Tafsir Surat Quraisy

0
1171

BincangSyariah.Com – Dalam Alquran, kabilah Quraisy ini diabadikan dalam surat yang disebut sebagai surat Quraisy. Kabilah ini menurut Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah-nya merupakan suku terkuat di masa prakenabian dan di masa pasca kenabian. Dengan membaca sepak terjang suku ini melalui teori ashabiyyah-nya yang terkenal, Ibnu Khaldun berkesimpulan bahwa dakwah agama Islam tidak akan berkembang pesat tanpa sokongan dari suku terkuat ini. Namun sebenarnya apa yang dimaksud oleh Alquran dengan suku Quraisy ini dan apa pentingnya mereka dalam Islam sehingga nama suku ini diabadikan dalam satu surat tersendiri dalam Alquran.

Inilah yang akan kita bahas dalam artikel ini. Untuk membahas suku ini, tulisan ini hanya merangkum data-data kesejarahan dari as-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam mengenai asal usul nama Quraisy dan berikut pertentangan yang terjadi di dalamnya.

Munculnya Quraisy dalam literatur kesejarahan dimulai dengan Qushayy bin Kilab, kakek Nabi keempat yang hidup di pertengahan Abad Kelima Masehi, yakni seratus lima puluh tahun sebelum kelahiran Muhammad, sang Rasul. Nasab Qushayy ini sampai ke Fihir yang dalam sejarah sering disebut sebagai Quraisy. Kemudian ahli sejarah melacak asal-usul Fihir ini sampai ke Adnan, leluhur Arab Utara.

Jadi kira-kira nasab kakeknya Nabi yang keempat ini dapat diurutkan demikian; Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luayy bin Ghalib bin Fihir (terkenal dengan sebutan Qurasiy) bin Malik bin an-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Maad bin Adnan. Para ahli sejarah menyebut pohon nasab dan asal-usul Qusyayy melalui jalur ini sampai ke Ismail bin Ibrahim AS dengan banyak perbedaan di kalangan mereka.

Nama Quraisy digunakan baik sebelum masa dakwah kenabian, di masa kenabian maupun setelah masa kenabian Muhammad SAW. Quraisy mencakup kumpulan kabilah-kabilah yang asal-usulnya bernasabkan Fihir seperti telah disebut di atas. Ketika tinggal di Mekkah dan menancapkan dominasinya di kota ini, Quraisy merupakan gelar kesukuan tersendiri yang membedakannya dari kabilah-kabilah Arab lainnya. Dalam literatur kesejarahan, yakni dalam hubungannya dengan suku Arab lainnya, kita akan sering menemukan istilah Quraisy dan Arab (Quraisy wa al-Arab) yang menunjukkan adanya keistimewaan yang pertama di atas yang kedua. Kita akan coba melihat kabilah Quraisy ini dari dekat. Hal demikian karena dengan memahami kabilah ini kita akan melihat sejauh mana respon suku ini terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW terutama ketika di Mekkah.

Kabilah-kabilah yang tinggal di Mekkah di masa dakwah Nabi Muhammad SAW ialah; 1) Banu al-Harits bin Fihir (Quraisy); 2) Banu Muharib bin Fihir; 3) Banu Amir bin Luayy bin Ghalib bin Fihir; 4) Banu Adiyy bin Kaab bin Luayy bin Ghalib bin Fihir; 5) Banu Jumah bin Amru bin Hashish bin Adiyy bin Kaab bin Luayy..; 6) Banu Sahm bin Amru bin Hashish bin Adiyy bin Kaab bin Luayy; 7) Banu Taym bin Marrah bin Kaab bin Luayy; 8) Banu Makhzum bin Yaqdzhah bin Marrah bin Kaab bin Luayy; 9) Banu Zahrah bin Kilab bin Marrah bin Kaab bin Luayy; 10) Banu Asad bin Abdul Uzza bin Qushayy bin Kilab bin Marrah bin Kaab bin Luayy; 11) Banu Abdi Dar bin Qushayy bin Kilab; 12) Banu Abdi Manaf bin Qushayy bin Kilab.

Baca Juga :  Lima Rukun Nikah dan Ketentuannya

Abdu Manaf ini memiliki empat anak yang masing-masingnya bernama al-Mutthalib, Naufal, Abdu Syams dan Hasyim. Hasyim ini merupakan ayah dari Abdul Mutthalib. Sementara Abdul Muttalib sendiri ialah ayahnya Abdullah dan Abdullah sendiri ialah bapaknya Nabi Muhammad SAW.
Kumpulan suku-suku Quraisy ini tinggal sendiri-sendiri di Mekkah tanpa ada otoritas yang terpusat.

Otoritas suku-suku yang tanpa pusat ini, meski berpengaruh dan tidak koersif ada di masing-masing kepala suku yang memiliki leluhur yang sama dan tinggal berdampingan di pedalaman kota Mekkah, sementara itu suku-suku selain yang disebut di atas yang tinggal di pinggiran kota Mekkah disebut juga sebagai Qurasiy Dzhawahir, Quraisy Pinggiran.

Qushayy bin Kilab dalam as-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam disebut sebagai keturunan Bani Kaab bin Luayy pertama yang memiliki kekuasaan berpengaruh dan ditaati oleh kaumnya. Beberapa sumber kesejarahan menyebut awal kisah Qushayy berkuasa ini diawali dengan kehidupan masa kecilnya di kalangan pamannya (akhwal) yang bertempat di Qudhaah, salah satu negeri yang berbatasan dengan Suriah. Ketika sudah menjadi dewasa, ia tinggal di Mekkah dan menikahi puteri Halil al-Khuzai yang saat itu menjadi pimpinan di Mekkah.

Sebelumnya, Banu Haritsah bin Amru yang sering disebut sebagai Khuzaah (kabilah asal Halil al-Kuzai, mertua Qushayy) dan merupakan turunan dari kabilah al-Azad pindah dari Yaman pasca hancurnya bendungan Marib dan menuju ke utara. Mereka tinggal di Mekkah setelah merebut kekuasaan dari kakeknya, Qahthan. Kepala suku Khuzaah ini saat itu bernama Amru bin Luhayy yang konon katanya disebut sebagai orang pertama kali yang mendatangkan berhala dan patung dari Suriah.

Qusyayy memimpin Mekkah pada tahun 440 Masehi dan mewarisi kerajaan mertuanya yang bernama Halil al-Khuzai (dari suku Khuzaah) tersebut. Qushayy menguasai Mekkah ini setelah sebelumnya merebutnya terlebih dahulu dari kabilah mertuanya dengan meminta bantuan dari kabilah Qudaah, suku pamannya Qusyayy sendiri dari pihak ibu. Qushayy lalu mengumpulkan kabilah-kabilah Quraisy yang tersebar di Kinanah, wilayah selatan Mekkah dekat dengan pantai barat. Sementara itu, suku Khuzaah sendiri, suku mertuanya, pindah ke wilayah Timur Laut Mekkah.

Tugas kepemimpinan di Mekkah ialah memberi tirai atau menghijabi Kabah, memberi makanan dan minuman bagi Jamaah Haji selain sebagai pembawa bendera di saat perang. Qushayy ini membentuk tempat perkumpulan yang disebut Dar an-Nadwah, tempat kumpulan para pembesar Quraisy untuk mendiskusikan urusan-urusan bersama suku-suku Quraisy.

Qusyayy memiliki empat anak yang masing-masingnya bernama: Abdu Dar, Abdu Manaf, Abdul Uzza dan Abdu Qusyayy. Abdu Manaf, Abdul Uzza dan Abdu Qusyay merupakan anak-anak Qushayy yang sukses dalam kehidupan mereka. Mereka ini terkenal sebagai saudagar-saudagar terkaya di masanya. Sedangkan Abdu Dar, anak Qushayy yang tertua, diberi tugas kepemimpinan di Mekkah oleh ayahnya sendiri yakni tugas untuk memberi tirai bagi Kabah, memberi makanan, dan memberi minum bagi jamaah haji dan seterusnya.

Tugas kepemimpinan ini diwariskan kepada keturunan-keturunannya. Namun kelak keturunan Abdu Manaf menyaingi keturunan Abdu Dar ini dalam tugas-tugas kepemimpinan di Mekkah. Lalu terjadilah permusuhan antara keturunan Abdu Manaf dan Abdu Dar dan permusuhannya ini makin sengit sehingga memecah suku-suku Quraisy menjadi dua kubu yang mendukung masing-masing dua pihak yang sedang bertengkar ini; kubu pertama, kubu Bani Abdi Manaf didukung oleh koalisinya dari Banu Asad, Banu Zahrah, Banu Taym, Banu al-Harits bin Fihir dan kubu kedua, kubu Bani Abdi Dar didukung oleh koalisinya dari Banu Makhzum, Banu Jumah dan Banu Adiyy. Sedangkan Banu Muharib dan Banu Amir bersikap netral dan tidak memihak.

Baca Juga :  Bidah dalam Pandangan K.H. Ali Mustafa Yaqub

Kubu yang pertama disebut dalam literatur kesejarahan sebagai al-Mutayyibin yang berwangi-wangian karena ketika melakukan perjanjian aliansi, mereka mencelupkan tangan-tangan mereka ke dalam bejana yang berisi wewangian. Sementara itu, kubu kedua disebut sebagai Laaqat ad-Dam atau Lumuran Darah karena ketika melakukan perjanjian aliansi dan kerjasama, mereka mencelupkan tangan mereka ke bejana yang sudah diisi lumuran darah. Namun di ujung pertikaiannya, kedua kubu ini melakukan perjanjian damai dengan membagi-bagi jatah dan tugas kerja kepemimpinan bagi keturunan dua pihak yang bersengketa: Banu Abdi Manaf dan Banu Abdi Dar.

Banu Abdi Manaf memiliki tugas untuk memberi makanan dan memberi minuman bagi jamaah haji, sedangkan Banu Abdi Dar memiliki tugas untuk memberi tirai Kabah, membawa bendera perang dan memimpin perkumpulan di Dar an-Nadwah. Demikian seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyyah.

Pada tahap selanjutnya, pertikaian muncul di kalangan keturunan Bani Abdi Manaf sendiri yang terpecah menjadi kubu Bani Umayyah dan kubu Bani Hasyim. Telah disebut sebelumnya bahwa Bani Abdi Manaf memiliki empat orang anak, yaitu Hasyim, al-Muttalib, Naufal dan Abdi Syams. Naufal ini merebut kekuasaan keponakannya sendiri yang bernama Abdul Muttalib bin Hasyim. Yang terakhir ini kemudian meminta bantuan kepada saudara-saudaranya dari Banu Abdi Manaf namun sayangnya mereka enggan membantu. Kemudian Abdul Muttalib bin Hasyim ini meminta bantuan kepada keluarga ibunya, Bani Najjar di Yathrib. Istri ayahnya Abdul Mutthalib yang bernama Hasyim tersebut berasal dari suku Bani Najjar ini. Lalu Abdul Muttalib dibantu mereka dan berhasil merebut kembali kekuasaan yang direbut oleh pamannya yang bernama Naufal.

Selanjutnya, Naufal sendiri kemudian berkoalisi dan bekerja sama dengan Bani Abdi Syams untuk melawan Bani Hasyim. Sementara itu, Abdul Muttalib bin Hasyim sendiri meminta bantuan dari suku Khuzaah yang berasal dari Yaman, keluarga dari pihak ibunya untuk bekerja sama melawan Naufal dan Bani Abdi Syams. Perjanjian aliansi Abdul Muttalib dengan suku Khuzaah ini memiliki pengaruh yang besar saat Fathu Makkah karena suku Khuzaah ini mendukung Nabi dan beraliansi dengannya untuk melawan Quraisy ketika perjanjian Hudaibiyyah.

Hasyim dan Abdu Syams ini sebenarnya dari awal selalu bersaing. Mereka ini adalah anak kembar. Persaingan ini berubah menjadi konflik antara Umayyah bin Abdi Syams yang saat itu memiliki banyak harta dan anak dan Bani Hasyim yang saat itu memiliki tugas kepemimpinan memberi makan dan memberi minum bagi jamaah haji. Hasyim terkenal dengan kedermawanannya.

Hasyim dan Umayyah ini kemudian beradu dan bersaing siapa di antara mereka yang memiliki kedudukan tertinggi dan berketurunan banyak. Mereka berdua ini berundi dengan lima puluh unta di Mekkah yang harus dibayar oleh pihak yang kalah selama sepuluh tahun. Mereka berdua ini bermediasi dengan dukun dari Khuzaah dan memutuskan bahwa Hasyim yang menang. Lalu Hasyim ini mengambil unta dari Umayyah dan disembelih kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk Mekkah. Sementara itu, Umayyah sendiri pergi jauh ke Suriah selama sepuluh tahun. Kisah ini pada tahap selanjutnya menjadi awal dari pertikaian bagi Bani Umayyah dan Bani Hasyim yang memiliki dampaknya yang kuat pada masa kenabian Muhammad SAW.

Baca Juga :  Bolehkah Barang Jaminan Utang Diolah Agar Mendapat Keuntungan?

Kelak keturunan dua kabilah ini, Harab bin Umayyah dan Abdul Muttalib bin Hasyim berseteru lagi dan bermediasi kepada Nufail bin Abdul Uzza, kakeknya Umar bin al-Khattab. Nufail ini memenangkan pihak Abdul Muttalib.

Suatu hari datanglah seorang pedagang dari Yaman ke Mekkah dan menjual barang kepada al-Ashi bin Wail, pimpinan Bani Sahm. Namun al-Ashi ini lambat dalam membayar hutang bahkan sampai bertahun-tahun. Pedagang dari Yaman ini karena merasa kecewa dan kesal akhirnya mengadukan perkara ini kepada para pimpinan Quraisy. Aduan pedagang dari Yaman ini didukung oleh Banu Hasyim (Hasyim sendiri istrinya dari Yathrib dan dari kabilah Yaman), Banu al-Mutthalib, Banu Zahrah, Banu Taym dan Banu al-Harith bin Fihir. Mereka ini ini melakuan perjanjian aliansi dan membentuk organisasi pembela kebenaran yang disebut dengan Hilf al-Fudul. Nabi Muhammad SAW menyaksikan perjanjian ini di masa mudanya dan belum menerima wahyu sama sekali.

Jelaslah dari sini bahwa perjanjian aliansi ini merupakan perpanjangan tangan dari aliansi al-Mutthayyibin (kecuali Bani Abdi Syam dan Bani Naufal). Bani Abdi Syam dan Bani Naufal ini tidak masuk ke aliansi al-Mutthayyibin ini karena pertikaian mereka dengan Bani Hasyim. Atas dasar ini, Bani Abdi Syams dan Bani Naufal menyeberang dukungan dan bergabung dengan aliansi Laaqat ad-Dam.

Berangkat dari penjelasan Ibnu Hisyam dari as-Sirah an-Nabawiyyah ini dapat disimpulkan bahwa peta hubungan kabilah Qurasy di Mekkah di masa kenabian menjadi tiga kubu: kubu pertama, Banu Hasyim dan Banu al-Mutthalib yang didukung oleh Bani Taym, Bani Zahrah, Bani Adiyy dan Bani al-Harith bin Fihi; kubu kedua, Banu Abdi Syams dan Bani Naufal yang didukung oleh Bani Asad dan Bani Amir; dan kubu ketiga, Banu Makhzum, Banu Saham, Banu Jumah dan Bani Abdi Dar. Antara kubu kedua dan ketiga ini ada kepentingan dagang sehingga Bani Makhzum dan Bani Abdi Syams saling bekerja sama. Kerjasama ini menjadi kuat ketika muncul dakwah kenabian. Mereka menjadi musuh utama bagi dakwah Nabi dan keluarganya dari Bani Hasyim.

Jaringan relasi kekabilahan atau aliansi dukungan bersama yang mirip dengan koalisi partai di zaman modern ini selain sebagai relasi kedekatan juga menjadi pelindung bagi individu-individu yang berada di dalamnya. Dengan kata-kata lain, jika ada salah seorang anggota dalam kabilah tertentu dianiaya dan dihina oleh anggota dari kabilah lain, maka dengan sendirinya akan terjadi perang antara kabilah yang anggotanya dianiaya dan dihina dengan kabilah yang anggotanya menganiaya tersebut. Perang ini tidak hanya melibatkan dua kabilah saja namun juga kabilah-kabilah yang berkoalisi dengan pihak masing-masingnya. Jadilah perang antar kabilah.

Kenyataan inilah yang membuat musuh dakwah Nabi Muhammad SAW dari Bani Makhzum dan Bani Umayyah tidak dapat menganiaya anggota kabilah Quraisy yang sudah masuk Islam. Hal demikian karena dengan menyentuh mereka, sama saja dengan menyalakan api perang dengan kabilah-kabilah yang berada di belakangnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here