Tafsir Surah Al-Mujadalah Ayat 11; Indahnya Berbagi Tempat dalam Suatu Majelis

0
554

BincangSyariah.Com – Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari yang namanya tolong-menolong, bahu-membahu, dan gotong-royong. Aksi, reaksi, dan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah diperlukan. Ketika orang berbuat baik, maka orang lain akan baik padanya. Sebaliknya, ketika berbuat jahat, maka ada juga yang membalas kejahatannya.

Tujuan hidup di muka bumi bukanlah untuk mencari popularitas atau kedudukan tinggi di mata manusia. Sebagai hamba Allah, kita tidak dibenarkan jika hanya memikirkan diri sendiri (egois atau ananni). Berbagi kebahagiaan dengan orang lain adalah sebuah perintah. Berbagi tempat dalam suatu majelis juga termasuk kebaikan yang diperintahkan oleh agama.

Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-Mujadalah (58) : 11,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat di atas, ada dua perintah dari Allah Swt. untuk hamba-Nya. Pertama, berilah kelapangan saat diperlukan dalam suatu majelis. Kedua, berdirilah saat keadaan mengharuskan berdiri.

Kelapangan yang dimaksud sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jalalain juz 2/hal. 212 adalah “tawassa’u“, yaitu luaskanlah. Lapang atau luas ini berlaku di majelis mana saja. Maksudnya bukan berarti kita harus membuat majelis yang luas, akan tetapi selalu memberikan kesempatan dan keluasan tempat bagi yang baru datang.

Baca Juga :  Respon MUI Soal Heboh Rambut Nabi yang Dibawa Opick

Misal kita mengadakan hajatan, atau kita pergi ke hajatan orang lain, di saat kita dan tamu undangan yang lain sudah duduk, lalu tiba-tiba datang undangan yang lain. Biasanya orang acuh tak acuh dan tak mau berbagi tempat dengan orang yang terlambat datang. Nah, di sinilah ayat turun agar kita menguatkan hubungan sosial. Orang yang rela berbagi tempat dengan orang yang datang adalah orang paling mulia di majelis tersebut.

Sebenarnya ayat ini bukan hanya berlaku di hajatan dan majelis ilmu atau sholawat, akan tetapi berlaku juga pada para penumpang transportasi umum. Memang itu sudah disesuaikan dengan nomer kita saat membeli tiket, atau siapa yang duduk awal akan kebagian kursi sedang yang paling akhir tidak, akan tetapi jiwa sosial kita tetap harus dikedepankan. Apalagi yang tidak kebagian tempat adalah kakek-kakek atau nenek-nenek, apalagi ibu-ibu hamil tua, tentunya kita yang lebih sehat dan kuat seharusnya berdiri dan mereka yang duduk.

Adapun yang dimaksud dengan lafadz “insyuzuu” dalam Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 212 adalah “Qumuu ilassholati waghairiha minalkhoirooti“, segeralah berdiri untuk melakukan sholat dan kebaikan-kebaikan yang lain. Dalam artian, berlomba-lombalah dalam hal kebaikan. Ketika sudah masuk waktu sholat, maka jadilah yang pertama melaksanakannya. Ketika ada seruan kebaikan, misal ada kegiatan gotong-royong membersihkan selokan atau merenovasi masjid, jadilah yang paling terdepan.

Apabila kita melaksanakan dua hal tersebut, atau dalam artian kita mengikuti dan melaksanakan petunjuk ayat, maka berarti kita termasuk orang beriman dan berilmu. Karena kita meyakini (iman) dan memahami (ilmu) adanya perintah tersebut. Ketika kita sudah beriman dan berilmu, maka Allah Swt. akan meninggikan derajat kita. Baik di dunia maupun kelak di akhirat. Baik di sisi-Nya ataupun di sisi makhluk-Nya.

Baca Juga :  Alim yang Fasik atau Bodoh yang Taat?

Di akhir ayat tersebut Allah Swt. menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui atas semua amal kita. Dalam artian, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, seperti halnya memberikan kelapangan tempat bagi orang lain, pasti akan dibalas oleh-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi hamba yang suka mengalah untuk kebaikan orang lain. Baik dalam urusan berbagi tempat duduk di suatu majelis (asal bukan berbagi kedudukan di majelis pemerintah; KKN) atau berbagi ilmu pengetahuan. Hilangkan pangkat atau kedudukan yang dimiliki saat duduk bersama orang lain. Dalam pribahasa, “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here