Tafsir Surat Al-Fajr Ayat 6-14; Belajar dari Hilangnya Eksistensi Sebuah Bangsa Kuno

1
3022

BincangSyariah.Com – Bangsa atau kaum yang tinggal dimana pun pastinya memiliki sebuah peradaban. Keberadaannya dapat ditelusuri dengan adanya sebuah budaya, bangunan fisik maupun bahasa yang dituturkan. Kondisi geografi turut serta mempengaruhi keadaan sebuah bangsa. Jika sebuah bangsa hilang, maka segala peradaban yang dimiliki baik secara bangunan fisik maupun budaya pastinya turut sirna. Tentunya menyisakan sebuah tanda tanya berupa penyebab hilangnya eksistensi sebuah bangsa kuno tersebut.

Allah Swt. mengabadikan sebuah kisah dalam Al-Quran mengenai hancurnya sebuah bangsa beserta peradaban yang dimilikinya sebagaimana yang terdapat pada ayat berikut

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ، إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ، ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad,(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS. Al-Fajr; 6-8)

Pada ayat di Atas Allah Swt. menjelaskan mengenai kaum ‘Aad yang eksistensinya sudah punah. Imam al-Tabari menjelaskan ayat ini terutama redaksi Iram. Berdasarkan ahli takwil, kata tersebut mengadung empat pengertian antara lain Umat atau komunitas tertentu, masa lampau, salah satu kabilah dari ‘Aad, dan kehancuran.

Namun dari keempat pendapat tersebut al-Tabari menafsrikan bahwa Iram adalah salah satu kabilah dari kaum ‘Aad. Nama ini dinisbatkan kepada leluhur mereka yang bernama ‘Aad. Kaum ini merupakan umat dari Nabi Hud ‘Alaihissalam.

Ayat selanjutnya yakni penjelasan dari kaum ‘Aad yakni masyarakat Iram yang terkenal sebagai golongan yang ahli di bidang bangunan.

Dalam Tafsir Al-Wasit dijelaskan bahwa Iram merupakan sebuah kota besar di wilayah Yaman. Kota ini memiliki kelebihan yakni bangunan-bangunan tinggi yang mana tidak ditemukan di negeri lain. Tentunya masyarakat ‘Aad sangatlah modern dan maju pada masa itu. Kaum ini tinggal di wilayah antara Oman dan Hadhramaut (Yaman) yang disebut negeri Al-Ahqaf. Namun kemajuan pembangunan tidak selaras dengan perkembangan moral masyarakat. Golongan yang kuat menindas golongan yang lemah.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Kautsar: Mendapat Nikmat yang Banyak Mulai Dari Mensyukuri yang Sedikit

Lalu, Allah Swt. mengutus Nabi Hud ‘Alaihissalam untuk mengajak kaum tersebut kepada jalan yang benar. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh banyak kalangan terutama pembesar kaum ‘Aad. Sehingga hanya sedikit yang mengikuti dakwah Nabi Hud ‘Alaihissalam. Karena itu, Allah ta’ala mengazab kaum tersebut dengan angin yang sangat kencang sebagai berikut

سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ

yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (QS. Al-Haqqah; 7)

Ayat selanjutnya Allah Swt. menjelaskan pula kepada hamba-Nya mengenai contoh dari kaum-kaum yang hilang dari muka bumi sebagai berikut

وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ

Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, (QS. Al-Fajr; 9)

Ayat di atas menjelaskan mengenai keadaan kaum Tsamud. Sebagaimana kaum ‘Aad yang telah sirna dari dunia karena kedurhakaannya kepada Allah Swt. Tsamud merupakan kaum yang dinisbatkan kepada nama dari leluhurnya yakni Tsamud, keturunan dari Sam bin Nuh. Kaum ini hidup wilayah antara Hijaz dengan Tabuk.

Kelebihan yang dimiliki oleh kaum ini adalah membangun bangunan dengan memotong batu-batu besar di sekitar lembah. Bahkan dalam tafsir al-Wasit dijelaskan kaum tersebut mampu membangun 1.107 perkotaan yang bahan bakunya dari bebatuan yang diambil dari Wadi al-Qura. Namun, kelebihan yang dimiliki kaum tersebut tidak menjadikan mereka beriman kepada Allah Swt., mereka menyebah patung berhala. Oleh karena itu, Allah Swt mengutus Nabi Shalih Alaihissalam. Namun penolakan dakwah terjadi sebagaimana yang dialami oleh Nabi Hud Alaihissalam. Sehingga, Allah menurunkan azab terhadap kaum Tsamud.

Baca Juga :  Hukum Menikahi Wanita Hamil di Luar Nikah

Selain dua kaum di atas, terdapat pula kisah kauam Fir’aun yang juga diazab oleh Allah Swt sebagaimana berikut :

وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ، ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ، فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ، فَصَبَّ عَلَيۡهِمۡ رَبُّكَ سَوۡطَ عَذَابٍ

dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (QS. Al-Fajr; 10-13)

Ayat di atas menerangkan mengenai Fir’aun yang memiliki kekuasaan, sehingga untuk menunjang kekuasannya terdapat bala tentara yang tangguh dan kuat. Namun, keberadaan hal itu bukan untuk kebaikan tapi hal buruk berupa berbuat sewenang-wenang terdapa masyarakat yang tinggal di negeri tersebut juga membiarkan kemaksiatan di dalam negeri. Sehingga terjadi ketidak adilan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu Allah mengazab kaum Fir’aun sebagaimana yang terjadi pada kisah Nabi Musa As. Ketika akan menyebrangi laut merah.

Pada ayat ke 11 terdapat kata Thagaw yang berarti berlebihan. Pada ayat ke 11 ini memiliki korelasi dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan beberapa kaum di surat al-Fajr seperti ‘Aad, Tsamud, dan kaum Fir’aun. Keberadaan kaum tersebut memiliki kesamaan yakni membuat kerusakan dalam negeri dengan membuat bangunan-bangunan yang akhirnya mengeksploitasi lingkungan.

Selain itu kemajuan peradaban fisik yang dimiliki oleh 3 kaum tersebut tidak menjadikan mereka bersyukur tetapi menjadi kufur dalam arti golongan kuat menindas golongan yang lemah. Karena itu Allah Swt. mengutus para Nabi di tengah kaum tersebut untu mengajarkan kebenaran. Tetapi karena banyak yang menentang dakwah para Nabi, maka Allah Swt menurunkan azab terhadap kaum tersebut.

Maka dari itu, hal ini menjadi pengingat kita agar dalam kehidupan tidak melupakan Allah Swt. dan juga tidak menindas dan menzalimi makhluk Allah baik manusia maupun lingkungan. Karena itu Allah melanjutkan firman-Nya sebagai berikut :

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Qalam ayat 4: Akhlak Rasulullah Diawasi Langsung Oleh Allah

إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS. Al-Fajr; 14)

Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala tingkah laku manusia. Dari sinilah kita belajar sekalipun kita dapat membangun sebuah peradaban yang maju. Tetapi jangan sampai kita melupakan Allah dengan merusak alam raya dan menindas sesama manusia.

Wallahu A’lam Bis Showab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here