Tafsir Yasin: 4-6: Nabi Muhammad Hadir untuk Memperingatkan Manusia

0
211

BincangSyariah.Com- Pada tiga ayat sebelumnya, Allah SWT secara tegas bersumpah dengan Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad saw benar-benar seorang utusan-Nya. Ketegasan ini menjawab kemungkaran kaum kafir Quraisy yang juga meremehkan kedudukan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul. Sehingga ayat 4 sampai 6 surat Yasin ini juga melanjutkan keterangan tersebut, terlebih tentang jalan dakwah Nabi Muhammad.

   عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (4) تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“Di atas jalan yang lurus (4) (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang (5) agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai (6).”

Ayat keempat menggunakan kata irāth untuk menunjukkan makna jalan. Dalam tafsir Al-Misbah kata ini berarti jalan yang lebar, sesuai akar katanya aratha yang artinya menelan. Lantas, irāth ini laksana jalan yang menelan pejalan di atasnya, saking lebarnya. Pemilihan kata irāth memperlihatkan bahwa hanya satu jalan yang bersifat benar dan haq. Berbeda dengan penggunaan kata sabīl di beberapa ayat lain, meski makna harfiyahnya sama-sama jalan. Penggunaan kata sabil bisa bermakna banyak, bisa benar bisa salah, bisa untuk orang bertakwa namun bisa juga untuk orang durhaka.

Kata mustaqīm bermakna yang lurus disandingkan dengan kata irāth. Dalam Tafsir Yasin Hamami, maksud dari jalan lebar yang lurus ini adalah agama Islam, agama yang haq bukan agama yang batil seperti keyakinan kaum kafir Quraisy. Sedangkan Tafsir Al-Qurthubi  memberikan opsi makna, bahwa Nabi Muhammad termasuk salah seorang rasul-rasul Allah yang istiqamah.

Baca Juga :  Quraish Shihab: Ulama Tafsir yang Bijak dan Mendidik

Ayat kelima menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Penyayang untuk Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Kemudian Al-Qur’an ini disyiarkan untuk penduduk masyarakat Mekah, termasuk orang-orang kafir yang menentang Nabi Muhammad, supaya mereka semua insaf. Pemilihan kata ‘Aziz yang bermakna Mahaperkasa karena untuk menguatkan kembali ketegasan Allah atas sikap kafir Quraisy. Lantas, Allah menggunakan kata Rahiim yang bermakna Maha Penyayang kepada orang-orang taat.

Pada ayat keenam, lafadz litundzira menggunakan lam ta’līl yang bermakna agar. Kemudian pada lafadz mā undzira penggunaan kata mā ada beberapa pendapat. Namun disini dipaparkan dua pendapat, seprti yang tercantum dalam Tafsir Yasin Hamami. Pertama disebut sebagai mā nafī yang bermakna tidak, sehingga pendapat ini memiliki makna agar Nabi Muhammad memberikan peringatan kepada kaum yang leluhurnya tidak pernah diberi peringatan.

Sementara pendapat kedua lafadz mā bermakna alladzi (yang), maksudnya adalah agar Nabi Muhammad memberikan peringatan kepada kaum, seperti apa yang diperingatkan kepada leluhurnya. Kemudian Allah menyebut mereka (kaum) itu lalai.

Terdapat beberapa pendapat terkait penafsiran ayat keenam ini, Tafsir Al-Ibriz menyebut bahwa mulai setelah Nabi Ismail hingga Nabi Muhammad, kaum Quraisy di Mekah tidak kedatangan seorang nabi dan rasul, sehingga mereka tidak mengerti agama dan syariat.

Sementara Tafsir Al-Misbah menguraikan bahwa leluhur yang dimaksud adalah, orang-orang yang hidup saat masa fatrah, yakni masa antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad, bukan masa sebelum-sebelumnya. Karena Nabi Ismail merupakan salah satu nabi yang hidup di Mekah. Lantas dengan pemahaman seperti ini, M. Quraish Shihab ingin menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang masyarakat Arab saat fatrah itu, melainkan seluruh umat manusia. Karena semua manusia membutuhkan peran pembimbing/nabi, baik orang Arab, Yahudi dan lain sebagaianya.

Baca Juga :  Abdullah bin Umar Ra.: “Dianggap Jelek Karena Tidak Mengamalkan Ayat Lebih Baik dari Memerangi Saudara Sendiri”

Demikian tafsir Yasin ayat ke-4 hingga ke-6 menunjukkan bahwa Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad di jalan yang haq untuk orang-orang yang taat penuh dengan kasih sayang, sedangkan untuk orang yang menentang Nabi Muhammad, Al-Qur’an hadir sebagai peringatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here