Tafsir Surah al-Maun: Tanpa Saleh Sosial, Saleh Ritual Masih Tergolong Pendusta Agama

2
537

BincangSyariah.Com – Jika menyinggung perihal saleh ritual dan saleh sosial, buku karya Gus Mus menjadi sorotan yang menyita pandangan. Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis lebihkan pada penafsiran Saleh Ritual dan Saleh Sosial yang terkandung dalam surat al-Ma’un.

Surat Al-Maun dikenal sebagai surat Makkiyah, meskipun pada proses turunnya ayat, surat ini sebagian turun di Makkah dan Madinah secara geografis. Surat dengan tujuh ayat ini dikenal juga dengan sebutan surat al-Diin dan Araaita.

Jika dicari asbab nuzulnya, surat ini berkenaan dengan seseorang yang memamerkan shalat kepada orang beriman. Mereka melakukannya dengan riya’, serta menolak memberikan bantuan kepada orang miskin dan anak yatim. Di samping itu, cerita yang masyhur, terlebih mengenai tiga ayat pertama dari surat al-Ma’un ini respon terhadap perilaku Abu Sufyan yang menghardik anak yatim. Ia memukul seorang anak yatim yang sedang meminta pertolongan kepadanya.

Golongan Orang yang Mendustakan Agama
Allah berfirman dalam surah al-Maun ayat 1 sampai 2,

 – أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ – فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Pendusta agama dalam surat Al-Maun ini adalah mereka yang menghardik anak yatim, serta tidak menganjurkan (menghalang-halangi) seseorang untuk memberi makan pada orang miskin. Yadu-‘u (memakai tasydid) dalam tafsir Al-Azhar, memiliki arti asal yakni menolak – menolak dengan tangan apabila seseorang mendekat, dengan kadar kebencian yang sangat.

Dalam rasa yang tidak tenang seola-olah ia merasa sangat jijik. Sedang kata yahuddlu artinya menggalakkan. Dalam arti dalam ayat ke-3 surah al-Ma’un itu maksudnya tidak menggalakkan (menganjurkan) seorang yang lain untuk memberikan makan pada kaum miskin ( wa laa yahuddlu ‘ala tho’aami al-miskiin ).

Baca Juga :  Apakah Wukuf Harus Dilaksanakan di Hari Arafah?

Dua perlakuan ini masuk dalam kategori mendustakan agama. Karena sesungguhnya ia mengaku menyembah Allah, akan tetap tidak sedikitpun punya belas kasih serta memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Al-Zamaksyari juga mengafirmasi dalam kitab tafsirnya bahwa menghardik anak yatim serta tidak memberi makan orang fakir miskin termasuk dalam golongan pendusta agama.

Pada ayat selanjutnya ayat ke-4 hingga ke-7; yang termasuk dalam pendusta agama adalah mereka yang melakukan solat, namun lupa akan tujuan salat itu sendiri. Mereka yang mengerjakan kebaikan, akan tetapi dengan maksud ingin dilihat orang lain (riya’), ingin mendapatkan pujian, juga dikategorikan pendusta agama. Al-ladzina hum yuraa-uun (orang-orang yang riya’).

Ibnu Jarir mengatakan bahwa, orang-orang munafik adalah mereka yang jika dihadapan banyak orang bersembahyang dengan khusyu’, namun jika tidak ada yang melihatnya sembahyang itu tidak dikerjakan lagi.

Saleh Sosial; Beragama Bukan Hanya Saleh Ritual

Beragama bukan semata-mata hanya melakukan ibadah personal (seperi salat), akan tetapi diperlukan juga dari beribadah (ritual) itu memiliki dampak pada kehidupan sosial seorang muslim. Seseorang yang memahami agama dengan benar, ia akan mampu memberikan kebaikan bagi dirinya dan kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana menyantuni anak yatim, serta memberikan pertolongan pada orang miskin.

Jika sikap saling tolong-menolong tertanam dalam setiap diri umat muslim, tentu akan ada kedamaian dalam hidup bermasyarakat di sekitarnya. Sehingga, permasalahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana anak yatim dan fakir miskin teratasi dengan baik. Terlebih, mengingat mereka yang sangat membutuhkan sebuah perhatian dan penanganan dari masyarakat yang lebih mampu.

Soleh ritual yang baik, disertai dengan soleh sosial yang mempu memberikan kebermanfaatan, akan menjadikan Islam semakin jaya. Disamping itu, kehidupan bermasyarakat di Indonesia akan semakin makmur, tentram dan damai.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Insyirah: Satu Kesulitan Direspon dengan Dua Kemudahan

Sedikit mengutip dari tulisan Gus Mus, bahwa seorang hamba mengabdi kepada Allah dalam sembahyang, dalam puasa, dalam zakat, dalam haji, dalam pergaulan rumah tangga, serta dalam pergaulan bermasyarakat. Pendek kata, hakikatnya seluruh kehidupan kita inilah pengabdian kepada Allah SWT, Inna shalati wanusuki wamahyaaya wamamati lillahi Rabbil ‘alamiin.

Tulisan ini adalah hasil kerjasama BincangSyariah.Com dengan Center of Research for Islamic Studies Foundation Surabaya

lakum dinukum

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here