Tafsir Surat Al-A’la: 14-17: Tentang Mereka yang Menolak Jadi Orang Beruntung

2
3331

BincangSyariah.Com – Ronggowarsito, Seorang Pujangga dan sastrawan Indonesia dalam Serat Kalatida pernah berkata, “Menangi jaman edan, yen ora ngedan ora keduman. Ning sak bejo-bejone uwong isih bejo wong kang eling lan waspodo” (Menyaksikan zaman gila serba susah dalam bertindak, ikut gila namun tak tahan, tapi kalau tidak mengikuti “gila” tidak akan mendapat bagian, namun telah menjadi kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya seseorang lebih beruntung mereka yang tetap ingat dan waspada serta memegang teguh nilai-nilai agama).

Syair di atas menjadi renungan kita bersama bahwa orang beruntung bukanlah mereka yang punya banyak harta melimpah, rumahnya megah, mobilnya mewah, lebih-lebih juragan tanah. Justru, dalam penjelasan Q.S. al-A’la [87] ayat 14-17 berbanding terbalik dengan persepsi tersebut.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَا – 17

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Ibnu Katsir menjelaskan yang dimaksud qad aflaha man tazakka adalah mereka yang senantiasa membersihkan dirinya dari perangai tercela dan akhlak yang buruk serta mentaati perintah-Nya. Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya, al-Bahr al-Muhith, Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibn Abbas, dan al-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kassyaf memaknai lafaz tazakka dengan tathahhara (membersihkan diri dari syirik).

Ditegaskan juga dalam ayat ini, orang yang memperoleh kemenangan dan keberhasilan itu adalah orang yang tazakka. Kata tazakka berasal dari zaka yang berarti al-nama’(tumbuh). Oleh karena itu, al-Zujaj menafsirkan kata ini dengan memperbanyak takwa.

Menurut Qatadah, membersihkan diri itu dengan beramal salih. Salah satu bentuk amal salih yaitu mengingat Allah swt dalam setiap gerak-geriknya kemudian shalat (al-A’la ayat 15). Andai seseorang mengingat Allah swt maka ia tidak akan berbohong, memanipulasi laporan pertanggungjawaban, korupsi triliunan, nabok nyilih tangan (memukul dengan meminjam tangan orang lain), menebar kebencian dan permusuhan, serta segala bentuk perilaku tercela lainnya.

Baca Juga :  Apakah Ayah Tiri Wajib Menafkahi Anak Tirinya?

Dijelaskan oleh al-Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani, al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil dan al-Biqa’i dalam Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, bahwa zikir atau ingat kepada Allah swt ini meliputi hati dan lisan. Pendapat yang lain, al-Jazairi mengatakan bahwa zikir kepada Allah meliputi berbagai aspek kehidupan mulai dari sejak bangun tidur hingga tidur lagi, dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring (Q.S. Ali Imran [3] ayat 191).

Sedangkan yang dimaksud dalam kalimat fashalla adalah shalat wajib lima waktu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abbas, dan al-Zamakhsyari. Menurut al-Jazairi, tidak hanya shalat wajib, tetapi juga shalat nafilah (shalat sunnah). Ibadah shalat termasuk ibadah vertikal paling agung. Dalam Q.S. al-Mukminun [23] ayat 1-2 dijelaskan bahwa di antara orang yang memperoleh falah (keberuntungan) adalah orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.

Sikap menjadikan dunia sebagai prioritas utama dan akhirat belakangan adalah perilaku orang yang merugi. Justru kita harus menjadikan dunia sebagai sarana (bukan tujuan) untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Sebagaimana sabda Nabi Saw.,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah ).

Maka letakkanlah dunia tanganmu bukan di hatimu, niscaya engkau selamat. Bukankah itu yang diajarkan dalam Agama Islam?

Sebagaimana Nabi saw. pernah berdoa,

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (H.R. al-Tirmidzi, 5/528 No. 3502, al-Nasa’i dalam al-Sunan al-Kubra 6/106, al-Hakim 1/l528 dan Ibn al-Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah No. 445).

Baca Juga :  Pesan Surat at-Takasur: Mengumpulkan Kekayaan Namun Lalai Kehidupan Akhirat

Sebagai manusia, kita tentu menghendaki keberuntungan dan menghindari kerugian dalam hidup adalah hal yang lumrah (wajar). Dalam ayat di atas, Allah swt telah memberikan empat kriteria atau klasifikasi orang-orang yang akan mendapatkan keberuntungan yaitu beriman kepada Allah swt sekalipun mendapati rintangan hidup, mengingat Allah swt dalam setiap langkahnya, melaksanakan kewajiban shalat lima waktu dan mengerjakan shalat sunnah, serta menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat bukan sebagai tujuan akhir. Insya Allah apabila kita mengaplikasikan keempat kriteria tersebut, hidup kita akan selamat fid diin wad dunya wal akhirat. Aamiin.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here