Tafsir Surah al-Rahman Ayat 29-30; Tuhan Merasa Sibuk Kabulkan Doa Hamba-Nya?

1
1087

BincangSyariah.Com – Makhluk tidak akan lepas dari memohon kepada Tuhanya akan segala kebutuhan hidupnya. Allah SWT. berfirman:

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan?” (Q.S. al-Rahman: 29-30) ) (Baca: Tafsir Surah al-Rahman Ayat 26-28; Makhluk Akan Binasa, Allah Kekal)

Ayat di atas diturunkan sebab adanya anggapan dan perkataan dari orang-orang Yahudi bahwa Allah tidak setiap waktu melakukan aktivitas-Nya dan memiliki hari libur. Seperti disampaikan dalam al-Muharrar al-Wajiz:

وذكر النقاش أن سبب هذه الآية قول اليهود : إن الله استراح يوم السبت ، فلا ينفذ فيه شيئاً

al-Naqas menyebutkan bahwa sebab turunya ayat ini ialah adanya ucapan orang Yahudi “Sesungguhnya Allah beristirahat tidak melakukan apapun di hari Sabtu.”

Imam al-Baidhawi menjelaskan dalam karyanya sebagai berikut:

وهو رد لقول اليهود إن الله لا يقضي يوم السبت شيئا

“(Ayat tersebut) untuk menepis dan menolak ucapan kaum Yahudi yang menyatakan bahwa Allah tidak melakukan apapun di hari Sabtu.”

Selanjutnya, pada ayat tersebut menyimpan kabar atas keadaan Allah SWT. yang tidak butuh kepada para makhluk dan mereka para makhluk baik yang berada di bumi maupun langit itu butuh dan memohon kepada-Nya baik secara lisan maupun sikap (Lisan al-Hal).

Para ahli tafsir menjelaskan maksud dan arti permintaan penduduk langit dan bumi pada ayat di atas. Dalam Tafsir al-Qurthubi disampaikan arti permintaan tersebut sebagai berikut :

Pertama, sebagian ulama mengartikan bahwa penduduk meminta rahmat dan penduduk bumi meminta rezeki. Penyampaian yang hampir senada dalam al-Bahru al-Muhith:

وقال أبو صالح : من في السموات : الرحمة ، ومن في الأرض : المغفرة والرزق

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 22-23; Tempat Asal Mutiara

Abu Shalih berkata ”Penduduk langit memohon rahmat, sedangkan penduduk bumi memohon ampunan dan rezeki.”

Kedua, Ibnu Abbas berpendapat tentang arti tersebut (permintaan mereka) ialah penduduk langit memohon ampunan dan tidak meminta rezeki sedangkan penduduk bumi memohon kedua-duanya.

Ketiga, Ibnu Juraij berkata :

وتسأل الملائكة الرزق لأهل الأرض ، فكانت المسألتان جميعا من أهل السماء وأهل الأرض لأهل الأرض

“Para malaikat memintakan rezeki untuk ahli bumi. Kedua permintaan tersebut dari penduduk langit dan bumi untuk ahli bumi.”

Imam al-Qurthubi menyampaikan sebuah hadis dalam karyanya sebagai berikut:

إن الملائكة ملكا له أربعة أوجه وجه كوجه الإنسان وهو يسأل الله الرزق لبني آدم ووجه كوجه الأسد وهو يسأل الله الرزق للسباع ووجه كوجه الثور وهو يسأل الله الرزق للبهائم ووجه كوجه النسر وهو يسأل الله الرزق للطير”. وقال ابن عطاء : إنهم سألوه القوة على العبادة

“Sesungguhnya dari golongan malaikat terdapat malaikat yang memiliki empat wajah. Satu wajah seperti wajah manusia dan memohon rezeki kepada-Nya untuk anak Adam. Satu wajah berikutnya seperti singa dan meminta rezeki untuk binatang buas. Satu wajah berikutnya bagaikan wajah lembu dan meminta rezeki untuk para binatang dan wajah yang terakhir bagaikan wajah burung dan meminta rezeki untuk para burung.”

Abu Hayan al-Andalusi berpendapat:

يَسْئَلُهُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ : أي حوائجهم ، وهو ما يتعلق بمن في السموات من أمر الدين وما استعبدوا به ، ومن في الأرض من أمر دينهم ودنياهم.

Penduduk langit dan bumi meminta atas semua kebutuhan mereka (kepada-Nya). Urusan agama dan kemampuan beribadah diminta oleh ahli langit dan penduduk bumi memohon atas urusan dunia dan agamanya”.

Selanjutnya, ayat di atas menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan istirahat dalam melakukan aktivitas-Nya dan penegasan ini diantaranya untuk menolak keyakinan dan ucapan kaum yahudi seperti pada awal tulisan ini. Para ulama menjabarkan pengertian kesibukan atau aktifias Tuhan pada ayat di atas sebagai berikut :

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Hal Penghalang Antara Hamba dengan Tuhan

Dalam tafsir Ibnu Katsir disampaikan:

قال: من شأنه أن يجيب داعيا، أو يعطي سائلا أو يفك عانيا، أو يشفي سقيما.وقال ابن أبي نجيح، عن مجاهد قال: كل يوم هو يجيب داعيا، ويكشف كربا، ويجيب مضطرا ويغفر ذنبا

Al-A’masy berkata “Kesibukan Tuhan ialah mengabulkan doa, memberi atas sebuah permintaan, membebaskan atau memerdekakan tawanan atau budak dan menyembuhkan mereka yang sakit.” Ibnu Abi Najih berpendapat “Setiap waktu Tuhan mengabulkan doa, menghilangkan kesusahan dan penderitaan, mengabulkan (permintaan) orang yang kesusahan dan mengampuni dosa.”

Nabi bersabda :

من شأنه أن يغفر ذنبا، ويفرج كربا، ويرفع قوما، ويضع آخرين

“Kesibukan Tuhan ialah mengampuni dosa, menghilangkan sebuah penderitaan, mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan kaum lainya” (HR. Ibnu Majah)

Al-Syirbini berkata :

وقال أكثر المفسرين من شأنه أنه يحيي ويميت ويرزق ويعزّ قوماً ويذل قوماً ويشفي قوماً ويفرج مكروباً ويجيب داعياً ويعطي سائلاً ويغفر ذنباً إلى ما لا يحصى من أفعاله وإحداثه في خلقه ما يشاء

“Mayoritas ahli tafsir mengartikanya (kesibukan Tuhan) ialah menghidupkan dan mematikan, memberikan rezeki, memuliakan, merendahkan dan menyembuhkan kaum, menghilangkan penderitaan, mengabulkan permohonan dan permintaan, mengampuni dosa dan berbagai hal yang tidak bisa dihitung dari apa yang diinginkan-Nya.”

Dikisahkan dalam Tafsir al-Siraj al-Munir ada salah seorang raja bertanya kepada perdana mentrinya atas arti ayat “Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (Q.S.al-Rahman : 29) dan perdana mentri tersebut tidak mengetahuinya. Sang raja memberinya kesempatan untuk menjawab hingga hari esok. Lantas dia pulang ke tempat tinggalnya sambil mencari dan mengangan-angan arti ayat tersebut.

Seorang pelayan yang berkulit hitam bertanya “Wahai Tuanku!, Apa yang membuatmu bingung dan mungkin aku bisa membantu ?” Lalu sang Majikan bercerita kepadanya dan dia siap untuk mengartikan maksud ayat tersebut di depan sang raja di hari esok. Keesokan harinya dua orang ini mengahadap raja dan seorang pelayan tersebut berkata :

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 46-47; Sikap Orang yang Takut di Hadapan Tuhan

أيها الملك شأن الله تعالى أن يولج الليل في النهار ، ويولج النهار في الليل ويخرج الحي من الميت ، ويخرج الميت من الحيّ ، ويشفي سقيما ، ويسقم صحيحا ، ويبتلي معافى ، ويعافي مبتلى ، ويعز ذليلا ، ويذل عزيزا ، ويفقر غنيا ، ويغني فقيرا

“Wahai sang raja! Kesibukan Allah ialah memasukan malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengluarkan yang mati dari yang hidup, menyembuhkan kesakitan dan menjadikan sakit pada yang sehat, meberikan ujian pada yang sehat dan menyehatkan (menghilangkan) ujian, memuliakan yang rendah dan merendahkan yang mulia dan memiskinkan yang kaya serta menjadikan kaya yang miskin” (Tafsir Siraj al-Munir).

Setelah mendengarkan penyampaianya, sang raja berkata, “Kamu benar.” Ia pun menyuruh si perdana mentri (tuan) melepas baju kebesaran (seragam perdana mentri) serta memakaikanya kepada sipembantu tersebut. Lalu perdana mentri melepas dan memakaikanya kepada pembantunya dan berkata:

يا مولاي هذا من شأن الله تعالى

“Wahai tuanku! Ini adalah kesibukan (pekerjaan) Allah SWT.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here