Tahapan Memutuskan Hukum Menurut Syekh Ali Jum’ah

1
768

BincangSyariah.Com – Ada banyak permasalahan yang berkaitan dengan fikih, tidak selalu bisa diselesaikan dengan hanya melihat teks al-Quran dan Hadis. Meski keduanya adalah rujukan utama umat Muslim dalam banyak hal, termasuk memutuskan hukum. Namun yang perlu diingat, teks al-Quran dan Hadis adalah teks yang telah hadir dalam waktu yang sangat lama dari pembacanya di masa kini.

Otenstisitas kedua teks ini dipastikan konkret karena keduanya memiliki bukti otentisitas yang disebut sebagai sanad. Bersamaan dengan terdapatnya bukti otentik keduanya, kedua teks ini telah ditafsirkan selama berabad-abad oleh para ulama dengan berbagai macam pendekatan, dan telah menjadi sebuah amaliah yang merupakan hasil bacaan zamannya.

Dari hasil bacaan itu, ada yang disepakati ulama sebagai sebuah dalil yang bisa diterapkan secara langsung, ada yang mesti ditafsirkan dengan dalil-dalil yang lain, ada yang menjadi analogi untuk diterapkan pada kasus lain, hingga diterapkan pada suatu kondisi tertentu, dan tidak diamalkan pada kondisi yang lain.

Betapa panjangnya proses penafsiran para ulama-ulama masa lalu terhadap dalil-dalil Syar’i, sehingga kita sebenarnya masih bisa mengambil penafsiran-penafsiran para ulama tersebut, dengan tetap mempertimbangkan bagaimana kontekstualisasi teks tersebut di zaman sekarang.

Uraian singkat ini adalah upaya bagaimana memahami apa yang disampaikan oleh Syaikh Ali Jum’ah, pakar Usul Fikih kondang yang pernah menjadi Mufti Negara Republik Mesir.

Dalam karyanya yang berjudul Ushul al-Fiqh wa ‘Alaaqatuhu bi al-Falsafah al-Islamiyyah, ia menyatakan bahwa paling tidak ada tujuh fase yang perlu ditempuh untuk memutuskan hukum. Namun, hal ini ia sampaikan dalam konteks bagaimana seorang yang pakar dibidang Ushul al-Fiqh perlu menempuh hal ini.

Fase pertama disebut sebagai teorema otoritas (nadhariyyatu al-hujjiyyah). Bagi umat muslim, sumber pertama yang perlu dirujuk dalam memutuskan hukum adalah al-Quran. Al-Quran, sebagai sebuah wahyu Allah Swt., terbebas dari distorsi pada teksnya, hingga dipastikan tidak ada kepalsuan di dalamnya. Mengapa harus al-Quran? karena lewat perintah dan larangan yang disampaikan di dalamnya terdapat indikator apakah kita akan diganjar pahala atau siksa pada hari akhirat kelak.

Baca Juga :  Dua Belas Posisi Nabi Muhammad dalam Islam

Karena itu, hukum Islam erat dengan dasar teologis. Sumber kedua adalah, Sunnah yang menjelas dan melengkapi apa yang tidak dijelaskan secara rinci di dalam al-Quran. Alasan Sunnah menjadi sandaran hukum kedua tentu karena Allah Swt. menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw., seorang utusannya. Maka kita harus menaati yang disampaikannya, selain ia telah dijamin terbebas dari kekeliruan – dalam penetapan syariah.

Fase kedua adalah teorema otentisitas (nadhariyyatu al-itsbat). Pada fase ini tidak lagi berbicara soal mengapa al-Quran dan Sunnah menjadi otoritatif dalam pengambilan hukum di dalam Islam. Tetapi, penekanannya bergeser kepada teks mana yang otentik sehingga bisa dijadikan dasar hukum.

Hal ini lebih banyak diterapkan dalam kasus Sunnah Rasulullah Saw. Suatu perkataan Rasulullah Saw. (hadis) bisa disebut sunnah ketika ia disampaikan secara lisan dari waktu ke waktu oleh para periwayat yang adil dan terpercaya. Meski sunnah disepakati sebagai teks yang otoritatif, ia tidak akan berguna jika ternyata tidak benar-benar bersumber dari Rasulullah Saw.

Untuk menerapkan hal ini, ada sejumlah ilmu bantu yang harus digunakan, yaitu Ilmu Hadis (“Ilm Mushtholah al-Hadits) dan Kompendium profil para periwayat hadis yang terdapat penilaian apakah ia berkelakuan baik atau tidak (biasa dikenal dengan: ‘Ilm al-Jarh wa al-Ta’dil

Fase ketiga adalah  teorema pemahaman (nadhariyyatu al-fahm). Setelah teks dianggap otoritatif dan otentitk menjadi sebuah dalil, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana teks itu dipahami? Apakah hanya memiliki satu pemahaman, atau ada dua pemahaman, atau lebih? Apakah pemahaman itu bisa dikompromikan, atau tidak?

Pertanyaan ini perlu dijawab, di antaranya lewat pemahaman kebahasaan, seperti kaidah, makna leksikal setiap kata, makna yang khas pada teks itu, hingga bercermin kepada hukum apa yang sudah muncul dari penafsiran teks itu. Fase ini sangat penting dan menjadi pilar utama Usul Fikih, terlepas dari masih beda pendapatnya di antara para pakar perangkat kebahasaan mana yang absah untuk menjadi penafsir teks.

Baca Juga :  Demi Kebaikan Buah Hati, Ini Tips Memilih Stroller yang Awet dan Praktis Dibawa ke Bandara

Fase keempat adalah teorema “pasti dan tidak pasti” (nadhariyyatu al-qath’iyyah wa al-dhanniyyah). Di tahapan ini, muncul diskusi baru, apakah perangkat kebahasaan an sich bisa menunjukkan kalau memang itulah hukum yang dikehendaki?

Syekh Ali Jum’ah menggambarkan seperti kasus ayat wudhu’. Secara kebahasaan, ayat fa idzaa qumtum ila-s-shalaat faghsiluu wujuuhakum (Al-Maidah: 5) dipahami kalau wudhu justru dilakukan setelah salat. Hal ini, bukan yang dikehendaki oleh ayat ini. Maka, peran ijma’ (kesepakatan) ulama pada bagian ini berperan besar untuk memastikan apakah pasti hukum yang ditelurkan dari teks itu demikian, atau masih memiliki kemungkinan lain.

Fase kelima adalah teorema analogi hukum (nadhariyyatu al-ilhaaq). Tidak semua hukum disebutkan baik secara eksplisit maupun implisit di dalam teks. Bagaimana jika ada permasalahan yang membutuhkan status hukum, sementara teks tidak ada yang berbicara soal itu. Solusinya, teks yang hadir pada suatu zaman tertentu itu, bisa menjadi analogi untuk permasalahan-permasalahan lain yang memiliki ‘illat (katakanlah: motif atau alasan) hukum yang sama sehingga bisa memiliki kesamaan dasar hukum.

Fase keenam adalah teorema menyimpulkan hukum (nadhariyyatu al-istidlal). Mungkin, hanya dua sumber itu (al-Quran dan Sunnah) yang disepakati ulama sebagai dalil yang absah dalam menarik sebuah hukum. Namun, ada sumber lain yang memungkinkan untuk menempati posisi keduanya, meski masih diperdebatkan oleh para ulama.

Dalam khazanah hukum Islam, ada yang dikenal ‘urf (kebiasaan lokal), ‘adat, pendapat sahabat Nabi Saw., hingga hukum yang sudah ada sebelum muncul khazanah hukum Islam. Dengan segala perdebatan yang ada soal keabsahannya, mempertimbangkannya sebagai referensi pengambilan hukum tetap penting, paling tidak untuk mendukung kedua dalil yang otoritatif tadi.

Baca Juga :  Tujuh Hal yang Perlu Diketahui Terkait Perbedaan Mazhab Fikih

Fase ketujuh adalah teorema penyampaian fatwa (nadhariyyatu al-iftaa). Dalam khazanah hukum Islam, dalam satu topik tertentu tidak memiliki hukum yang tunggal. Kadang, hukumnya beragam. Di antara keputusan hukum itu, ada yang kedudukannya kuat, ada juga yang lemah.

Berkaitan dengan hal ini, Ulama Usul Fikih memiliki kedudukan yang disebut mufti (pemberi fatwa). Seorang mufti dapat memutuskan hukum yang berbeda untuk permasalahan yang sama, karena objek hukum yang memintanya (mustafti) juga berbeda kondisinya.

Untuk mewujudkan hal itu, mufti perlu mempertimbangkan banyak aspek, seperti sisi tujuan-tujuan syariah (maqashid al-shari’ah) hingga apakah ada dalil yang saling bertentangan soal hukum itu sehingga perlu dipilah mana dalil yang bisa digunakan karena lebih kuat dan mana yang tidak (al-ta’aarudh wa al-tarjih). Semuanya dalam tataran agar tujuan syariah tercapai, dan tidak berkurang nilai hukum itu karena tidak atau kurang berfungsi hukum itu kepada objeknya.

Demikian tujuh fase yang ditawarkan oleh Syekh Ali Jum’ah dalam memutuskan hukum syar’i. Jadi, merujuk kepada Quran dan Sunnah, tidak sesederhana yang terlihat bukan ?, Mari kita terus belajar dan memahami. Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

  1. Mas nazariyyah istidlal itu bukan teori menyimpulkan. Tapi itu adalah teori dalaln mencari dalili lain yang tdak ada dalam al quran sunnah ijma dan tdak dapat dilakukan qiyas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here