Tafsir Surah Thaha Ayat 132; Tanggung Jawab Manusia terhadap Keluarganya

0
6283

BincangSyariah.Com – Manusia lahir ke muka bumi tidak lepas dari tanggung jawab. Seorang presiden bertangung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Polisi dan tentara bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan negara dan rakyat. Guru bertanggung jawab atas pendidikan murid-muridnya. Orang tua juga bertanggung jawab atas kehidupan dan pendidikan anak-anaknya.

Ruang lingkup tanggung jawab masing-masing manusia tidaklah sama. Semua disesuaikan dengan kapabelitas. Katika sudah diamanahi suatu jabatan atau posisi, maka harus siap dengan segala tanggung jawab dan risiko yang akan dihadapi. Misal dalam sebuah rumah tangga, siapapun saja yang bertindak sebagai kepala keluarga, maka dialah yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya.

Seorang laki-laki menerima mandat dari mertuanya untuk menjaga istrinya kelak. Lalu, setelah memiliki keturunan, tanggung jawabnya bertambah. Yakni menjaga istri dan anak. Lalu, ketika orang tuanya sendiri dan mertua semakin renta, maka bertambah lagi tanggung jawabnya. Paling pokok yang harus dijaga adalah persoalan ibadah keluarga. Allah Swt. berfirman dalam Qs. Thaha (20) : 132,

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ  لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

Dalam ayat tersebut terdapat perintah agar kita memerhatikan kualitas agama keluarga. Dalam ayat tersebut shalat menjadi salah satu contoh dari syariat islam yang perlu ditegakkan di lingkungan keluarga. Tentunya yang bertindak sebagai kepala rumah tangga yang memiliki tanggung jawab ini.

Seorang kepala keluarga tidak hanya bertugas mencari nafkah lahir keluarga, ia juga berkewajiban mendidik agama mereka. Bagaimana shalatnya, puasanya, zakatnya, dan lain sebagainya. Bahkan sangat keliru sekali bila kepala keluarga hanya memikirkan asupan gizi keluarga yang bersifat duniawi, karena hakikatnya urusan rejeki itu adalah otoritas Allah Swt. Tidak dibenarkan apabila gara-gara persoalan dunia sampai melupakan akhirat.

Baca Juga :  Benarkah Umur Kita Bisa Bertambah dengan Silaturahmi?

Dalam ayat di atas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi (Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 27) menjelaskan bahwa Allah Swt. tidak membebani manusia untuk mencari rezeki, baik untuk dirinya dan keluarga. Allah Swt. menegaskan bahwa urusan rezeki adalah otoritasnya, “Nahnu narzuquka“.

Mengajak keluarga untuk shalat berjemaah adalah tugas kepala keluarga. Mengenalkan anak sejak dini pada syariat islam sangat diperlukan. Sesekali ajaklah anak ke masjid untuk shalat berjemaah atau shalat jumat. tentunya kepala keluarga harus memiliki kesabaran tinggi dalam mendidik keluarganya. Terutama dalam hal shalat. Karena sebagaimana yang tertera dalam ayat, Allah Swt. juga memerintahkan kita untuk sabar dalam menegakkan shalat bersama keluarga.

Sebisanya sebagai kepala keluarga dalam mencari nafkah tidak perlu jauh-jauh dari rumah. Apalagi masih baru memiliki anak. Karena orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jangan sampai meninggalkan keluarga walaupun dengan alasan untuk kepentingan keluarga. Apalagi sampai kedua orang tuanya berangkat ke luar kota atau keluar negeri sedang anaknya masih kecil. Lalu, siapa yang akan mendidik mereka dengan sepenuh hati? Kakek-neneknya? Atau, keluarga yang lain? Atau langsung dititipkan ke pesantren?

Sekali lagi, perlu dipikir kembali bagi keluarga yang akan meninggalkan anaknya untuk waktu yang cukup lama. Karena pendidikan anak jauh lebih penting dari harta yang mereka kumpulkan. Esok pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. sangat berat bila abai terhadap pendidikan keluarga. Jangan sampai salah satu anggota keluarga tergelincir ke neraka gara-gara keteledoran kepala keluarga dalam mengawasi mereka. Jaga betul keluarga dari jilatan api neraka. Allah Swt. berfirman dalam Qs. At-Tahrim (66) : 6,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Baca Juga :  Suami Gila, Bolehkah Istri Menikah Lagi?

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Satu-satunya cara menjaga keluarga dari api neraka adalah membawa atau menggiring mereka ke jalan (taqwa) Allah Swt. Salah satu jalan menuju Allah Swt. yang paling utama adalah shalat. Karena hakikat shalat adalah meniti jembatan untuk meraih ridha Allah Swt. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here