسكنُ ما كان، فقَرَّبَتْ إليه العَشاءَ فتَعَشَّى، ثم أصاب منها، فلما فرَغ قالتْ : وارِ الصبيَّ . فلما أصبَح أبو طَلحَةَ أتَى رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأخبَره،

فقال : ( أَعْرَسْتُمُ الليلةَ ) . قال : نَعَم، قال : ( اللهم بارِك لهما ) . فوَلَدَتْ غُلامًا . قال لي أبو طَلحَةَ : احفَظْه حتى تأتِيَ به النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأتَى به النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأَرسَلَتْ معَه بتمَراتٍ، فأخَذه النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقال : ( أمعَه شيءٌ ) . قالوا : نَعَم، تمَراتٌ، فأخَذها النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فمضَغها، ثم أخَذ مِن فيهِ، فجعَلها فِي فِي الصبيِّ وحَنَّكَه به، وسمَّاه عبدَ اللهِ

‘Dahulu Abu Thalhah memiliki anak yang sedang sakit, kemudian Abu Thalhah keluar. Anaknya itu kemudian meninggal dunia. Ketika Abu THalhah kembali, ia berkata kepada istrinya: “bagaimana anak kita ?” Istrinya, Ummu Sulaim berkata: “dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Kemudian Ummu Sulaim menyajikan makan malam lalu Abu Thalhah makan. Kemudian, Abu Thalhah menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “tutupi anakku (dengan kain kafan)” Ketika pagi tiba, Abu Thalhah menemui Rasulullah Saw. dan menceritakan apa yang terjadi.

Baca Juga :  Hukum Puasa Bagi Sopir Bus Antar Kota

Rasulullah Saw. berkata: “kalian bercinta semalam?” Abu Thalhah menjawab: “iya.” Rasul menjawab: “Ya Allah berkahilah pasangan ini”. Kemudian, Ummu Sulaim melahirkan anak. Abu Thalhah kemudian berwasiat kepada Anas: “jaga dia sampai engkau bisa menemui Rasulullah Saw.” Kemudian Anas bin Malik Ra. menemui Rasulullah Saw. dan dibawakannya beberapa buah kurma.

Kemudian, Rasulullah Saw. menggendongnya dan bertanya, “ada yang dibawa bersamanya?” Orang-orang menjawab: “Iya, ada kurma Ya Rasul.” Nabi Saw. pun menjumputnya kemudian mengunyahnya, lalu beliau ambil dari mulutnya, dan diberikannya kepada mulut jabang bayi dan menggosokkannya di mulutnya. Kemudian memberi nama bayi itu Abdullah.”

Kisah Abu Thalhah ini diriwayatkan dengan beberapa redaksi yang mirip. Salah satu pemahaman yang dapat diambil dari hadis ini adalah disunahkannya melakukan tahnik kepada jabang bayi. Kesunahan ini misalnya disampaikan oleh Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim,

كون التحنيك بتمر وهو مستحب ولو حنك بغيره حصل التحنيك ولكن التمر أفضل

“Tahnik dengan kurma dan (hukumnya) itu dianjurkan/mustahabb. Dan andaikan tahnik dilakukan dengan selain kurma, maka sudah berlaku disebut tahnik meskipun dengan kurma lebih utama.”

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari Syarh al-Shahih al-Bukhari mengatakan:

وأولاه التمر فإن لم يتيسر تمر فرطب وإلا فشيء حلو وعسل النحل أولى من غير

“Dan yang lebih utama itu (tahnik) dengan kurma kering (al-tamr). Kalau tidak mudah (mendapatkannya) kurma kering, bisa pakai kurma basah. Jika keduanya tidak ada, maka bisa dengan sesuatu yang manis. Dan, madu yang manis lebih utama (dari yang lain).”

Tahnik: Vaksinasi Islami, Tepatkah ?

Dari beberapa kutipan yang saya sebutkan di atas mulai dari hadis hingga pendapat ulama, dapat disimpulkan sementara bahwa hukum tahnik ini sunah saja. Namun rupanya, para ulama sendiri masih berbeda pendapat apakah tahnik ini disunahkan bagi semua muslimin atau hanya menjadi kekhususan Nabi Muhammad Saw. saja. Yang berpendapat dengan pendapat kedua, berpandangan kalau tahnik ini adalah bagian dari mengambil berkah (tabarruk) dengan air liur Nabi Muhammad Saw. Karena itu, tahnik tidak lagi menjadi sunah pada saat ini. Ada juga yang berpandangan kalau tahnik ini masih diperbolehkan terutama dengan mengambil keberkahan dari orang-orang saleh.

Baca Juga :  Kritik Kiai Ali Mustafa Yaqub pada Mereka yang Beri'tikaf tanpa Menjaga Kebersihan

Yang jelas, pertimbangan ilmu kesehatan saat ini jika berkaitan dengan cara melakukan tahnik, maka mereka menyimpulkan bahwa itu bisa saja dilakukan namun perlu mempertimbangkan apakah mulut orang yang memberikan tahnik itu terbebas dari kuman atau tidak. Maka, dalam ilmu kesehatan bahkan dilarang jika tahnik diberikan oleh orang yang sehari-harinya merokok. Sementara bayi atau balita masih memiliki sistem imun yang lemah.

Kemudian, terkait tahnik yang bisa menggantikan imunisasi dengan label sebagai imunisasi islami. Secara pribadi, saya bertanya kepada teman saya yang lulusan kedokteran. Pertanyaan yang perlu disampaikan adalah, apakah tahnik sudah sememadai imunisasi yang dilakukan pada bayi dengan beberapa tahap tersebut? Itu pertanyaan pertama.

Pertanyaan kedua adalah sebagian dari mereka yang mencoba menelusuri hikmah dari kesunahan tahnik adalah, tahnik dapat membantu menambah kadar glukosa bagi anak bayi yang ketika lahir glukosanya masih sedikit, sehingga mudah terkena virus. Tapi, seberapa banyak dan efektifkah zat gula yang masuk kedalam tenggorokan bayi? Apakah ia akan sama dengan imunisasi yang cara memasukkannya adalah diinjeksi lewat pembuluh darah?

Kampanye tahnik sebagai pengganti vaksinasi berkembang bersamaan dengan gerakan thibbun nabawi dan gerakan anti-vaksinasi. Asumsinya adalah vaksinasi produk Barat (bahkan Yahudi) justru melemahkan generasi muslim (katanya). Menurut Febryan Hidayat (2016), dalam penelitiannya di Jurusan Tafsir Hadis UIN Walisongo Semarang dengan judul “Hadis Tentang Tahnik (Analisis Pendekatan Ilmu Kesehatan)”, belum ada penelitian bahwa tahnik bisa menggantikan imunisasi.

Tanggapan Pakar Tentang Tahnik

Febryan juga mengutip pendapat dr. Saifuddin Hakim, M.Sc. yang berhasil ia wawancara terkait persoalan tahnik sebagai pengganti imunisasi. dr. Saifuddin adalah penulis buku Imunisasi: Lumpuhkan Generasi? sebagai bentuk kritik terhadap mereka yang berpendapat kalau imunisasi membuat generasi lemah.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip pendapat dr. Saifuddin, ketika ditanya persoalan ini oleh Febryan Hidayat selaku peneliti.

Baca Juga :  Imunisasi Difteri Mengandung Babi, Bagaimana Hukumnya?

Ia menjawab, “Buku Metode Imunisasi Ciptaan Allah, Solusi Islam dalam Imunisasi yang ditulis oleh Dr. Susilorini dapat kita jadikan sebagai sebuah contoh studi kasus. Di buku tersebut, beliau (yang merupakan seoarang dokter) membuat kesan bahwa vaksin adalah intervensi yang tidak bermanfaat dan justru berbahaya bagi kesehatan manusia. Kemudian beliau mengklaim bahwa ajaran agama Islam telah menyebutkan berbagai “vaksin alami” yang dapat menggantikan fungsi vaksin konvensional saat ini, antara lain ASI, taḥnik, bekam, madu, dan sebagainya.

Masyarakat awam yang membaca buku ini, dengan melihat penulisnya adalah seorang dokter spesialis ditambah lulusan magister biomedik, tentu akan mudah percaya dengan pemaparan beliau.

Padahal, apa yang penulis paparkan dalam buku tersebut sebetulnya sangat jauh dari ilmiah, meskipun penulis mencantumkan puluhan referensi jurnal ilmiah di dalam daftar pustaka. Akibatnya, masyarakat pun semakin tertipu dan terperdaya. Oleh karena itu, semoga hal ini menjadi perhatian bagi siapa pun untuk menyampaikan informasi dengan tepat dan akurat, apalagi berkaitan dengan kesehatan.

Kepada masyarakat luas, marilah berpikir kritis. Jangan mudah berdecak kagum atau percaya dengan pemaparan (yang tampaknya) ‘ilmiah’ dan seolah-olah ‘islami’, apalagi dalam bidang kesehatan.”

Tahnik sebagai sebuah sunah memang tidak ada salahnya dilakukan, apalagi jika kita ingin mengambil berkah dengan mengamalkan sunah Nabi Saw. Namun, menyatakannya sebagai bentuk vaksinasi islami yang menggantikan imunisasi yang sudah ada, sebenarnya adalah pendapat yang terburu-buru. Bahkan bisa membahayakan masyarakat sendiri. Selain itu, hikmah tahnik seperti kata para ulama, hanya agar ada bantuan zat gula masuk ke dalam tubuh bayi karena saat lahir zat gula bayi sangat kurang, tapi bukan untuk kekebalan tubuh.

Demikian, dan wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.