Tafsir Surah At-Taubah Ayat 122: Pentingnya Memperdalam Ilmu Pengetahuan

1
138

BincangSyariah.Com – Ada anjuran dan pahala besar bagi orang yang berjihad. Namun, dalam tafsir Surah at-Taubah ayat 22, ada juga kecaman yang sebelumnya ditujukan untuk yang enggan maju ke medan perang.

Anjuran berjihad membuat kaum Muslimin dengan penuh semangat berbondong-bondong maju ke medan perang. Sayangnya, hal tersebut tidak pada tempatnya sebab ada arena perjuangan lain yang seyogiyanya mesti dipikul, yakni dalam ranah keilmuan.

Surah at-Taubah ayat 22 berbunyi sebagai berikut:

 وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Wa mā kānal-mumin</i></em><em><i>ụna liyanfirụ kāffah, falau lā nafara ming kulli firqatim min-hum </i></em><em><i>ṭāifatul liyatafaqqahụ fid-dīni wa liyunżirụ qaumahum iżā raja’ū ilaihim la’allahum yaḥżarụn

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Dalam Tafsir Al-Misbah (2017), Quraish Shihab mencatat ada dua kata yang ditekankan dalam ayat ini yakni tha’ifah dan fiqh yang diambil dari kata liyatafaqqahu.

Thaifah bisa berarti satu-dua orang atau jumlahnya tidak menentu namun memiliki makna sekelompok manusia yang berbeda dengan kelompok lain. Kata fiqh yang dimaksud dalam ayat ini tidak terbatas pada apa yang distilahkan dalam dispilin ilmu agama. Kata ini justru mencakup segala macam pengetahuan yang mendalam.

Al-Qur’an tidak membedakan ilmu. Al-Qur’an tidak mengenal istilah ilmu agama dan ilmu umum sebab semua ilmu sesungguhnya bersumber dari Allah Swt. (Baca: Tafsir Surat at-Taubat 128; Nabi Muhammad yang Penuh Kasih Sayang)

Ilmu terbagi menjadi dua yakni ilmu yang diperoleh dengan usaha manusia yakni kasby atau acquired knowledge dan ilmu yang merupakan anugerah dari Allah Swt. yaitu ladunny atau perennial.

Quraish Shibab menuliskan bahwa tujuan utama ayat ini adalah menggambarkan bagaimana seharusnya tugas-tugas dibagi sehingga tidak semua orang hanya mengerjakan satu jenis pekerjaan saja.

Masyarakat Islam kini atau bahkan pada zaman Nabi Muhammad Saw. tidak hanya melakukan dua tugas pokok yakni berperang dan menuntut imu saja.

Lebih luas ketimbang dua tugas tersebut, ada banyak sekali tugas umat Islam di mana setiap Muslim memiliki kewajiban untuk membagi diri agar mampu memenuhi semua kebutuhannya, termasuk memperdalam ilmu.

Tafsir Surah at-Taubah ayat 22 dalam Tafsir Al-Misbah yakni menggarisbawahi tentang pentingnya memperdalam ilmu dan menyebarluaskan informasi yang benar. Keduanya sama penting kedudukannya dengan mempertahankan wilayah.

Mengapa demikian? Sebab, pertahanan wilayah berkaitan erat dengan kemampuan informasi serta keandalan ilmu pengetahuan atau sumber daya manusia.

Apa yang dimaksud dengan orang-orang yang memperdalam ilmu pengetahuan dan yang memberi peringatan adalah orang-orang (mereka) yang tinggal bersama Rasulullah Saw. dan tidak mendapat tugas sebagai anggota pasukan di medan perang.

Sementara itu, apa yang dimaksud dengan mereka yang diberi peringatan adalah anggota pasukan yang keluar dan berjihad di medan perang, melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah Saw.

Ayat ini terlebih dahulu menggarisbawahi motivasi bertafaqquh yakni memperdalam pengetahuan bagi mereka yang dianjurkan keluar. Sementara motivasi utama mereka yang berperang bukan tafaqquh.

Ayat ini tidak berkata: “Hendaklah jika mereka pulang mereka bertafaqquh,” tapi ayat ini berkata, “untuk memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka telah kembali kepada mereka supaya mereka berhati-hati.”

Peringatan tersebut adalah hasil dari tafaqquh. Mereka tidak memerolehnya pada saat terlibat dalam perang karena yang terlibat saat itu sibuk menyusun strategi dan menangkal serangan.

Mereka sibuk mempertahankan diri sehingga tidak mungkin mereka bisa bertafaqquh memperdalam ilmu pengetahuan.

Maksud dari memperdalam dalam tafsir Surah at-Taubah ayat 22 adalah bahwa pengetahuan pengetahuan agama harus memahami arena serta memerhatikan kenyataan yang ada.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh mereka yang tidak terlibat dalam perang.

Bahkan, Quraish Shibab menuliskan bahwa tidak keliru jika dikatakan: mereka yang tidak terlibat dalam perang itulah yang justru lebih mampu menarik pelajaran dan menembangkan ilmu ketimbang mereka yang terlibat langsung dalam perang.[]

1 KOMENTAR

  1. Seorang guru yg menulis suatu pelajaran di sekolah/perkuliahan tentunya telah mendapatkan kualifikasi setidaknya melalui jenjang edukasi yang tepat sesuai dg kedalaman ilmu yang akan diajarkannya.
    Begitu pun seyogyanya bila saya ingin menyajikan pembahasan tulisan subjek tafsir Qur’an, walaupun sifatnya hanya mengutip beberapa tafsir dari sana-sini yg sahih sekalipun, tetap membutuhkan background edukasi agama yg tepat (tentunya lbh tepat dan benar utk mereka yg telah mendalami scr khusus ilmu tafsir). Ini diperlukan utk menghindari distorsi-distorsi yg disajikan (krn pada dasarnya suatu tulisan tetap ada unsur ilmu pribadi/individu yg menyajikan, yg otomatis akan terkemukakan) walaupun telah mengutip beberapa tafsir dan hadits yg sahih sekalipun.

    Pertanyaan saya: Apakah dik Ayu Alfiah Jonas telah mendalami ilmu tafsir Qur’an sehingga tulisan yg dikemukakan (yg tdk bisa dihindari pasti akan ada unsur ilmu/pengetahuan pribadi/individu/subjektifitas yg tersirat) sehingga bisa dipertanggungjawabkan sah secara ilmu agama ?

    Sbg contoh kecil saja, rujukan yg diambil dari tulisan bapak Quraish Shihab yg terhormat. Tidak perlu jauh dik Ayu utk menuntut ilmu tafsir, paling tidak apakah pernah menyeleksi sumber rujukannya ?
    FYI salah satu info dr salah seorang ustadz (dan sebenarnya masih banyak lagi) tentang pendapat dari orang yg dijadikan rujukan dik Ayu tsb mengenai kewajiban jilbab/hijab (sesuatu hal yang sangat mendasar bahkan ada ayat Al-qur’an nya), sebagai berikut:
    https://firanda.com/1190-bpk-quraish-sihab-yang-keliru-ataukah-buya-hamka-jilbab-tidak-wajib-bag-1.html

    Bila orang rujukan yg diambil dlm tulisan dik Ayu ini saja masih dipertanyakan, apakah dik Ayu bisa mempertanggungjawabkan tulisan lain yg dikemukakan disini (yg tentu isinya bukan sekedar rujukan saja, namun tetap akan ada unsur ilmu agama pribadi/subjektifitas yg terkemukakan) secara agama (apalagi membahas tafsir Qur’an) ? Rujukan dan unsur pendapat/subjektifitas tsb harus bisa dipertanggungjawabkan baik secara validitas org yg dijadikan rujukan, maupun kualifikasi ilmu agama penulis yg pasti akan terkemukakan di setiap tulisan. Mudharat tulisan yg salah yg berkaitan erat dg syariat agama adalah sangat besar, semoga saya pribadi hanya menulis sesuai dg kualifikasi saya (baik scr edukasi maupun pengalaman)

    Sekian mungkin pendapat yg saya bisa saya kemukakan, mohon maaf sebelumnya bila ada kesalahan (karena manusia adalah tempat segala kesalahan).

    #Hamba Allah#

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here