Tafsir Surat Yasin [36] 7-9: Kisah Abu Jahal yang Hendak Mencelakai Nabi Muhammad

1
1381

BincangSyariah.Com- Kedudukan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, ditentang keras oleh kafir Quraisy, termasuk Abu Jahal dan kroninya. Kondisi ini membuat kafir Quraisy tak hanya diam, bahkan sampai meneror Nabi Muhammad. Saat Nabi Muhammad sholat mereka mencoba melukai, namun Allah selalu melindunginya.

Hal ini termaktub pada surat Yasin [36] ayat 7-9.

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ  (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالاً فَهِيَ إِلَى الأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ – 9

“Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman (7). Sungguh, kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah (8). Dan kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat (9).”

Dalam Tafsir Al-Ibriz, dan Tafsir Hamami, ayat ketujuh memberikan pengertian kepada Nabi Muhammad, bahwa memang terdapat beberapa orang dari kaum Quraisy yang menentang dakwahnya, namun jangan sampai membuat hati Nabi Muhammad bersedih. Adapun nama-nama yang menentang Nabi Muhammad seperti Abu Jahal, Utbah, Syaibah dan al-Walid bin Al-Mughiroh dan lain-lainnya itu merupakan orang-orang yang Allah taqdirkan sebagai sosok yang menentang dan enggan untuk beriman.

Allah kemudian menggambarkan keadaan kafir Quraisy dengan ayat yang kedelapan. Dalam Tafsir Al-Misbah, disebutkan sesunggguhnya Allah telah menjadikan keadaan orang-orang yang bersikeras mempertahankan kekufuran itu, layaknya orang-orang yang di lehernya terpasang belenggu-belenggu yang diikat ke dagunya masing-masing. Sehingga mereka menjadi tertengadah ke atas, tidak dapat menunduk dan tidak bebas bergerak menoleh ke kiri maupun ke kanan.

Baca Juga :  Hukum Ziarah Kubur Ketika Hari Raya

Kata muqmahun yang bermakna tertengadah ini biasa digunakan untuk melukiskan unta yang haus namun tidak dapat minum. Masih dalam Tafsir Al-Misbah, keadaan ini menggambarkan seseorang yang hendak menelan sesuatu, namun dalam kondisi mata tertutup serta dengan pandangan lesu ia berusaha menelan sesuatu tapi tidak mampu.

Ada pendapat lain dalam Tafsir Al-Qurthubi, bahwa orang kafir Quraisy itu takabbur untuk menerima kebenaran, sebagaimana orang yang tangannya dibelenggu kaku, lalu meletakkan di lehernya hingga ia seperti terangkat kepalanya, tanpa bisa menunduk. Orang yang sombong seperti ini disifati dengan kekakuan.

Sedangkan pada ayat kesembilan, dalam Tafsir Al-Qurthubi diceritakan kisah Abu Jahal dan kroninya yang hendak melukai Nabi Muhammad dengan melempari batu saat sholat, kisah ini diriwayatkan dari Muqatil. Ketika Abu Jahal akan sampai kepada Nabi Muhammad, batu itu terjatuh. Kemudian diambil oleh kroninya dari Bani Makhzum dan ia pun berkata, “Aku akan membunuhnya dengan batu ini.” Namun lagi-lagi gagal, ketika hendak mendekat, Allah justru membutakan matanya sehingga tidak bisa melihat Nabi Muhammad SAW. Lantas ia kembali kepada teman-teman kafir Quraisynya.

Kyai Bisri Mustofa dalam tafsirnya, al-Ibriz menjelaskan lebih ekspresif lagi menjelaskan ayat tersebut dalam bentuk narasi kisah sebagai berikut,

Abu Jahal itu karena tak tahan lagi dengan Nabi Muhammad, sampai suatu saat ia bersumpah, “Demi berhala yang aku sembah, jika aku melihat Muhammad hendak shalat, pasti akan kulempari batu kepalanya sampai hancur.” Hingga saat Abu Jahal melihat Nabi mendirikan shalat, langsung saja ia mendekatinya dengan membawa batu besar. Ketika semakin mendekat, batu besar yang akan dilemparkan itu mau diangkat, tiba-tiba saja tangan Abu Jahal kaku dan menempel ke lehernya, sedangkan batu itu juga ikut menempel di lehernya. Maka Abu Jahal kembali ke teman-temannya.

Setelah itu Abu Jahal menceritakan kejadian yan aneh ini kepada temannya, batu besar itu pun terlepas dan jatuh. Lantas, temannya yang sombong mengatakan, “sudah bawa sini saja batunya, aku yang akan membunuh Nabi Muhammad.” Ia pun menuju tempat shalat Nabi Muhammad. Baru saja akan dilemparkan batu itu, mendadak ia menjadi buta tidak bisa melihat sekelilingnya. Ia hanya mendengar suara Nabi, tapi tidak bisa melihat sosoknya. Maka dengan keadaan seperti itu, ia berteriak dan kembali ke teman-temanya. Setelah tidak berniat untuk melempari batu, ia pun kembali bisa melihat.   

Dari penafsiran ayat-ayat ini kita belajar bahwa perjuangan Nabi Muhammad sangatlah berat, penuh rintangan. Namun dengan segala ketekunan beliau pun mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Baca Juga :  Ini Pahala Orang yang Membantu Kesusahan Orang Lain

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here