Tafsir Surat al-Balad: 1-4: Dari Bersumpah dengan Kota Mekkah

0
2580

BincangSyariah.Com – Manusia ditetapkan sebagai manusia yang selalu berkeluh kesah jika ia bukan termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. Al-Balad juga mengungkap bahwa setiap manusia juga diciptakan dalam keadaan payah. Namun bagaimana payah yang dikehendaki Alquran.

Para Mufassir bersepakat jika Allah menggunakan makhluknya seperti bumi, matahari sebagai sumpah maka tujuan sumpah tersebut adalah lil i’zham (mengagungkan). Pada ayat pertama dalam surat al-Balad Allah bersumpah dengan menggunakan al-Balad, yang telah disepakati sebagai kota Makkah yang dimuliakan,

لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ

Sungguh Aku bersumpah dengan kota ini (Makkah). (1)

Huruf laa pada kalimat diatas tidak bermakna sebagai larangan (an-nahy) atau penegasian (an-nafy). Dalam khazanah gramatika bahasa Arab, ada lagi makna laa yaitu al-qasam yang bergungsi sebagai ungkapan sumpah. Ini untuk menunjukkan ketegasan Tuhan dalam mengagungkan kota Mekkah karena berbagai keutamaannya. Kota Mekkah memiliki Ka’bah sebagai pusat peribadatan umat muslim sedunia. Mekkah juga menjadi tempat yang sangat bersejarah bagi Nabi, dimana Nabi lahir dan tumbuh kembang di sana. Dan dilanjutkan pada ayat selanjutnya, Nabi menempati kota tersebut,

وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَد

Dan Engkau (Muhammad) bermukim di kota ini. (2)

Pada ayat ke-3, Allah bersumpah dengan menggunakan dua obyek sekaligus,

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَد

Demi bapak dan anaknya. (3)

Namun pada ayat berikutnya terdapat ayat yang tampak kontradiktif,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَد

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam keadaan susah payah. (4)

Secara tekstual ayat ini tampak kontradiktif, karena pada ayat ketiga Allah mengagungkan manusia dengan menggunakannya untuk bersumpah. Sedangkan pada ayat berikutnya justru Allah menggunakan dua huruf taukid untuk menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan payah.

Baca Juga :  Ini Cara Mempraktikkan Pasrah pada Allah Sesungguhnya

Para ahli tafsir berbeda pendapat siapakah waalid yang dikehendaki dalam ayat tersebut. Sebagian berpendapat maksudnya adalah Nabi Adam. Sebagian lain yang dikehendaki adalah Nabi Ibrahim. Al-Mawardi dalam tafsirnya justru berpendapat bahwa yang dikehendaki adalah Nabi Muhammad sebagai bapak dan anak adalah seluruh umat Rasulullah. Disebut bapak dan anak karena ada tujuan li al-isyraaf (memuliakan) Nabi Saw yang berperan sebagai bapak para umatnya. Sehingga yang dikehendaki dalam ayat ini bukanlah bapak biologis, namun bapak ideologis. Ia berperan menyebarkan nilai-nilai Tuhan dan mengajarkan ketauhidan.

Pada ayat ke-4, Allah menyebut kata al-Insaan yang berarti ditujukan kepada seluruh manusia. Jika ayat sebelumnya bersifat khusus, dalam ayat ini justru Allah melibatkan seluruh manusia ditandai dengan adanya imbuhan awal al pada kalimat insaan. Kata kabad memiliki makna syiddah, sangat berat. Manusia sejak diciptakan pertama kali penuh dengan susah payah baik ibunya maupun anaknya. Di dalam rahim, ibu harus bertahan dan berjuang mengandung serta menjaga janin dengan penuh kehati-hatian, agar janin yang dikandungnya tetap dalam keadaan sehat.

Ketika bayi yang didalam Rahim hendak keluar, ibu harus siap mengorbankan seluruh tenaganya dengan kekuatan ekstra agar bayi yang dilahirkannya dapat lahir dengan selamat. Masa pertumbuhan bayi juga merupakan masa yang sulit, baik bagi seorang ibu maupun anak.

Selain itu manusia juga memiliki banyak tanggung jawab, tanggung jawab didunia sesuai dengan amanah yang diembannya. Serta mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat. Keduanya sangat berat, sehingga manusia harus terus belajar, terus bertakwa dan terus berjuang untuk menghindari kesulitan di Akhirat. Manusia juga memiliki fase pertkembangan kehidupan, dan setiap fasenya ia harus bertangggung jawab baik untuk dirinya, maupun keluarganya. Berbeda dengan makhluk lainnya, tidak memikul tanggung jawab sebagaimana manusia. Sahabat Ibnu ‘Umar berkata: makhluk yang paling sisah adalah manusia karena ia memilkul dia kesusahan yaitu urusan kehidupan dunia dan mempertanggungjawabkannya di Akhirat.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Balad Ayat 11-20: Hidup Penuh dengan Perjuangan

Para mufassir lainnya, memaknai kata kabad dalam konteks sikap manusia terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Manusia dinilai sangat susah bersyukur ketika mendapat karunia dan sangat berat bersabar ketika ditimpa musibah. Sedangkan setiap manusia pasti mendapatkan keduanya, nikmat dan musibah.

Manusia memang diciptakan dalam keadaan yang susah payah, namun Allah juga membekali manusia dengan segala potensinya. Dalam kesusahpayahan manusia juga diberikan Allah pedoman berupa Al-Qur’an dan suri teladan yaitu baginda Nabi. Selanjutnya, manusia yang diharuskan mengelola potensi dan segala nikmat yang telah Allah siapkan. Pada hakikatnya kesusahpayahan yang dialami manusia adalah pelajaran penting untuk terus memantapkan ketauhidan, wallahu a’lam. 

Sumber bacaan:

Tafsir al-Thabari

Tafsir al-Qurthubi

Marah Labid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid – Syaikh Nawawi al-Bantani

Tafsir al-Munir – Prof Dr. Wahbah alzZuhaili 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here