Tafsir Surat Yasin [36] 13: Kisah Ashabul Qaryah

0
522

BincangSyariah.Com- Kisah hancurnya Ashabul Qaryah merupakan kisah yang digunakan Nabi Muhammad untuk memperingati kaum kafir Quraisy. Beberapa ayat sebelumnya menyebutkan bahwa mereka menolak risalah Nabi Muhammad, bahkan hendak melukainya. Lantas Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan kisah ini supaya mereka tersadar dan mengambil pelajaran.

Hal ini termaktub pada Surat Yasin [36] ayat 13 sebagai berikut,

وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلًا أَصۡحَـٰبَ ٱلۡقَرۡیَةِ إِذۡ جَاۤءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ١٣

“Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka”

Secara ringkas, kisah Ashabul Qaryah bercerita tentang hancurnya sebuah kota/ negeri yang penduduknya para penyembah berhala. Suatu ketika mereka kedatangan tiga utusan (ada yang menafsirkan murid Nabi Isa) untuk berdakwah, namun mereka justru membunuh utusan tersebut. Maka Allah pun menghancurkan Ashabul Qaryah.

Dalam ayat ini, Allah menggunakan istilah Ashabul Qaryah, yang secara literal bermakna penduduk desa/daerah. Lantas, siapakah Ashabul Qaryah menurut para mufassir?

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa Ashabul Qaryah adalah penduduk kota Anthakiah. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas, Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih. Rajanya bernama Anthaikhas, penguasa yang menyembah berhala dan diikuti penduduknya. Pendapat ini senada dengan Tafsir Yasin Hamami, Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Al-Ibriz, karangan Kyai Bisri Musthofa.

Adapun letak geografis kota Anthakiah ini terdapat beberapa pendapat. Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad ibn Ibrahim al-Naisaburi dalam Qasas al-anbiya’ menyebutkan bahwa al-Qaryah adalah negeri Anthakiah yang berada di satu kota kuno di Syiria, kemudian dikenal dengan nama yang sama namun saat ini masuk wilayah Turki. Ada juga yang mengatakan bahwa Anthakiah terletak di Lebanon. Negeri yang saat itu terdapat penyembah berhala bernama Antoiqus. Pendapat berbeda dari Kyai Bisri Musthofa bahwa Anthakiah dari daerah Yunani kala itu.

Baca Juga :  Orang yang Bernazar Berkurban, Bolehkah Memakan Dagingnya?

Sedangkan M.Quraish Shihab justru tidak menyebutkan secara pasti, nama dan letak geografisnya. Ia bersandar pada pendapat ulama lain bahwa, wilayah Anthakiah tidak pernah dibinasakan baik pada masa Nabi Isa maupun sebelumnya. Di tambah lagi, penduduk negeri ini dikenal sebagai penduduk pertama yang mempercayai kerasulan Nabi Isa. Padahal dalam ayat ini, Allah menghancurkan Ashabul Qaryah.

Tiga Utusan untuk Ashabul Qaryah

Ashabul Qaryah yang hidup sebagai penyembah berhala saat itu dikirimkan tiga utusan (rasul). Ada dua pendapat mengenai utusan ini, yang pertama menyebut bahwa tiga orang ini adalah utusan dari Allah langsung. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid Nabi Isa yang dikirim untuk berdakwah di kota tersebut.

Terkait nama-nama utusan juga terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Katsir dan Ath-Thabari, mereka bernama Shadiq, Shaduq dan Syalum. Nama-nama ini dari Ka’ab dan Wahb yang dikisahkan oleh Abu Ja’far An-Nuhas. Sedangkan menurut Kyai Bisri Musthofa, nama-nama mereka adalah Yahya, Bulis dan Syam’un. An-Naqqasy dalam Tafsir Al-Qurthubi menyebut Sam’an dan yahya. Sedangkan ulama lain berkata, “Syam’un dan Yohana”.

Ada keterangan menarik dari M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, alih-alih mengikuti pendapat yang meanstream seperti di atas, ia malahan tidak menyebut secara pasti nama-nama para utusan itu. Ia juga menyebut bahwa ulama yang menafsirkan utusan dalam ayat ini sebagai murid Nabi Isa, merujuk pada kisah-kisah Israilliyat (kisah yang diambil dari ahli Kitab).

Masih dalam Tafsir Al-Misbah, kisah utusan Nabi Isa untuk Anthakiah ini mengutip dari Perjanjian Baru, khususnya dalam Kisah Para Rasul XIII. Antara lain menyebutkan bahwa di  Anthakiah ketika itu terdapat beberapa nabi dan pengajar yaitu Barnabas, Simeon, Lukius, Menahem dan Paulus. Suatu ketika Nabi Isa menugaskan Barnabas dan Paulus untuk pergi ke beberapa wilayah hingga sampai di Anthakiah.

Baca Juga :  Mengapa Telinga Bayi yang Baru Dilahirkan Perlu Diazani?

Dalam menyikapi berbagai penafsiran tentang siapa Ashabul Qaryah dan para utusan itu, kita sebagai umat Muslim harus meyakini bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah yang detail. Hanya saja, potongan-potongan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an berfungsi untuk memberikan hikmah dan pelajaran bagi umat-umat setelahnya.

Demikian pengantar kisah hancurnya Ashabul Qaryah, di edisi selanjutnya akan diceritakan lebih jelas lagi bagaimana kisah ini bermula hingga diabadikan dalam Al-Qur’an. Semoga kita bisa terus belajar. Wallahu A’lam Bi al-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here