Tafsir Surah At-Takwir 1-6 ; Padamnya Matahari Akhir dari Alam Semesta

0
3764

BincangSyariah.Com – Sejak jaman SD kita diajarkan bahwa matahari merupakan pusat tata surya, yang itu artinya semua benda yang berada di tata surya dipengaruhi olehnya. Massa dan gravitasi yang dimiliki matahari sangatlah besar. Sebab itulah matahari menarik planet-planet untuk bergerak mengitarinya sesuai dengan orbitnya. Hal ini disebut Teori Heliosentris, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus.

Selain itu matahari juga memiliki panas yang menghasilkan suhu ideal bagi planet-planet di tata surya. Panas matahari teraplikasi pada sinarnya, dengan sinarnya tanaman di muka bumi dapat berfotosintesis dan membuat makanan. Bahkan, dalam al-Qur’an disebutkan beberapa fungsi matahari selain sebagai sumber energi cahaya, matahari juga berfungsi sebagai petunjuk waktu shalat dan petunjuk bayang-bayang, hal ini tertuang dalam QS. al-Isra’: 78 dan QS. al-Furqan: 45.

Nah, peran matahari sangatlah besar. Lalu bagaimana jika matahari padam dan tidak lagi memancarkan energi cahaya? Kisah padamnya energi matahari ini dimulai dari QS. at-Takwir: 1, Allah menyebutkan dalam firman-Nya,

اذا الشمس كورت

“Apabila matahari digulung,” (QS. At-Takwir; 1)

Menurut riwayat Ali bin Abi Thalhah bercerita dari ‘Ibnu ‘Abbas di dalam Tafsir Ibn Katsir maksudnya adalah ketika hari menjadi gelap karena matahari tergulung dan menghilang, maka tidak akan ada cahaya yang menerangi. Ternyata bukan hanya matahari yang bernasih demikian, selanjutnya pada ayat ke 2;

واذا النجوم انكدرت

“Dan apabila bintang-bintang berjatuhan” (QS. At-Takwir; 2)

Menurut al-Kabi dalam Tafsir Salman ayat ini menggambarkan benda-benda langit yang jatuh ke bumi dan tak menyisakan satu benda pun untuk tersangkut di langit.

Dari dua kejadian yang terdapat dalam Q.S. at-Takwir 1-2 tergambar kehancuran alam semesta yang bermula dari hilangnya cahaya matahari, iya matahari akan hilang dari alam semesta dan itu menyebabkan ketidakseimbangan tata surya hingga bintang-bintang yang menghiasi langit ketika malam akan jatuh bagaikan bulir hujan yang jatuh ke bumi. Bisa dibayangkan dahsyatnya kehancuran bumi sebab bintang-bintang tersebut. Saat itu tak ada tempat berlindung, manusia akan porak-poranda.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Qalam ayat 4: Akhlak Rasulullah Diawasi Langsung Oleh Allah

Kehancuran bumi semakin dipertegas dalam ayat 3-6;

واذا الجبال سيرت. واذا العشار عطلت. واذا الوحوش نشرت. واذا البحار سجرت

“Dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwir; 3-6)

Gunung-gunung yang dipuja akan terbang bagaikan kapas bahkan ketika unta yang sedang hamil tua dianggap sangat berharga tidak akan diperdulikan lagi, semua manusia dirundung kepanikan tidak memperdulikan kekayaan yang selama ini disombongkan.

Padamnya matahari ini berdampak di darat maupun di laut lanjutan dalam QS. at-Takwir: 7, : “dan ketika lautan dipanaskan” menjelaskan bahwa samudera akan mendidih, menguap dan habis. Semua yang di darat dan di laut akan musnah, digantikan alam akhirat.

Semoga sahabat bincangsyariah.com semua dilindungi Allah dari dahsyatnya kehancuran alam semesta, dan selalu berada dalam limpahan rahmat serta maaf-Nyaa, hingga termasuk dalam golongan orang mukmin yang berkumpul bersama Rasulullah kelak di akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here