Tafsir At-Thariq ayat 5-7: Renungkanlah Tentang Asal Manusia

1
758
“Siapa yang ingin berbicara dengan Tuhan, berdoalah. Siapa yang ingin Tuhan berbicara kepadanya, bacalah al-Qur’an.”

BincangSyariah.Com – Begitu pesan Quraish Shihab tentang keutamaan membaca Al-Qur’an. Dengan kita membaca Al-Qur’an berarti kita sedang mendengarkan dan menyimak perkataan dan pesan-pesan Tuhan, karena Tuhan berbicara pada hamba-Nya melalui ayat-ayatNya.

Di antara sekian banyak firman Tuhan dalam al-Qur’an ada perkataan yang menjelaskan tentang penciptaan manusia. Setidaknya terulang 14 kali ayat tentang penciptaan manusia khususnya penciptaan manusia dari air mani (nuthfah), air yang hina (ma’ mahin) dan air kental (ma’ dafiq). Ini dapat dilihat antara lain di QS. an-Nahl [16]: 4; al-Kahf [18]: 37; al-Hajj [22]: 5; al-Mu’minun [23]: 13; as-Sajdah [32]: 8; Fathir [35]: 11; Yasin [36]: 77; Ghafir [40]: 67; an-Najm [56]: 46; al-Qiyamah [75]: 37; al-Insan [76]: 2; al-Mursalat [77]: 20; ‘Abasa [80]: 19; at-Thariq [86]: 6.

Meski menggunakan redaksi yang tidak persis sama, melihat munasabah dengan ayat sebelum dan sesudahnya, konteks penyampaian penciptaan manusia di empat belas tempat ini dapat dikelompokkan sekurangnya dalam tiga kondisi;

Pertama, penciptaan manusia disampaikan untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Allah kuasa menjadikan manusia dari yang awalnya tidak ada menjadi ada, apalagi hanya menyatukan tulang belulang yang berserakan nanti di hari kebangkitan yang jelas barangnya sudah ada sebelumnya. Demikian pula dalam menciptakan makhlukNya yang lain. Seperti terekam pada QS. as-Sajdah [32]: 8, Fathir [35]: 11, Yasin [36]: 77, an-Najm [56]: 46.

Kedua, sebagai argumentasi bagi orang yang tidak beriman pada hari akhir dan tidak percaya tentang adanya kehidupan setelah kematian. Secara bersamaan, mereka yang mendustakan hari akhir ini tidak percaya juga terhadap kekuasaan Allah. Ini erat kaitannya dengan kondisi yang pertama. Kondisi kedua ini terlihat pada QS. al-Kahf [18]: 37, al-Hajj [22]: 5, al-Mu’minun [23]: 13 dan Fathir [35]: 11.

Baca Juga :  Zawiyah Arraudhah Kembali Mendatangkan Syekh dari Mesir

Ketiga, Allah menghadirkan kembali rekaman tentang penciptaan manusia ini untuk mengingatkan yang lupa dan menyadarkan yang lalai tentang asal manusia, dari apa ia diciptakan, siapa yang menciptakan untuk tujuan apa dan apa tangggung jawabnya. Konteks ini dapat kita temukan di an-Nahl [16]: 4, Ghafir [40]: 67, al-Qiyamah [75]: 37, al-Mursalat [77]: 20, ‘Abasa [80]: 19 dan termasuk juga at-Thariq [86]: 6.

Setelah ini kita fokuskan pada penafsiran penciptaan manusia di QS. at-Thariq [86]: 6 . Dijelaskan dalam Tafsir al-Kasysyaf oleh az-Zamakhsyari bahwa konteks penyampaian penciptaan manusia di QS. at-Thariq [86]: 6 erat kaitannya dengan ayat sebelumnya, yaitu informasi di ayat 4,

اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌۗ

yang menyatakan bahwa setiap manusia itu ada yang mengawasi. Bagi yang masih bertanya dengan angkuh kenapa perlu dan harus diawasi, Allah meresponnya di ayat berikutnya yaitu ayat ke 5 dengan memerintah untuk mengingat awal mula penciptaan manusia,

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ.

Tidak hanya perintah mengingat, lebih dari itu adalah memikirkan dan merenungkannya. Inilah makna kata falyandhur menurut Tanthawi Jauhari dalam al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Baru kemudian pada ayat 6-7,

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ . يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ

Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar (6) yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada. (7)

Allah benar-benar mengingatkan kembali tentang asal manusia. Pada dua ayat tersebut dikatakan bahwa manusia diciptakan dari ma’ dafiq yang biasa diterjemahkan dengan air (mani) yang terpancar yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada. Quraish Shihab memperjelasnya dalam Tafsir Al Misbah bahwa kata dafiq mempunyai arti air yang memancar sendiri, tidak bisa ditahan yaitu air mani. Ia melanjutkan bahwa seakan-akan ayat ini menyatakan kepada manusia “hai manusia, engkau lemah, tidak memiliki kekuasaan. Air yang terdapat dalam dirimu sendiri, engkau tidak mampu menahan pancarannya. Itulah asal kejadianmu”.

Baca Juga :  Tafsir Surat Yasin [36] ayat 1 - 3: Allah Menegaskan Kedudukan Nabi Muhammad

Ia juga mengutip perkataan Sayyidina Ali “Hai manusia, mengapa engkau angkuh? engkau diciptakan dari air yang hina, engkau berjalan membawa kotoran dalam perutmu dan badanmu -kelak jika engkau mati- akan menjadi bangkai yang menjijikkan.” Sekali lagi, tidak ada alasan bagi manusia untuk bersikap angkuh dan sombong pada manusia lainnya, karena semuanya sama, tercipta dari dasar materi dan proses yang sama, hina dan menjijikkan. Apalagi menyombongkan dirinya kepada Tuhan, Sang pencipta.

Selain untuk mengingatkan posisi hamba yang lemah di hadapan Tuhan, At-Thariq ayat 6 ini sekaligus teguran untuk manusia yang sering menganggap dirinya lebih istimewa dari sesamanya, padahal asal dan awal manusia itu sama.

Mencari satu persamaan tampak menjadi cara yang efektif dalam menyikapi banyak perbedaan. Manusia yang tercipta dalam bentuk, rupa dan kemampuan yang berbeda-beda akan bisa memaklumi dan menerima keragaman lain di depannya, jika ia bisa menemukan satu saja persamaan dalam perbedaan tersebut, dalam hal ini yaitu asal mula adanya. Bahkan diceritakan oleh Abi Mas’ud dalam sebuah hadis di Sunan Ibnu Majah dalam bab al-Qadid bahwa Nabi Muhammad pun tidak segan mengatakan pada orang Arab Badui “innii lastu bimulk, innamaa ana ibn imroat ta’kul al-qadid” (saya bukan seorang raja, saya putra seorang perempuan yang juga senang makan daging dendeng).

Nadirsyah Hosen dalam bukunya, “Saring sebelum Sharing” merespon rekaman pembicaraan Nabi tadi seolah Nabi ingin menunjukkan pada tamunya tersebut bahwa ‘engkau bagian dariku dan aku bagian darimu’ sehingga tamu tadi tidak gemetaran lagi di hadapan Nabi. Lantas bagaimana dengan kita, manusia biasa yang jelas bukan Nabi?

Al-Insan (manusia) memang kebanyakannya bodoh dan seringnya lupa. Al-Jilani mengakui ini dalam tafsirnya. Lupa jika al-Insan bukan apa-apa, hanya kumpulan daging dan tulang belulang yang berasal dari air yang lemah dan hina, tidak punya kemampuan dan kekuasaan sedikitpun. Oleh sebab itu, senantiasa kita ingat dari mana kita berasal agar tahu kemana kita akan menuju. Jikalau lupa, mari saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan.

Baca Juga :  Hari Santri Nasional dan Peran Santri Untuk Kemerdekaan

Wallahu a’lam

1 KOMENTAR

  1. Jika kita melihat Alquran surat al insan ayat 2.
    اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
    innā khalaqnal-insāna min nuṭfatin amsyājin nabtalīhi fa ja’alnāhu samī’an baṣīrā
    Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

    yg artinya:bercampurnya mani dalam dual hal kejadian yaitu ketika di surga penciptaan adam tanpa berhubungan dan keturunanya ketika di dunia dengan berhubungan(lelaki/wanita).Adam telah menentang Allah S.W.T di surga dahulu dan juga keturunannya juga menentang Allah di dunia ini.

    dan mengenai surat yasin ayat 77.
    وَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ
    a wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn
    Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!
    siapakah musuh yg nyata ? logislah adam saat di surga dan keturunanya di dunia

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here