Tafsir Surat Al-Fatihah: Optimisme dalam Menjalani Hidup

1
29

BincangSyariah.Com – Tema utama surat al-fatihah adalah tujuan untuk melahirkan kesadaran akan pengawasan ilahi. Maka dari itu, wajar apabila dalam surat al-fatihah kata basmallah disusul dengan sifat-sifat atau nama-nama Allah Swt.

Sifat-sifat atau nama-nama Allah Swt. tersebut adalah pesan utama yang pertama, lalu disusul dengan pesan utama yang kedua yakni permohonan yang sekaligus menjadi penghubung antara makhluk dan sang khalik.

Dalam Tafsir Al-Misbah Volume 1 Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah (Lentera Hati, 2017), M. Quraish Shihab menjelaskan sebagai berikut:

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ar-raḥmānir-raḥīm

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

liki yaumid-dīn

Yang menguasai di Hari Pembalasan

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn

. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

 ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

 صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat Al-Fatihah diawali dengan kalimat bismillahirrahmanirahim. Apabila seseorang memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah Swt. atau atas nama-Nya, maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik.

Pengucapnya pun akan terhindar dari godaan dan nafsu yang mendorong ambisi untuk kepentingan pribadi sehingga apa yang dilakukan tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Mengucap bismillah membuat manfaat bagi seseorang yakni pengucapnya, masyarakat, lingkungan dan kemanusiaan secara keseluruhan.

Baca Juga :  Lima Anak Iblis dan Tugas Pokoknya

Sementara itu, curahan rahmat Allah Swt. dilukiskan dalam kata Rahman, sementara sifat yang dimiliki-Nya dilukiskan dalam kata Rahim. Gabungan kedua kata tersebut menyiratkan bahwa Allah Swt. mencurahkan rahmat kepada makhluk-Nya sebab Dia adalah Zat yang memiliki sifat tersebut.

Surat Al-Fatihah mengandung pujian kepada Allah Swt. yang merupakan luapan rasa syukur yang memenuhi jiwa seorang Mukmin saat mendengar nama-Nya disebut. Sebab, keberadaan manusia sejak lahir adalah limpahan nikmat ilahi yang mengundang rasa syukur dan pujian.

Penekanan dalam pengulangan kata ar-rahman dan ar-rahim di ayat ketiga menunjukkan bahwa rahmat Allah Swt. bersikap menyeluruh sebab setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, maka seketika rahmat tersebut tercurah.

Rahmat-Nya pun menyeluruh sebab rahmat tersebut mencakup yang berhak dan tidak berhak serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung dan tidak dapat dinilai pula.

Kepemilikan Allah Swt. berbeda dengan kepemilikan makhluk atau manusia. Allah Swt. memiliki wewenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya. Dia tidak dikecam atas apa yang dilakukan-Nya sebab pertimbangan pemikiran manusia tidak mampu menjadi ukuran yang pasti terhadap perbuatan Allah Swt.

Dalam ayat keempat dijelaskan bahwa ada dua makna yang terkandung dalam penegasan tentang hari pembalasan dalam surat al-fatihah. Pertama, Allah Swt. yang menentukan dan satu-satunya yang mengetahui hari tersebut tiba.

Kedua, Allah Swt. menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apa pun yang terdapat di hari pembalasan. Kekuasaan-Nya demikian besar sampai-sampai jangankan bertindak atau bersikap menentang-Nya, berbicara pun harus dengan seizin-Nya.

Pada ayat kelima, secara tidak langsung mengecam mereka yang mempertuhankan atau menyembah selain Allah Swt., baik masyarakat Arab pada saat itu ataupun setelahnya. Selain itu, ayat kelima juga mengandung makna arti ibadah.

Baca Juga :  Hikmah Diturunkannya Islam di Jazirah Arab Menurut al-Buthi

Salah satu hakikat ibadah adalah menyadari bahwa apa yang berada di bawah genggaman tangan si pengabdi atau yang menjadi “miliknya” pada hakikatnya adalah milik siapa yang kepada-Nya ia mengabdi yakni Allah Swt.

Permohonan bantuan kepada Allah Swt. adalah permohonan agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang meminta permohonan dengan upaya sendiri. Sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah Swt. dengan mengajukan permohonan melalui bimbingan menuju jalan yang lurus. (Baca: Surat Al-Fatihah Sebagai Mahkota Tuntunan Ilahi)

Dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah, Allah Swt. mengajarkan kepada manusia agar tidak menisbahkan sesuatu yang terkesan negatif terhadap Allah Swt. Ayat ini mengajarkan manusia agar memohon kepada Allah Swt. agar diberi petunjuk oleh-Nya, sehingga seorang manusia mampu menelusuri jalan yang lurus.

Jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah memeroleh sukses dalam kehidupan, bukan jalan orang yang gagal dalam kehidupan. Selain itu, ayat ini juga mengajarkan kaum Muslimin agar selalu optimis dalam menghadapi hidup.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here