Tafsir Surat Yasin [36] 14: Kisah Tiga Utusan Nabi Isa dan Ashabul Qaryah

4
2361

BincangSyariah.Com- Kisah tiga utusan Nabi Isa untuk Ashabul Qaryah edisi ini merupakan bagian pertama dari kisah hancurnya Ashabul Qaryah menurut beberapa kitab tafsir, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Yasin Hamami dan Tafsir Al-Ibriz. Ada pendapat berbeda dari Tafsir Al-Misbah, karena M. Quraish Shihab tidak menyebut tokoh dan lokasi dalam tafsirnya ini.

Bagi M. Quraish Shihab, siapa pun rasul-rasul yang dimaksud dalam rentetan ayat ini, yang jelas dan pasti adalah mereka membawa pesan-pesan Allah swt, agar Ashabul Qaryah mengakui keesaan-Nya.

Kali ini, kita akan menguraikan penafsiran dari beberapa mufasir yang menyebutnya sebagai tiga utusan Nabi Isa, berikut dalam Surat Yasin [36] ayat 14,

إِذۡ أَرۡسَلۡنَاۤ إِلَیۡهِمُ ٱثۡنَیۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثࣲ فَقَالُوۤا۟ إِنَّاۤ إِلَیۡكُم مُّرۡسَلُونَ ١٤

(Yaitu) ketika kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”

Sebelumnya, terdapat beberapa nama tentang tiga utusan ini seperti yang saya ulas di edisi sebelumnya, yaitu menurut Ibnu Katsir dan Ath-Thabari, mereka bernama Shadiq, Shaduq dan Syalum. Nama-nama ini dari Ka’ab dan Wahb yang dikisahkan oleh Abu Ja’far An-Nuhas. Sedangkan menurut Kyai Bisri Musthofa, nama-nama mereka adalah Yahya, Bulis dan Syam’un. An-Naqqasy dalam Tafsir Al-Qurthubi menyebut Sam’an dan yahya. Sedangkan ulama lain berkata, “Syam’un dan Yohana”.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, Nabi Isa mengutus dua orang untuk berdakwah di Ashabul Qaryah. Kemudian di tengah perjalanan bertemu denagn orang tua yang bernama Habib An-Najjar, dan mengajaknya untuk beriman kepada Allah. Lantas Habib An-Najjar meminta ditunjukkan bukti bahwa mereka benar-benar utusan untuk mendakwahkan kebenaran. Mereka berdua mengatakan bisa menyembuhkan orang yang sakit.

Baca Juga :  Surah Alkautsar dan Kematian Anak Nabi Muhammad

Kebetulan sekali, Habib An-Najjar memiliki anak laki-laki yang sakit jiwa, Dalam Tafsir Yasin Hamami, disebutkan bukan sakit jiwa, melainkan sakit sejak 60 tahun lalu, ada juga yang menyebut sakit lumpuh. Akhirnya mereka berdua berdoa meminta kepada Allah agar anaknya ini disembuhkan. Benar, ia pun sembuh dari penyakitnya.

Pendapat berbeda dari Tafsir Al-Ibriz, bahwa yang sakit justru Habib An-Najjar itu sendiri, dua utusan itu menemuinya dalam keadaan buta. Dengan doa dan izin Allah, kedua mata Habib An-Najjar pun bisa melihat. Seketika Habib An-Najjar pun beriman kepada Allah.

Hebohnya Ashabul Qaryah

Berita tentang datangnya dua orang hebat yang memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit ini, membuat penduduk Anthakiah heboh. Bahkan terdengar sampai ke telinga Sang Raja. Mereka berdua dipanggil untuk menghadap di istana. Kali ini kedua orang itu langsung mengajak Sang Raja untuk meninggalkan berhala-berhalanya dan beriman kepada Allah, sayangnya Sang Raja langsung menentang keduanya. Mereka berdua pun dijebloskan ke penjara.

Kabar tentang dihukumnya dua utusan ini terdengar oleh Nabi Isa, segera dikirim satu utusan lagi bernama Syam’un untuk menguatkan dakwah di sana. Beberapa ulama menyebut nama ini sebagai pimpinan dari seluruh utusan Nabi Isa. Syam’un mendatangi negeri Anthakiah tidak dengan terang-terangan. Ia menyamar layaknya pengikut raja Anthakiah yang menyembah berhala dan mengikuti segala ritual keagamaannya.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi diceritakan, suatu ketika Syam’un membujuk rayu sang raja agar kedua utusan yang dipenjara diizinkan menjelaskan lagi maksud dakwahnya kepada raja. Karena pribadi Syam’un yang berhasil menyamar dengan baik dan dalam waktu yang cukup lama, sang raja pun menyetujui ide Syam’un.

Maka, kedua orang itu dihadirkan di lapangan untuk menjelaskan kembali tujuan dakwahnya. Kali ini sang raja meminta bukti secara langsung kepada dua utusan tersebut. Dalam Tafsir Al-Ibriz, pertama raja mendatangkan bayi yang tidak memiliki bola mata, wajahnya datar tanpa mata. Kemudian dua orang ini mengambil tanah dan menyobek kulit area mata, dan menaruh bulatan tanah tadi. Seketika menjadi bola mata yang bisa melihat dengan baik.

Baca Juga :  Akad Menggunakan Bahasa Arab dan Saksi Tidak Memahami, Sahkah Pernikahannya?

Tak cukup puas, sang raja meminta untuk menghidupkan orang yang telah mati selama tujuh hari namun belum dikebumikan. Kisah ini juga terdapat dalam Tafsir Yasin Hamami, para utusan itu berdoa kepada Allah, termasuk Syam’un. Dua utusan berdoa dengan keras, sedangkan Syam’un berdoa dengan lirih. Ajaibnya lagi, orang yang telah mati itu bangun dan hidup kembali. Ia pun bercerita telah disiksa ruhnya karena dulu tidak menyembah Allah.

Sang mayit itu memberikan peringatan kepada sang raja dan penduduk Anthakiah agar beriman kepada Allah. Ia juga menunjuk orang-orang yang mendoakannya, termasuk Syam’un. Akhirnya terbongkar skenario penyamarannya. Sang raja yang semula terkagum dengan keajaiban ini, memuncak amarahnya karena merasa dikhianati oleh Syam’un. Kelak, ketiga utusan ini juga dibunuh oleh raja dan para pengikutnya.

Kisah sebelum dibunuhnya ketiga utusan ini, akan dilanjutkan dalam edisi berikutnya, sesuai dengan urutan ayatnya. Semoga potongan-potongan kisah ini membuat kita terus belajar mengambil hikmah. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

4 KOMENTAR

  1. Ayat ini sering dipake pihak Kristen, bahwa utusan tersebut adalah Paulus.
    Intinya mereka menunjukkan bahwa Al-Quran mengakui Kerasulan Paulus,
    Padahal jelas ayat itu tidak menyebutkan sebuah nama.
    Inti dr ayat itu adalah mereka (3 utusan) itu mengajak untuk bertauhid, sedangkan Paulus versi mereka(Kristen) Menuhankan Yesus alias menyekutukan Allah.

    Allahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here