Tafsir Surat An-Nazi’at: 1-5: Mengenal Tugas dan Ciri Khas Malaikat

0
305

BincangSyariah.Com – Malaikat merupakan entitas yang penuh misteri, namun eksistensinya wajib diimani oleh umat Islam karena termasuk salah satu rukun iman. Tidak banyak petunjuk dari agama yang memberikan informasi mengenai makhluk gaib satu ini.

Di antara ayat al-Qur’an yang memberi sedikit gambaran mengenai malaikat dan pembagian tugasnya adalah surah An-Nazi’at: 1-5.

Lima ayat pertama dari surah An-Nazi’at ini sebenarnya bersifat multitafsir diperdebatkan  apa tema yang sedang dibicarakan. Ada ulama yang menafsirkannya dengan pergerakan bintang-bintang di langit seperti Qatadah dan Muhammad Abduh. Adapula yang berpendapat bahwa ayat ini membicarakan mengenai lesatan anak panah di peperangan. Ini adalah pendapat Ikrimah dan ‘Atha’ bin Abi Rabah, namun menurut pendapat mayoritas, tema yang dibicarakan adalah seputar malaikat.

Allah berfirman dalam surat An-Nazi’at: 1-2,

Ayat pertama dan kedua berbunyi sebagai berikut:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.”

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut”

Kedua ayat di atas menurut Ibn Abbas, sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang dua cara malaikat maut mencabut nyawa manusia. Terhadap orang kafir, nyawanya dicabut oleh malaikat dengan keras, sedangkan nyawa orang mukmin akan dicabut dengan lemah-lembut. Pembedaan perlakuan tersebut bisa jadi merupakan suatu bentuk balasan awal atas perbuatan ingkar dan iman mereka ketika di dunia.

Adapun menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, penarikan ruh orang kafir secara keras oleh malaikat maut dikarenakan adanya perlawanan dan penolakan dari mereka yang enggan meninggalkan dunia dan telah mengetahui siksaan pedih yang sedang menantinya.

Sebaliknya, orang mukmin yang telah ditampakkan padanya kenikmatan surga sesaat sebelum malaikat mencabut ruhnya, akan senang hati merelakan kehidupan dunia, sehingga proses pencabutan ruhnya terasa mudah, ringan dan tidak terlalu menyakitkan.

Baca Juga :  Antara Hak Allah dan Hak Makhluk, Mana yang Harus Didahulukan?

Kemudian, Allah berfirman dalam ayat ke-3 dan 4 An-Nazi’at,

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا

“Demi (malaikat-malaikat) yang berpindah-pindah dengan cepat”

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

“Demi (malaikat-malaikat) yang saling mendahului dengan kencang”.

Malaikat adalah makhluk yang bersayap. Dalam surah Al-Fatir ayat 1 dijelaskan di antara malaikat, ada yang memiliki dua, tiga atau empat sayap, bahkan Jibril as diceritakan dalam hadis riwayat Muslim, ketika terlihat oleh Nabi wujud aslinya, memiliki 600 sayap yang apabila satu helai saja dari sayapnya dibentangkan akan menutupi ufuk. Selain itu, penciptaan malaikat berasal dari unsur cahaya. Sebagai wawasan, jika yang dimaksud adalah cahaya yang biasa dikenal manusia, menurut Albert Einstein kecepatan lajunya sekitar 300.000 km per detik. Dari perbandingan tersebut, Wallahu A’lam, wajar jika disebut malaikat dapat bergerak dengan sangat cepat.

Redaksi “cepat” dan “saling mendahului” pada ayat 3 hingga 4 itu, bagi al-Qusyairi dalam tafsirnya Lathaiful Isyarat dan az-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf, juga dapat berarti bahwa malaikat dalam melaksanakan perintah Allah selalu bersegera dan berlomba-lomba menunaikannya.

Kemudian, dilanjutkan ke An-Nazi’at ayat 5, disebutkan malaikat “membantu” mengatur urusan dunia,

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

“Demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”

Allah menciptakan malaikat dengan berbagai macam tugas yang diembankan pada mereka. Ada Jibril yang ditugasi sebagai perantara wahyu, Israfil sang peniup sangkakala, Ridwan dan Malik sebagai penjaga surga dan neraka, Munkar dan Nakir yang menanyai manusia dalam kubur, Raqib dan Atid sang pencatat amal dan Izrail yang mencabut nyawa. Ada juga yang ditugasi untuk rukuk dan sujud sampai hari kiamat dan yang mengatur hujan, rezeki, ajal dan lain sebagainya.

Meskipun dibebani berbagai macam tugas tersebut, tidak ada dari mereka yang lalai akan tugasnya. Semua yang ditugaskan akan dilaksanakan dan mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. At-Tahrim: 6.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Kautsar: Karunia yang Berlimpah

Malaikat dalam Islam adalah Dewa-Dewi ?

Konsep malaikat dalam Islam tidak sama dengan konsep dewa-dewi dalam agama dan kepercayaan lain yang memiliki kuasa penuh dalam mengatur alam semesta. Malaikat hanyalah kepanjangan ‘tangan’ dari Allah. Ini juga tidak berarti Allah tidak berkuasa untuk mengatur alam semesta ini sendiri tanpa bantuan malaikat, melaikan malaikat diciptakan guna menunjukkan keagungan Allah itu sendiri.

Demikianlah keistimewaan malaikat dengan berbagai macam tugasnya yang tidak lain menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Ayat-ayat ini juga mengajarkan kita bahwa malaikat dengan segala kesempurnaan fisiknya tersebut sungguh sangat patuh dan tunduk pada perintah Allah. Maka di manakah posisi kita dibanding mereka? Semoga ini dapat menambah keimanan kita kepada Allah dan hal-hal gaib seperti malaikat-malaikat-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here