Tafsir Surat At-Tin: 1-8: Manusia sebagai Makhluk Tuhan Paling Sempurna, Jika?

4
14102

BincangSyariah.Com – Bila melihat keterkaitan isi dari surat sebelumnya, surat ini merupakan turunan dari khusus ke umum. Surat Alam Nasyrah atau yang lebih dikenal dengan nama al-Insyirah adalah surat sebelum surat At-Tin yang berkesimpulan Rasulullah saw adalah manusia paling sempurna yang telah dianugerahi keistimewaan oleh Allah swt berupa kelapangan dada, keringanan beban serta kesehatan jasmani-rohani, yang tentunya patut dijadikan suri tauladan bagi seluruh manusia.

Sisi umumnya adalah bagaimana dalam surat al-Tin ini berisi tentang manusia sebagai makhluk Tuhan paling sempurna. Dalam artian, manusia merupakan sebaik-baik makhluk yang diciptkaan oleh Allah SWT.

Hal ini terlihat dari sisi potensi positif yang bisa selalu dikembangkan oleh pribadi masing-masing. Dan bahwa bila ingin menjadikan potensi dirinya semakin baik maka sepantasnyalah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan.

Kurang lebih begitu, bagaimana Quraish Shihab menggambarkan munasabah antara surat al-Tin dengan surat al-Insyirah.

Dalam term “potensi baik” bisa dilihat dari berbagai macam sisi. Potensi tersebut dalam bentuk fisik dan psikis. Salah satunya bisa berupa kemampuan intelektual, keilmuan, kesopanan, serta kesempurnaan fisik.

Pada ayat 1-3 Surat At-Tin ini, Allah berfirman,

 (3) وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ (1) وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ (2) وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ

“Demi Tin dan Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota yang aman ini”

Surat ini dibuka dengan sumpah. Apabila Allah SWT membuka sesuatu dengan sumpah maka maknanya adalah memberikan argumentasi sebagai penguat apa yang akan Allah firmankan.

Dalam hal ini Allah menggunakan tiga hal yang sangat berkaitan erat dengan apa yang ingin Allah sampaikan.

Pertama dengan tin dan zaitun. Kedua dengan bukit Sinai. Dan ketiga dengan kota yang aman.

Ulama berbeda pendapat dalam memaknai tiga hal tersebut. Namun pendapat yang lebih bisa diterima adalah pendapat yang menyatakan bahwa Allah SWT bersumpah dengan tempat-tempat para nabi menerima tuntunan Ilahi.

Ayat pertama berkaitan dengan tempat Nabi Isa as ketika menerima wahyu berupa Injil. Ayat kedua berhubungan dengan Nabi Musa as ketika menerima wahyu berupa Taurat. Dan ketiga merupakan tempat di mana Rasulullah saw menerima wahyu berupa al-Qur’an.

Setelah Allah menyebut empat hal yang dijadikan media sumpah, pada ayat selanjutnya merupakan peruntukan dari sumpah tersebut. Selanjutnya Allah swt berfirman:

 (4) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Kesempurnaan penciptaan di sini merupakan penggambaran anugerah Allah bahwa manusia tidak hanya dilengkapi dengan kesempurnaan fisik namun juga psikis yang menjadikannya berbeda atas makhluk lainnya. Manusia dianugerahi akal agar bisa membedakan antara baik dan buruk serta mampu menganalisis segalah hal yang berkaitan dengan alam semesta yang pada puncaknya menjadi pribadi paripurna sehingga bisa menjalani mandat sebagai khalifah di bumi.

(6) ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ (5) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

“kemudian Kami mengembalikannya ke(tingkat) yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”

Kedua ayat ini merupakan penjelasan tentang bagaimana manusia sebagai individu yang dianugerahi berbagai macam kemampuan dan kesempurnaan fisik, bisa mengaplikasikannya untuk hal-hal positif.

Namun apabila sebaliknya, maka ia hanya akan menjadi individu yang semakin tua akan semakin jatuh dalam keburukan dan kesengsaraan.

Maka dari itu, sangat dianjurkan untuk selalu menggali potensi-potensi positif agar di kemudian hari ia menjadi individu yang senantiasa berada dalam kebaikan yang tiada pernah putus.

 (8)  فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗ (7) اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

“Maka apakah yang menyebabkanmu mendustakan pembalasan sesudah (adanya keteranga-keterangan itu)? Bukankah Allah swt adalah Hakim yang paling sebaik

Surat ini ditutup dengan pertanyaan bahwa apakah masih akan mengingkari wahyu yang diturunkan kepada rasul-rasulNya, mengingkari segala anugerah Allah berupa kemampuan fisik untuk mematuhi segala perintahnya serta kemampuan intelektual untuk menganalisis yang haq dan yang batil? Sesungguhnya Allah maha adil dan bijaksana dalam memilah antara yang kebenaran dan kebatilan, menetapkan siapa yang taat dan yang durhaka, serta yang memberi balasan setimpal bagi setiap usaha.

Semuanya tidak akan pernah tertukar dan tidak akan pernah melebihi dari apa yang seharusnya.

Tidak heran apabila setelah membaca surat al-Tin, Rasulullah saw menganjurkan untuk menyambut pertanyaan Allah swt tersebut dengan membaca,

بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Benar ya Allah (Engkaulah yang paling bijaksana dan paling adil) dan aku termasuk salah seorang yang bersaksi atas hal itu” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidzi)

100%

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here