Tafsir tentang Musibah Bencana Menurut Quraish Shihab

0
912

BincangSyariah.Com – Belakangan ini kehidupan manusia telah banyak ditimpa bencana. Sebagaimana bencana gempa bumi berkekuatan 7,4 Mw diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi yang. Selanjutnya pada tanggal 22 Desember 2018 juga tejadi tsunami di pesisir Banten bagian barat dan Lampung Selatan. Berbagai bencana tersebut memunculkan sebuah pertanyaan, apakah bencana tersebut sebuah teguran, hukuman, ataukah pengingat bagi manusia atas kelalaian dan kesalahannya?

Quraish Shihab adalah seorang mufasir produktif yang telah banyak menghasilkan berbagai karya. Dalam kitab Tafsir Al-Mishbah, beliau mendefinisikan becana sebagai adanya ketidakseimbangan pada lingkungan, yang sesungguhnya telah diciptakan oleh Allah dalam satu sistem yang sangat serasi sesuai dengan kehidupan manusia, yang mana ketidakseimbangan tersebut telah mengakibatkan sesuatu yang memenuhi nilai-nilainya dan berfungsi dengan baik serta bermanfaat, menjadi kehilangan sebagian atau seluruh nilainya sehingga berkurang fungsi dan manfaatnya, yang kemudian menimbulkan kekacauan.

Quraish Shihab telah menjelaskan bahwa bencana-bencana itu tidak akan pernah terjadi kecuali atas kehendak dan izin dari Allah, meskipun manusia juga memiliki kontribusi terhadap sebagian bencana atau musibah yang terjadi. Dalam QS At Taghabun ayat 11 disebutkan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ الَّهِ ۗوَمَنْ يُؤْمِنْ بِالَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚوَالَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Bencana-bencana yang merupakan kehendak dan izin dari Allah adakalanya merupakan bencana sebagai bentuk hukuman, bencana sebagai teguran, serta bencana sebagai bentuk kasih sayang dari Allah.

Dalam al-Qur’an, kata yang digunakan untuk menunjukkan bencana dalam bentuk hukuman adalah adzab, ‘iqab, dan tadmir. Ketiga kata ini menunjukkan sebuah bencana yang datang akibat dari kedurhakaan manusia.

Baca Juga :  Bedah Buku "Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan" di UIN Jakarta, Muchlis M. Hanafi: Ada Kekeliruan Mendasar Secara Metodologi dan Substansi

Adapun bencana sebagai teguran ini disebutkan dengan kata fitnah, yaitu bencana yang dijatuhkan oleh Allah, yang mana bencana tersebut tidak hanya mengenai pada orang-orang yang bersalah saja, melainkan orang yang tidak bersalah pun memiliki peluang untuk terkena bencana, apabila ia tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada sesama manusia, terlebih kepada orang-orang yang lalai kepada Allah.

Sedangkan bencana sebagai bentuk kasih sayang dari Allah disebutkan dengan menggunakan kata bala. Quraish Shihab menekankan bahwa ujian atau cobaan yang dihadapi itu pada hakikatnya adalah ‘sedikit’.

Menurutnya, kata ‘sedikit’ ini sangat wajar karena betapapun besarnya ujian dan cobaan, ia adalah sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan ganjaran yang akan diterima. Karena potensi dan nikmat yang telah dianugerah Allah kepada manusia jauh lebih besar, maka manusia pasti akan mampu melalui ujian itu jika ia telah membekali diri dengan iman dan menggunakan potensi-potensi yang telah dianugerahkan Allah tersebut Dalam ayat-Nya, Allah berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Penjelasan dari ayat tersebut menurut Quraish Shihab adalah kami milik Allah. Jika demikian, Dia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi harus selalu diingat jika Allah Maha Bijaksana. Segala tindakan-Nya pasti benar dan baik.

Tentu ada hikmah di balik bencana atau musibah itu. Dia Maha pengasih, Maha Penyayang, kami akan kembali kepada-Nya, sehingga ketika bertemu nanti, tentulah pertemuan itu adalah pertemuan dengan kasih sayang-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here