Tafsir Surah Al-Muzzammil [73]: 15-16: Ganjaran atas Kedurhakaan

0
281

BincangSyariah.Com – Allah memang tidak memberlakukan hitung-hitungan kepada hamba-Nya, akan azab apa yang kelak diterima oleh para pembangkang. Allah hanya menunjukkan kuasa-Nya, bahwa Allah bisa saja menimpakan apa saja untuk mereka. Tetapi tidak secara langsung perbuatan buruk “A” mendapatkan ganjaran “A”, perbuatan buruk “B” mendapatkan ganjaran “B”, begitu seterusnya.

Padahal bisa saja Allah kalau berkehendak hitung-hitungan atas kelakuan hamba-Nya. Tetapi tidak. Sedangkan jika berfirman tentang ganjaran amal kebaikan, maka Allah secara langsung menyebutkan ganjarannya. Contoh paling masyhur adalah ketika seseorang berkenan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, maka sungguh benar-benar Allah akan menambah nikmat-Nya. Lain halnya apabila ia kufur atas nikmat-Nya, maka Allah hanya menyebutkan bahwa azab Allah sangatlah pedih.

Hal ini terasa sangat berbeda. Karena seharusnya jika Allah hitung-hitungan dengan hamba-Nya, niscaya Allah akan mengurangi nikmat-Nya. Sekali lagi, tetapi Allah tidak hitung-hitungan. Semua itu tentu atas berkah rahmat Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Begitu juga Allah tidak menyamakan kelakuan hamba-Nya pada masa Nabi Muhammad dengan kelakuan orang-orang sebelum mereka secara langsung. Melainkan hanya memberikan contoh, sebagai gambaran dan peringatan atas kelakuan buruk mereka.

Melanjutkan surah Al-Muzzammil, setelah Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan azab dunia mapun akhirat bagi mereka yang mendustakan Nabi, kemudian Allah memberikan contoh ganjaran yang pantas bagi orang yang berbuat semisal penduduk Makkah. Dalam ayat ini, Allah mencontohkan kisah Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa sebagai peringatan dan gambaran nyata akan apa yang penduduk Makkah lakukan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil [73]: 15-16,

 إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا – 16

“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kalian, yang menjadi saksi terhada kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir‘aun. Namun Fir‘aun mendurhakai Rasul itu, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” [Q.S. Al-Muzzammil

Imam Ibnu Katsir menginterpretasikan ayat tersebut, seakan-akan Allah mengingatkan penduduk Makkah dengan; “maka berhati-hatilah kaliah. Jangan sampai kalian mendustakan Rasul yang Aku utus. Karena akibat dari perilaku kalian mendustakan Nabi, kalian akan ditimpa azab seperti yang menimpa Fir’aun. Ia disiksa oleh Allah Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa dengan siksaan yang berat. Bahkan kalian lebih pantas untuk mendapatkan kebinasaan dan kehancuran apabila mendustakan Rasul kalian. Karena Rasulullah Muhammad adalah Rasul yang paling mulia serta lebih agung dari Musa bin Imran.”

Maksud dari firman Allah dalam dua ayat tersebut menurut Imam Ibnu ‘Asyur dan Imam Fakhruddin Ar-Razi adalah untuk memperingatkan dan menakut-nakuti penduduk Makkah, bahwa Allah bisa saja menimpakan ganjaran semisal dengan apa yang ditimpakan kepada orang-orang terdahulu. Yakni orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya.

Selanjutnya, makna kesaksian (syahadah) Nabi Muhammad sebagai saksi (syahidan) pada hari kiamat. Maksud menjadi saksi adalah, umat Nabi bersaksi bahwa Nabi Muhammad benar sebagai utusan Allah, maka Allah pun akan menjadikan Nabi Muhammad sebagai saksi atas kebenaran dan kepasrahan mereka menyembah Allah Swt. Penafsiran Imam Ibnu ‘Asyur ini dilandaskan dan diselaraskan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2]: 143,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ – 143

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Adapun lafal “wabilan” yang diartikan dengan redaksi “syadidan” (berat), ialah mengikuti takwil yang dikemukakan Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid dan As-Sa’di. Kemudian pendapat tersebut dikutip oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli, Imam Ibnu Katsir dan ulama ahli tafsir lainnya.

Alasan dikhususkan kisah Nabi Musa dan Fir’aun dalam memberikan gambaran kepada penduduk Makkah yang durhaka kepada Nabi, menurut Imam Ahmad Ash-Shawi adalah karena cerita Nabi Musa dan Fir’aun sudah sangat terkenal di kalangan penduduk Makkah. Bahkan di kalangan mereka yang mendustakan kepada Nabi Muhammad sekali pun.

Imam Ibnu ‘Asyur menambahkan alasan bahwa berpalingnya penduduk Makkah dari Nabi Muhammad dan berpalingnya penduduk Mesir dari Nabi Musa terdapat kesamaan sebab di antara keduanya. Mereka sama-sama memenuhi jiwanya dengan kesombongan dan merasa lebih benar daripada Rasul yang diutus oleh Allah. Sedangkan Imam Fakhuddin Ar-Razi lebih memilih mengemukakan alasan karena mereka sama-sama meremehkan utusan Allah.

Ringkasan tafsir surah Al-Muzzammil [73]: 15-16 menurut penafsiran Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain ialah; Allah memperingatkan penduduk Makkah bahwasanya Allah telah mengutus Nabi Muhammad kepada mereka sebagai saksi atas kedurhakaan mereka kepada Allah pada hari kiamat kelak. Sebagaimana Allah telah mengutus Nabi Musa kepada Fir’aun. Akan tetapi Fir’aun mendurhakainya, sehingga membuat Allah murka dan kelak ia disiksa Allah dengan siksaan yang berat.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here