Tafsir Surah al-Qalam ayat 4: Akhlak Rasulullah Diawasi Langsung Oleh Allah

0
4990

BincangSyariah.Com – Dewasa ini, akhlak seperti bak mutiara yang terletak di dasar laut. Akhlak merupakan blueprint tatanan sosial yang membawa keadilan dan kesejahteraan. Akhlak adalah buah dari hasil pelaksanaan Iman dan Islam. Jika iman dan Islamnya sempurna maka kesempurnaan akhlak akan diraih. Allah swt telah menggambarkan role model atau sosok figur publik yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan kita yaitu Rasulullah saw. sebagaimana terekam dalam Surah al-Qalam [68]: 4,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

Ditinjau dari segi sebab turunnya (Asbab an-Nuzul), diriwayatkan dr Abu Nu’aim di dalam Kitab Asbabun Nuzul karya Imam al-Wahidi dan Kitab Dala’il Al Nubuwwah karya Abu Nu’aim al-Asbahani, dengan sanad yang bersumber dari ‘Aisyah ra. bahwa tak ada seorang pun yag memiliki akhlak yang lebih mulia daripada akhlak Rasulullah saw. tatkala seseorang memanggil beliau, baik sahabat, keluarga, ataupun penguhi rumahnya, beliau saw. selalu menjawab: “Labbaik (saya memenuhi panggilanmu)”.

Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa Rasulullah SAW memiliki akhlak yang sangat terpuji.

Makna al-Khuluq al-‘Azhiim

Dalam al-Qur’an lafadz khuluq hanya berjumlah dua, satu dalam Q.S. al-Qalam ayat 4 dan satunya lagi terletak pada Q.S. al-Syu’ara ayat 137. Apabila lafaz khuluq disandarkan dengan lafad ‘adziim seperti dalam Surah al-Qalam ayat 4, maka bermakna pemahaman tentang pribadi Nabi Muhammad saw. itu sendiri yang memiliki sikap terpuji dan mulia.

Quraish Shihab dalam kitab Tafsir al-Misbah (j. 14 h. 244) menerangkan kata khuluq jika tidak dibarengi dengan ajektifnya (kata yang menerangkan kata benda), maka selalu berarti budi pekerti yang luhur, tingkah laku dan karakter terpuji. Sedangkan kata ‘alaa bermakna kemantapan. Di sisi lain, juga mengesankan bahwa Nabi Muhammad saw. menjadi mitra dialog ayat-ayat di atas berada di atas tingkat budi pekerti yang luhur, tidak hanya berbudi pekerti luhur saja. Dan memang Allah swt akan menegur Rasul saw. apabila hanya bersikap yang baik dan telah biasa dilakukan oleh orang-orang yang dinilai sebagai berakhlak mulia. Artinya, akhlak Rasulullah saw. harus lebih tinggi dari kebaikan-kebaikan akhlak yang dilakukan oleh orang pada umumnya.

Baca Juga :  Muhammad Asad; Muallaf Yahudi, Jatuh Cinta Pada Islam, Jadi Ahli Tafsir

Dalam riwayat yang lain, Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa’d ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Aisyah balik bertanya, “Bukankah kamu telah membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Maka ia berkata: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Arti pernyataan Aisyah r.a. bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah al-Qur’an ialah Rasul saw. telah menjadikan perintah dan larangan al-Qur’an sebagai karakter pribadinya. Tatkala al-Quran memerintahkan sesuatu maka beliau akan menunaikannya, dan sebaliknya. Menurut Sayyid Qutub sebagaimana dikutip oleh Quraish adalah kemampuan beliau menerima pujian dari Allah swt tidak menjadikannya pribadi yang angkuh dan jumawa, justru semakin rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Beliau menerima pujian itu dengan penuh ketenangan dan keseimbangan.

Meneladani Akhlak Rasulullah saw.

Akhlak mulai seperti di ataslah yang kita perlukan saat ini dalam menciptakan keharmonisan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Dari ayat di atas, juga menjelaskan secara langsung tentang akhlak Rasul saw. Ibn Katsir menyatakan bahwa akhlak Rasulullah saw adalah refleksi dari al-Qur’an. Di antara akhlak yang dapat diteladani dari Rasulullah saw. adalah menjaga amanah, dapat dipercaya, cakap bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama, memuliakan tamu, tidak angkuh dan sombong, rasa peduli terhadap sesama, serta bermusyawarah dalam segala hal demi kepentingan bersama, dan sebagainya. Hendaknya kita sebagai umat Islam meneladani akhlak Rasulullah saw. dan menjadikan-Nya sebagai figur publik, minimal dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik). Wallahu A’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here