Tafsir Surah al-Mulk [67]: 19-21: Tiga Hal yang Patut Direnungkan Manusia

1
385

BincangSyariah.Com – Ternyata apa yang terjadi saat ini, banyak diluar ekspektasi setiap orang. Banyak yang luar biasa terjadi dan menjadi anugerah yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Karenanya, manusia perlu merenungkan kebahagiaan, kenikmatan dan kesehatan yang selama ini melekat padanya apakah murni atas kerja kerasnya sendiri, campur tangan orang lain ataukah skenario Allah swt?

Jika perenungan itu tidak dilakukan, maka anugerah tak terduga yang merupakan bentuk pertolongan Allah akan berbuah kesombongan. Ada tiga hal yang patut direnungkan manusia yaitu burung yang mampu terbang bebas di udara, perlindungan Allah, dan pemberi rezeki kepada siapapun. sebagaimana dilukiskan dalam Q.S. al-Mulk [67]: 19-21

اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰۤفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحْمٰنُۗ اِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ جُنْدٌ لَّكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِۗ اِنِ الْكٰفِرُوْنَ اِلَّا فِيْ غُرُوْرٍۚ اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ يَرْزُقُكُمْ اِنْ اَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَّجُّوْا فِيْ عُتُوٍّ وَّنُفُوْرٍ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu (19) Atau siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat membelamu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu hanyalah dalam (keadaan) tertipu (20) Atau siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran) (21).

Tiga Hal yang Patut Direnungkan Manusia

Ada tiga hal yang patut direnungkan manusia. Pertama, Allah swt menerangkan bahwa Dia Mahakuasa dan Menentukan atas segala sesuatu. Sebagai buktinya yang termaktub dalam ayat ke-19 ialah kekuasaan-Nya menerbangkan burung-burung bebas di angkasa, sehingga tidak jatuh ke bumi disebabkan gaya gravitasi bumi. Terbangnya burung merupakan keistimewaan yang menakjubkan, tetapi andaikan bukan karena Allah yang memperjalankan burung, ia dapat tersesat dan terjerembab sewaktu-waktu. Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa Allah swt berkuasa atas segala sesuatu termasuk makhluk yang bernama burung. Bila manusia mau memikirkan semua ciptaan-Nya, ia pasti yakin bahwa sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Mahakuasa, Maha Pemurah, dan Maha Mengetahui segala yang diciptakan-Nya.

Baca Juga :  Mengiringi Jenazah, Lebih Utama di Depan atau di Belakang?

Kedua, Hanya Allah tempat bergantung atas segala urusan. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ke-20 bahwa Allah swt berfirman kepada orang-orang musyrik yang menduakannya dengan sesembahannya (berhala-berhala) yang mereka mintai pertolongan dan rezeki. Dan Allah swt menegaskan kepada mereka bahwa apa yang mereka sembah itu (berhala) tidak dapat memberi pertolongan secuil pun melainkan pertolongan Allah swt, dan itu tidak akan mereka dapatkan. Karenanya Allah memfirmankan ayat ke-20 dengan redaksi inil kafiruna illa fil ghurur sebagai bentuk penegasan bahwa tiada pertolongan, bantuan, dan pembelaan sedikitpun bagi mereka.

Ibn Manzur dalam karyanya, Lisan al-‘Arab mengartikan ghurur dengan khida’ (tipuan), thama’ (rakus, serakah), dan bathil (batal dan sia-sia). Secara terminologi, mempercayai sesuatu secara praduga saja, sedangkan faktanya berlainan. Itulah pikiran kaum kafir dan mereka yang terhijab dari Allah. Apa yang mereka sangka benar dan fakta, sesungguhnya hanya ilusi belaka.

Ketiga, Allah Sang Pemberi Rezeki tanpa pandang bulu sebagaimana yang termaktub dalam ayat ke-21. Allah swt tidak membeda-bedakan pemberian-Nya kepada manusia. Semua manusia akan mendapatkan kenikmatan (rahman) meski manusia sering tidak mensyukurinya, bahkan tetap berada dalam kesombongan dan kesesatan, namun rahim Allah swt hanya kepada orang-orang mukmin yang bertakwa secara sungguh-sungguh. Pada ayat terdahulu telah diingatkan betapa tak terhingganya anugerah dan kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita, agar bersyukur dan beriman. Lantas di sini, kembali diulang dengan nada retoris, jika Allah swt menghentikan rezeki-Nya, siapakah yang dapat menggantikan-Nya untuk mencukupi kebutuhan kita?

Pada ayat ke-21 kata yarzuqukum (Dia memberi kalian rezeki) menggunakan fi’il mudhari’ adalah bentuk pengisyaratan makna akan kontinuitas. Singkatnya, rezeki Allah terus mengalir baik apakah kita memintanya secara sadar atau tidak, mukmin atau kafir, taat dan maksiat, takwa atau pendosa. Itulah mengapa di sini di sitir nama Allah “Al-Rahman”, Dzat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di alam raya ini. Kata al-Rahman dalam surah al-Mulk diulang 4 kali, yakni pada ayat 3, 19, 20, 29.

Baca Juga :  Ini 4 Hal Terkait Investasi Asuransi Agar Terhindar dari Riba

Mereka merasakan dan menikmati keberlimpahan al-Rahman– Nya, di saat bersamaan mereka mengingkari akan adanya Allah swt. Maka, ayat 21 menyebut mereka sebagai lajju fi ‘utuwwin wa nufur artinya mereka terus-menerus dan bersikeras melakukan suatu perbuatan yang dilarang. Ibnu Katsir menambahkan bahkan mereka tetap berkesinambungan dalam sikap mereka yang melampaui batas, tenggelam dalam samudera kedustaan dan kesesatan. Sebagaimana firman Allah yang lain dalam Q.S. al-Furqan [25]: 60. Kata Utuwwun bermakna terpental, gelisah, tidak tenang berada dalam ketaatan. Sedangkan nufur yaitu gelisah atau tidak tenang terhadap sesuatu sehingga menjauhkan diri darinya. Keingkaran, keangkhuhan dan sikap antipati mereka terhadap kebenaran, mereka tidak mau mendengarkannya apalagi mengikutinya. Naudzu billah.

Tiga Hal Yang Patut Direnungkan Manusia

Penafsiran di atas mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya dibalik anugerah kenikmatan justru terkandung ujian bagi kita. Bumi dan segala keelokan panoramanya secara bersamaan menyimpan ancaman paparan radiasi mematikan, tumbukan meteor dari ruang angkasa kita. Demikian pula dari sisi lingkungan, kita harus waspada terhadap fitnah, cacian dan makian. Inilah yang dianalogikan sebagai tidakkah kau memperhatikan burung yang dapat terbang bebas kecuali ada yang menahann-Nya yaitu Allah swt.

Karenanya, semua yang kita miliki saat ini sejatinya titipan Allah semata. Harta, tahta, jabatan semuanya adalah milik Allah. Pun, tatkala Allah memberi rezeki tanpa pandang bulu apakah dia kafir, ahli maksiat, bandar narkoba, koruptor ataukah mukmin, bertakwa, Allah swt tetap memberinya. Namun, rahim Allah terkhusus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang pandai akan merenungi kebesaran dan mensyukuri nikmat-Nya. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here