Tafsir Surat al-Mukminun 5-7: Al-Qur’an Melarang Perilaku Seks Menyimpang

0
589

BincangSyariah.Com- Sebagai seorang insan, gejolak antara hitam dan putih dalam hati selalu mengalir. Untuk menanggulangi terjerumusnya kedalam dunia hitam, Allah Swt. memperingatkan dalam surat al-Mu’minun: 5-7,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ .فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Mereka ( orang-orang yang beruntung ) adalah orang-orang yang menjaga kemaluan mereka . Kecuali kepada pasangan atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barang siapa mencari di balik itu, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas”

Dari sudut pandang sebab turunnya ayat (Asbab an-Nuzul), ayat di atas diturunkan di makkah. Umar menyampaikan detik-detik diturunkanya ayat tersebut terdengar suara gemuruh lebah di depan wajah nabi, kemudian kami terdiam. Tidak lama kemudian nabi menghadap kiblat dan mengangkat kedua tanganya, lalu berdoa. Kemudian beliau bersabda,

لقد أنزلت علي عشر آيات، من أقامهن دخل الجنة

“ Sungguh telah turun sepuluh ayat kepadaku, barang siapa menjaganya maka akan masuk surga”.

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibn Katsir ad-Dimasyqi disampaikan bahwa ayat di atas menegaskan atas sebuah keberuntungan bagi mereka yang menjaga kemaluan mereka dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah. Termasuk dalam kategori larangan ini adalah perilaku seks menyimpang seperti onani dan seks dengan binatang (bestialitas atau zoophilia).

Ulama fiqh bersepakat diharamkan melakukan hubungan intim dengan binatang berdasarkan ayat di atas. Pelaku hubungan intim tersebut menurut mayoritas ulama hanya dikenakan ta’zir (hukuman sebagai bentuk teguran). Dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah:

وَاحْتَجَّ الْجُمْهُورُ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِ الْحَدِّ بِوَطْئِهَا :بِأَنَّهُ قَدْ أَتَى مُنْكَرًا، – إلى أن قال –  فَعَلَيْهِ التَّعْزِيرُ.وَبِأَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ فِي وُجُوبِ الْحَدِّ بِوَطْئِهَا شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلاَ يُمْكِنُ قِيَاسُهُ عَلَى الْوَطْءِ فِي فَرْجِ الآْدَمِيِّ، لأَِنَّهُ لاَ حُرْمَةَ لَهَا، وَلَيْسَ وَطْؤُهَا بِمَقْصُودٍ يَحْتَاجُ فِي الزَّجْرِ عَنْهُ إِلَى الْحَدِّ، فَإِنَّ الطَّبْعَ السَّلِيمَ يَأْبَاهُ، وَالنُّفُوسَ تَعَافُهُ، وَعَامَّتَهَا تَنْفِرُ مِنْهُ، فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى زَجْرٍ عَنْهُ بِحَدٍّ، وَيَكْفِي فِيهِ التَّعْزِيرُ

Baca Juga :  Dosen IAIN Surakarta: Indonesia Sangat Berpotensi Jadi Pusat Kajian Tafsir Asia Tenggara

“ Mayoritas ulama menegaskan tidak adanya had bagi pelaku hubungan dengan binatang, maka wajib takzir baginya dan sebab tidak ada dalil dari nabi yang mewajibkan had. Sebab sifat normal tidak akan melakukanya dan menghindarinya maka tidak diperlukan had untuk mencegahnya dan cukup adanya takzir”.

Mengeluarkan sperma dengan menggunakan tangan sendiri yang sering disebut dengan onani merupakan tindakan yang dilarang agama. Dalam al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (j. 5 h. 65),

والاستمناء باليد ذنب كبير وإثم عظيم نهى عنه الشارع وحذر منه الرسول صلى الله عليه و سلم لما يترتب عليه من الأمراض الصحية والاجتماعية وقد ورد أن صاحبه يأتي يوم القيامة ويده حبلى إذا مات ولم يتب من ذنبه  قال تعالى في كتابه العزيز- إلى أن قال – فهذا يفيد حرمة الاستمناء باليد لأنه من شأن العادين على حدود الله تعالى الخارجين عن الفطرة الإنسانية

“Mengeluarkan sperma dengan menggukanan tanganya sendiri merupa kan dosa besar yang dilarang syari’ah dan rosul telah melarangnya, sebab menimbulkan banyak penyakit . dan dijelaskan bahwa pemilik tangan tersebut kelak di hari akhir tanganya dalam keadaan hamil ketika dia mati sebelum bertaubat dari dosanya. Dan alloh berfirman ( ayat diatas ), dari sini memberikan pengertian haram onani dengan tanganya sendiri. Sesungguhnya hal demikian termasuk melanggar batasan alloh yang keluar dari fitrah seorang insan.”

Dalam al-Hawi al-Kabir disampaikan :

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : لَعَنَ اللَّهُ النَّاكِحَ يَدَهُ ، وَلِأَنَّهُ ذَرِيعَةٌ إِلَى تَرْكِ النِّكَاحِ ، وَانْقِطَاعِ النَّسْلِ ، فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا كَاللِّوَاطِ .

Dan ada diriwayatkan dari nabi SAW. Bahwa beliau bersabda : “Allah melaknat orang yang menikah dengan tanganya sendiri”.

Dan dikarenakan onani sebagai perantara meninggalkan pernikahan dan terputusnya keturunan, maka diharamkan sebagaimana sodomi. Namun, onani ini menurut satu pendapat menjadi diperbolehkan jika dilakukan oleh sepasang suami istri. Ini disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulumuddin,

وله أن يستمني بيديها

Baca Juga :  Benarkah Jika ِAnak Masih Ada Kakek Tidak Disebut Yatim?

“Dan diperbolehkan baginya mengeluarkan sperma dengan tanganya (istri)”

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here