Tafsir Tarbawi: Belajar Menjaga Adab Kepada Guru dari Kisah Nabi Musa

0
1007

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk senantiasa menjaga adab. Lebih-lebih menjaga adab kepada guru. Menjaga adab kepada guru merupakan kunci utama meraih keberkahan ilmu. Abu Zakariyya al-Anbari berkata, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh” (Adabul Imla wa al-Istimla, dinukil dari Min Washaya al-Ulama li Thalabat al-‘Ilmi). Salah satu kisah yang mengajarkan kita tentang adab terhadap guru adalah Kisah Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir. Kisah tersebut diabadikan oleh Allah swt dalam firman-Nya Q.S. al-Kahfi ayat 66-70.

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69) قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ   -ذِكْرًا

“Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”. Dia menjawab, “sungguh, engkau tak akan sanggup sabar bersamaku.” Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal itu?. Dia (Musa) berkata, “Insya Allah engkau akan dapati bahwa aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.” Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku sesuatu apapun hingga aku menerangkannya kepadamu.”

Tafsir Surah al-Kahfi Ayat 66-70 

Dalam Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, al-Razi menjelaskan,

اِعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْاَيَاتِ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ رَاعَى أَنْوَاعًا كَثِيْرَةً مِنَ الْأَدَبِ وَالُّلطْفِ عِنْدَ مَا أَرَادَ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنَ الْخَضَرِ.

Baca Juga :  Tahukah Kamu, Kerajaan Islam Tertua di Jawa adalah Lumajang?

“Ketahuilah, sungguh beberapa ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Musa banyak menjaga adab dan sopan santun tatkala hendak belajar atau menuntut ilmu kepada Nabi Khidir.”

al-Razi menyebutkan bentuk menjaga adab dari kisah Nabi Musa di antaranya 1) meminta izin dan menempatkan dirinya sebagai murid Nabi Khidir sebagaimana redaksi hal attabi’uka. 2) mengakui bahwa dirinya masih bodoh, sedangkan Nabi Khidir adalah orang yang berilmu, hal ini tercermin dalam ayat an tu’allimani mimma ‘ullimta rusydan. 3) memohon petunjuk dan bimbingan terhadap Nabi Khidir, yang andaikan ia tidak memperolehnya maka ia akan tersesat. 4) sanggup dan bersedia mengikuti dalam segala hal tanpa terkecuali.

Menurut al-Sya’rawi dalam Tafsir al-Sya’rawi, ia memaknai ayat tersebut sebagai bentuk adab Nabi Musa dalam menuntut ilmu seperti halnya adab seorang murid terhadap gurunya. Berikut penjelasannya di bawah ini,

قَالَ لَهُ مُوْسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ (الكهف: 66) كَأَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ يُعَلِّمُنَا أَدَبَ تَلَقِّى الْعِلْمِ وَأَدَبِ التِّلْمِيْذِ مَعَ مُعَلِّمِهِ. فَمَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَهُ أَنْ يَتَّبِعَ الْخَضِرَ فَلَمْ يَقُلْ لَهُ مَثَلاً: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِيْ أَنْ أَتَّبِعَكَ، بَلْ تَلَطَّفَ مَعَهُ وَاسْتَسْمَحَهُ بِهَذَا الْأُسْلُوْبِ: هَلْ أَتَّبِعُكَ.

“Nabi Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu…” (Q.S. al-Kahfi [18]: 66). Seolah-olah Nabi Musa mengajarkan kepada kita tentang adab menuntut ilmu dan adab seorang murid terhadap gurunya. Sebab, meskipun Allah telah memerintahkannya untuk mengikuti Nabi Khidir, namun Nabi Musa tidak lantang berkata kepadanya, misalnya “Sungguh Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengikutimu”, akan tetapi, justru ia bersikap santun dan meminta kesediaannya dengan redaksi perkataan yang lembut, “Bolehkah aku berkenan mengikutimu atau belajar kepadamu?”

Belajar Menjaga Adab dari Kisah Nabi Musa

Baca Juga :  Doa Berbuka Sebaiknya Dibaca Sebelum Berbuka atau Setelahnya?

Tafsir al-Razi di atas menjelaskan bahwa Nabi Musa sangat betul-betul menjaga adab terhadap gurnya, meskipun ia sendiri berstatus sebagai Nabi yang mempunyai banyak ilmu dan keistimewaan. Namun, kuantitas ilmu yang dimiliki tak membuat membusungkan dadanya justru ia semakin santun dan menjaga adab terhadap gurunya. Begitu pula dengan penafsiran al-Sya’rawi, hendaknya seorang murid menjaga adab terhadap gurunya sebagaimana adab Nabi Musa. Andaikan Nabi Musa berkata “Aku mendapat perintah dari Tuhanku untuk belajar kepadamu” tentu sangat bisa dilakukannya, melainkan ia lebih memilih dan menempuh jalan bernama adab dengan berkata, “Bolehkah aku berkenan mengikutimu?” Sungguh, redaksi yang lembut dan mendamaikan hati. Wallahu A’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here