Tafsir Surat al-Syams Ayat 1-10; Membaca Keindahan Semesta Raya dengan Jiwa

0
1412

BincangSyariah.Com – Sebelum membahas surat al-Syams perlu diketahui bahwa di dalam Al-Qur’an ada yang disebut dengan qasam atau sumpah. Qasam meniscayakan adanya jawab al-qasam atau subtansi yang karena dianggap penting maka didahului dengan sumpah. Di sini, Allah bersumpah demi alam semesta raya yang keindahannya  merupakan bukti tentang kebenaran-Nya.

والشمس وضحها . والقمر اذاتلها . والنهار اذا جلها. واليل اذا يغشها . والسمآء وما بنها والارض وما طحها ونفس وما سواها. فالهمها فجورها وتقواها.  قد افلح من زكها.  وقد خاب من دسها.

(1) Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (2) dan bulan apabila mengiringinya (3) dan siang apabila menampakkannya (4) dan malam apabila menutupinya (5) dan langit serta pembinaannya (6) dan bumi serta penghamparannya (7) dan jiwa serta penyempurnaannya (8), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya (9), sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Al-Syams; 1-10)

Di dalam surat al-Syams di atas, Allah Swt bersumpah pada ayat satu hingga ayat delapan. Jawab dari sumpah tersebut adalah pada ayat kesembilan. Mufasir seperti al-Tabari, al-Baghawi, hingga al-Qurthubi tidak merisaukan masalah korelasi atau munasabah apa yang menghubungkan antara qasam dan jawabnya pada surat ini.

Tapi perihal korelasi atau munasabah inilah yang urgen untuk menjawab tudingan para orientalis yang menuduh bahwa Al-Qur’an tidak sistematis dan bahkan mereka menganggap ayat-ayatnya tidak koheren. Untuk ini perlu saya ulangi lagi pertanyaan di awal, adakah kita pernah memikirkan korelasi antara mentari, rembulan, siang, malam, langit, bumi dan jiwa dengan penyuciannya? Jika belum pernah, yuk. istighfar bareng!

Kita beruntung masih ada sosok Syaikh al-Biqa’i yang mendalami perihal korelasi ayat dan surat dalam tafsirnya yang berjudul Nadzm al-Durar fi Tanasub al-Ayy wa al-Suwar. Dalam penafsirannya mengenai surat al-Syams, al-Biqa’i menggambarkan bahwa elemen-elemen sumpah tersebut mengandung makna semiotik.

Baca Juga :  Memetik Hikmah dari Pesan Iblis

Kata mentari pada ayat pertama menurut al-Biqa’i menyimbolkan kenabian karena seluruh sifat kenabian adalah cahaya yang berkilau dengan kejernihan murni. Meski begitu beliau juga bilang bahwa selain mentari menghadirkan cahaya ada juga yang dapat terbakar karenanya. Orang beriman yang dapat berpikir akan mendapatkan manfaat dari cahaya kenabian. Sementara orang kafir yang menutup diri dari cahaya hanya mendapatkan terik yang membakar hatinya. Adapun waktu dhuha adalah gambaran risalah dengan sinaran cahaya terang berwibawa yang pada hakikatnya tidak membakar.

Selanjutnya persimbolan untuk kata rembulan adalah kewalian menurut al-Biqa’i. Tiada cahaya bagi rembulan kecuali sumbernya adalah mentari. Ia bisa menyerap cayaha mentari sesuai dengan kadar wujudnya. Bahwa dalam purnama ia sanggup menyerap cahaya mentari sepenuhnya dan memantulkannya.

Menurut al-Biqa’i yang dikatakan dalam ayat kedua ini bahwa rembulan mengikuti matahari adalah arti majazi (konotasi). Bukan rembulan mengorbit pada mentari, karena kita saling tahu bahwa bulan mengorbit pada bumi. Penekanannya adalah pada sumber cahaya rembulan yang bergantung pada matahari. Mustahil terdapat kewalian yang tidak bersumber dari cahaya kenabian. Berbicara tentang kewalian tidak lepas dari kemampuan intuisi yang ada pada ayat ketiga.

Pada ayat ketiga al-Biqa’i beranggapan bahwa siang menyimbolkan ‘irfan atau kemampuan intuitif. Pada siang hari segela yang di ufuk tampak oleh mata. Kita dapat melihat serangkaian fenomena agung bahkan bisa memilih yang mana yang lebih syahdu. Apakah suasana cerah yang menjadikan kita riang, mendung gelap yang dapat menjadikan kita muram, rinai hujan yang kerap mendesirkan pikiran, atau bahkan sepotong senja dengan sinar teduh yang meratap untuk dikenang. Dalam siang segalanya menampakkan dirinya berasal dari kasih Allah Ta’ala. Di titik ini kesadaran intuitif berada pada puncaknya, tajalli. Bagaimana cara untuk mencapai titik ini? Jawabnya ada pada ayat keempat.

Baca Juga :  Membongkar "Mitos Pluralisme di NU": Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [2]

Kata malam pada ayat keempat menurut al-Biqa’i adalah simbol penghilangan nafsu, yakni dengan berzikir kepada Allah dan mengingat apa yang datang dari sisi-Nya. Upayanya untuk ridha menerima apa yang datang dari kenabian atau kewalian dan keulamaan yang juga merupakan para wali Allah.

Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menyebutkan bahwa jikalau para ulama bukanlah wali maka tiada wali bagi Allah. Pernyataan dari keduanya ini diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib, ulama otoritatif yang disebutkan dalam al-Tibyan dan tulisan al-Nawawi yang lain.

Sifat dari malam yang juga penting untuk diamati menurut al-Biqa’i adalah caranya untuk mengambil cahaya sampai gelap sempurna. Ini berlangsung secara berangsur-angsur, tidak sekaligus. Berbeda dengan siang yang semburat cahayanya seketika melenyapkan kegelapan. Malam beranjak sedikit demi sedikit dari ufuk timur. Untuk itu proses penghilangan nafsu perlu mujahadah dan tidak bisa instan. Nafsu selalu berkaitan dengan tubuh, dalam bahasa kita orang yang berhubungan suami istri juga disebut bersetubuh. Membincang tentang tubuh al-Biqa’i mengambil simbol langit pada ayat selanjutnya.

Menurut al-Biqa’i kata langit pada ayat kelima merupakan simbol proses pengangkatan serta penghilangan syahwat dan godaan setan baik jin maupun manusia. Langit adalah tempat siang dan malam terjadi. Langit adalah ibarat bagi tubuh atau badan menurut al-Biqa’i karena di dalamnya terdapat jiwa dan akal. Apabila ketiganya saling bersinergi maka akan muncul harmoni. Namun jika yang ada hanyalah kontestasi maka semuanya akan binasa. Selain tempat bagi jiwa dan akal badan juga merupakan tempat paling purba (baca: hewani) dari manusia. Oleh karenanya badan butuh dilangitkan dengan bantuan jiwa dan akal, untuk setidaknya mengendalikan gairahnya.

Baca Juga :  Berpakaian Ada yang Sunah dan Haram, Ini Kriterianya

Adapun kata bumi menurut al-Biqa’i adalah simbol dari proses menempatkan hak Allah dan rasul-Nya juga hak bagi orang-orang mukmin sehingga dapat memunculkan kemanfaatan bagi mereka seperti bumi yang menumbuhkan tanaman. Bumi adalah jiwa untuk itu elemen alam raya ini berdekatan dengan jawab qasam. Bumi dengan segala yang mengisinya dan jiwa dengan segala yang menyusunnya.

Setiap yang menyucikan jiwanya sungguh ia merupakan seorang beruntung. Sementara orang yang mengotori jiwa menyelisihi ini. Siapapun yang melakukan amal buruk maka ia telah menghancurkan jiwanya dan membakarnya.

Menanam kebaikan di bumi sama dengan menanam pepohonan menurut al-Biqa’i. Sementara menambang kandungan bumi hanya menyisakan kotoran atau keburukan bagi bumi. Pernyataan al-Biqa’i ini menarik untuk dicermati karena masa hidupnya pada abad ke-15 jauh sebelum revolusi industri yang baru muncul pada paruh kedua abad ke-18.

Pengibaratan bumi sebagai jiwa memiliki dua titik resiprokal. Pertama, kesadaran majazi agar kita bersedia merawat jiwa seperti yang dikatakan al-Biqa’i di atas. Jiwa yang tidak terawat bisa jadi kering kerontang. Lebih-lebih jiwa yang selalu dikotori maka ia tidak akan dapat menumbuhkan sesuatu bahkan mematikannya. Kedua, kesadaran realistis bahwa bumi memang sudah selayaknya kita lestarikan. Dua titik resiprokal tersebut harusnya memunculkan kesadaran yang niscaya di era menyeruaknya sampah industri dewasa ini. Bahwa tanpa jiwa hidup manusia menjadi hampa dan tanpa bumi manusia tak lagi hidup bernyawa. Mari lestarikan jiwa yang bumi kita dan bumi yang jiwa kita.

Lantas apa kaitan antara simbol-simbol di atas dengan kisah kaum Tsamud di ayat setelahnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here