Tafsir Surat al-Bayyinah 1-3: Sindiran Terhadap Mereka yang Ingkar

0
1138

BincangSyariah.Com – Untuk mempercayai sesuatu pasti memerlukan bukti, tak terkecuali dalam persoalan agama. Seorang nabi pun mengimani Tuhan setelah ia melakukan perenungan terhadap alam semesta demi menjadi bukti adanya pencipta, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang terekam dalam surat (al-An’am 74-79). Begitu pula, orang kafir dari Ahli Kitab Madinah dan musyrikin. Mereka perlu pembuktian terhadap kerasulan Nabi dan ajarannya. Kisah mereka diuraikan dalam surat al-Bayyinah.

Ada perbedaan pendapat terkait apakah surat al-Bayyinah ini tergolong makkiyyah atau madaniyyah. Disitir dari Ibnu ‘Atiyyah, Jumhur mufassir memasukkan ayat ini dalam kategori makkiyyah. Berbeda dengan Ibnu ‘Athiyyah, al-Qurthubi menyatakan bahwa surat ke 101 ini termasuk golongan surat Madaniyyah. Akan tetapi, setelah ditelusuri dari beberapa hadis, surat ini lebih condong dikategorikan Madaniyyah. Hadis itu antara lain ialah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي بن كعب: إن الله أمرني أن أقرأعليك (لم يكن الذين كفروا). قال: وسماني لك؟ قال: نعم. فبكى

Dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad bersabda kepada ‘Ubay: “Sungguh, Allah telah mengutusku untuk membacakan lam yakunilladzina kafaru –al-Bayyinah- kepadamu”. Lalu, ‘Ubay bertanya: “apakah Allah menyebut namaku?” “ Ya”, jawab Nabi. Seketika ‘Ubay menangis (haru).

Hadis tersebut menjadi salah satu indikador bahwa surat ini madaniyyah, karena ‘Ubay merupakan kaum ‘Anshar dari klan Bani Najjar. Selain itu, sesuai dengan setting historis penurunan surat, al-Bayyinah menempati urutan surat ke-101, serta konten yang menyorot Ahli kitab, memperkuat bahwa surat ini termasuk Madaniyyah.

Di ayat pertama, Allah langsung menyorot ahli kitab dan musyrikin:

لم يكن الذين كفروا من أهل الكتاب والمشركين منفكين حتى تأتيهم البينة ﴿١﴾

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Apakah Sifat Wajib Bagi Para Nabi itu?

Orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang syirik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.

Alladzina kafaru dalam ayat tersebut diarahkan kepada ahli kitab Madinah yang ingkar terhadap kerasulan Nabi dan kaum musyrik yang ingkar karena menyekutukan Allah. Ibnu Kathir menafsirkan kaum musyrik ini ialah para penyembah berhala dan api. Dalam konteks Arab pra Islam, kaum musyrik ditemukan baik dari kalangan Arab atau non Arab.

Ayat ini mencerminkan kebiasaan ahli kitab yang berdoa kepada Allah dengan bersumpah atas nama Nabi yang telah dijanjikan dalam kitab mereka, agar mereka memenangkan pertikaian dengan musuhnya. Ketika berhadapan dengan musuhnya pun, Ahli kitab menjadikan Nabi sebagai alat bersumpah untuk mengancam musuhnya.

Dalam syarah Ibnu Hisyam diceritakan bahwa motif kaum Yahudi mengikuti dakwah Nabi adalah untuk meminta bantuan mengatasi musuh mereka. Mereka berjanji bahwa kelak, jika Nabi ini datang, mereka akan mempercayainya dan segala ajaran yang ia bawa. Begitu pun kaum Nasrani, dalam Kitab Perjanjian Baru, juga memuat permohonan Nabi Isa kepada Allah agar menurunkan penolong yang akan membantu umatnya setelah ia meninggalkan mereka. Karena itulah, Ahli kitab hanya akan beriman jika seseorang yang digadang-gadang sebagai utusan dan penolong dalam kitabnya tersebut datang.

Sementara itu, al-bayyinah diartikan dengan bukti yang nyata dan sinyal kebenaran suatu berita. Yakni berita diutusnya Rasulullah, yang tertera dalam kitab ahli kitab seperti yang telah dijelaskan di muka. Menurut Ibnu ‘Asyur, dipilihnya diksi al-bayyinah ini sebagai bentuk afirmasi terhadap berita dalam Injil Matius, yang menggunakan diksi syahadat li al-jami’(sebagai bukti bagi seluruh umat).

Baca Juga :  Hikmah Adanya Musibah di Dunia

Bukti yang dimaksudkan adalah Nabi yang membawa Alquran, seperti yang dijelaskan ayat setelahnya:

رسول من الله يتلو صحفا مطهرة ﴿٢﴾ فيها كتب قيمة ﴿٣

(yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad), yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Alquran). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).

Sependapat dengan Ibnu ‘Asyur, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa yang dimaksud bukti yang nyata itu ialah Nabi SAW dan Alquran yang ia  baca dengan hati yang bersih. Diksi mutahharah (disucikan) merupakan majaz dari firman Allah berupa Alquran yang otentik dan suci dari kesesatan. Pemaknaan seperti ini sekaligus menantang kitab Yahudi-Nasrani yang telah dimanipulasi.

Diksi kutub (kitab-kitab) dalam ayat ketiga surat ini menunjukkan bahwa Alquran memuat ajaran-ajaran kitab terdahulu yang masih asli. Terbukti dengan pensyariatan puasa dan haji yang sebelumnya sudah ada dalam tradisi Kaum Jahiliyah. Quraish Shihab menafsirkan ayat tiga tersebut dengan Alquran yang menjadi pembenaran dari ajaran nabi terdahulu dan memuat ajaran-ajaran tersebut. Maka, tidaklah berlebihan bila Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa Alquran merupakan zubdah (intisari) dari kitab-kitab yang turun sebelumnya.

Adapun qayyimah berarti lurus, sebagai analogi dari kesempurnaan dan kebenaran Alqur’an. Qayyimah dalam konteks ini berlawanan dengan ‘iwaj, yang bermakna bengkok, seperti dalam surat al-Kahfi ayat 1.

Datangnya Nabi dan Al-Qur’an yang dibawanya tidak lantas membuat orang kafir itu beriman. Mereka kembali lagi berdalih. Alasan negasi tersebut akan diurai pada bagian selanjutnya.

Wallahu a’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here