Tafsir Surat Yasin [36] 10-12: Dakwah Nabi Muhammad kepada Kaum Quraisy dan Hasilnya

0
270

BincangSyariah.Com- Pada penafsiran ayat ke 7-9, dijelaskan tentang kejahatan kafir Quraisy yang mencoba melukai Nabi Muhammad saat beribadah. Namun berkat pertolongan Allah skenario keji itu pun gagal. Pada artikel kali ini, ayat 10 hingga 11 masih membahas dakwah Nabi Muhammad kepada kaum Quraisy, baik hasilnya taat maupun menolak. Sedangkan ayat 12 menjelaskan tentang kebangkitan manusia setelah kematiannya.

Berikut bunyi ayat 10-11,

 (11) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepeda mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga (10). Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (11).”

Pada ayat kesepuluh, Tafsir Al-Ibriz dan Tafsir Hamami menyebutkan bahwa usaha Nabi Muhammad dalam memberi peringatan ataupun tidak kepada kafir Quraisy hasilnya tetap sama, yakni mereka tetap tidak akan beriman. Namun Nabi Muhammad memilih untuk memberikan peringatan kepada mereka, agar ketika di hadapan Allah, orang-orag kafir itu tidak punya alasan untuk mengelak. Kalau saja Nabi Muhammad berhenti memberi peringatan, maka bisa saja mereka akan beralasan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan pencerahan dan peringatan dari Nabi Muhammad.

Pada ayat kesebelas merupakan kebalikan dari ayat sebelumnya. Hanya orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad lah sebenarnya yang mendapat peringatan. Menurut Tafsir Al-Misbah, mereka adalah orang-orang yang menggunakan potensi keimanannya untuk sungguh-sungguh mengikuti adz-Dizkr (tuntunan Al-Qur’an) serta mereka takut (taat) kepada Allah Yang Maha Penyayang, yang gaib (tidak dapat dilihat). Oleh karena itu Rasulullah memberikan kabar gembira kepada mereka tentang ampunan ilahi dan ganjaran yang mulia, kebahagiaan tidak ada putusnya.

Baca Juga :  Peringatan Nabi bagi Orang yang Memahami Ayat Suci Al-Qur’an Secara Serampangan

Penggunaan kata Ar-Rahman dalam ayat ini untuk menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad, bukan tuhan yang kaum kafir sembah. Karena saat itu orang-orang kafir pun menggunakan kata “Allah” untuk menyebut tuhan yang mereka sekutukan.

Kebangkitan Manusia setalah Kematian

Pada ayat kedua belas Allah menjelaskan tentang kebangkitan manusia setelah kematian, berikut bunyi ayatnya,

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfudz)” (12)

Ayat kedua belas ini, dalam Tafsir Al-Qurthubi membagi empat bahasan. Pertama bahwa Allah yang menghidupkan orang-orang mati, ini menjadi bantahan kepada orang-orang kafir. Karena nantinya seluruh manusia yang telah mati akan dihidupkan kembali.

Bahasan kedua tentang catatan atas apapun yang mereka tinggalkan. Dalam hal ini seluruh amalan baik maupun buruk seseorang akan mendapat balasannya. Al-Qurthubi memberikan contoh seperti mengajarkan ilmu, menulis buku, mewakafkan harta, membangun masjid, membangun jembatan dan lain sebagainya masuk dalam amalan yang baik. Sedangkan amalan buruk seperti, orang yang dzalim, membunuh orang muslim, meletakkan duri di jalan serta membuat sesuatu yang mampu memalingkan dari Allah.

Ini menunjukkan bahwa amalan baik tidak hanya terbatas pada ibadah vertikal saja, melainkan juga muamalah antar sesama juga menjadi amalan yang dicatat oleh Allah melalui para malaikatnya. Di penafsiran lain, kata atsar tidaklah bermakna amal perbuatan secara umum. Melainkan jejak perjalanan menuju masjid. Makna ini ditakwilkan oleh Umar, Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jabir.

Baca Juga :  Tafsir Surat Yasin [36] ayat 1 - 3: Allah Menegaskan Kedudukan Nabi Muhammad

Bahasan ketiga, terkait hadits-hadits yang menyebut bahwa bertempat tingal jauh dari masjid lebih diutamakan. Lantas ada pertanyaan, jika seseorang tinggal dekat masjid apakah boleh pindah ke tempat yang lebih jauh? Untuk mendapatkan kefadhilahan hadits ini. Maka, menurut Al-Hasan dan madzhab Maliki ini dimakruhkan.

Bahasan keempat terkait kitab yang jelas. Mujahidah, Qatadah, dan Ibn Zaid mengatakan bahwa maksudnya adalah lauh mahfudz. Sedangkan ulama lain berpendapat buku catatan.

Demikian bahwa ayat-ayat ini merupakan poin penting agar umat muslim mengikuti Nabi Muhammad dan beramal kebaikan sebanyak-banyaknya. Karena nanti semuanya akan ada pertanggung jawaban. Siksaan untuk orang yang ingkar dan pahala bagi orang yang beriman.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here