Tafsir Surah Al-Lail: Bagaimana Dua Golongan Manusia Menyikapi Harta dan Kenikmatan?

0
1524

BincangSyariah.Com – Surah al-Lail merupakan replika kehidupan manusia. Surah ini berbicara tentang bagaimana manusia menyikapi kehidupan yang ia alami. Terutama terkait harta dan kenikmatan, yang nantinya mengarahkan mereka menjadi dua golongan; apakah golongan yang beruntung, ataukah yang merugi.

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ. (2) وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ – 3

1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). 2. dan siang apabila terang benderang. 3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan

Pada permulaan surah, Allah bersumpah dengan menyebut ciptaan-ciptaannya. Malam, siang, dan penciptaan laki-laki serta perempuan.

Menurut para ulama, hikmah saat Allah bersumpah dengan menyebut malam dan siang dikarenakan, kebenaran malam dan siang tidak bisa di bantah.

Mereka saling terikat, siang adalah waktu dimana manusia beraktifitas. Dan malam, adalah waktu untuk manusia beristirahat. Dengan pembagian itu manusia akan dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Begitupun saat Allah bersumpah dengan menyebut laki-laki dan perempuan, penegasan bahwa hanya Dialah yang mampu menciptakan dua golongan tersebut.

Berawal dari setetes mani kemudian menjadi segumpal daging, lalu akan dijadikan laki-laki atau perempuan, hanya Dia yang Maha menentukan.

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ . (4) فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ. (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ – 7

4. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. 5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. 6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). 7. maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah

Allah menerangkan bahwa segala sesuatu pasti memiliki perbedaan. Begitupun siklus kehidupan manusia. Tentu ada yang baik dan kurang baik. Ada yang tampan ada yang pas-pas-an.

Dalam ayat ini Allah mengingtakan bahwa bagi mereka yang bertakwa kepada Allah serta senantiasa menginfakkan sebagian hartanya untuk kebaikan. Maka Allah menjanjikan kepada mereka kemudahan.

Baca Juga :  Haikal Hassan: Orang yang Tak Percaya Khalifah Akhir Zaman Akan Kufur, Benarkah Demikian?

Yaitu, kemudahan untuk beramal baik, serta kemudahan untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan larangan.

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ. (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ. (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى.(10) وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ (11) إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ (12) وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَىٰ (13) فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ (14) لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى (15) الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ (16

8. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. 9. serta mendustakan pahala terbaik. 10. maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. 11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. 12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk. 13. dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. 14. Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. 15. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. 16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

Menurut Ibnu Abbas kriteria yang disebutkan Allah pada ayat 8 adalah mereka yang tidak mau menginfakkan harta serta merasa cukup dari rahmat Allah Swt.

Mereka juga berani mendustakan adanya balasan kebaikan berupa surga. Sebab itulah Allah menjanjikan jalan kesukaran untuk mereka baik di dunia atau di akhirat. Harta yang mereka kumpulkan didunia dan tidak diinfakkan, akan habis dan sia-sia. Sebab harta itu tidak bisa memberikan manfaat kepadanya sedikitpun saat di hadapan Allah.

Oleh karena itu, Allah peringatkan bahwa Dialah yang berhak memberi petunjuk kepada hambanya. Segala kehidupan dunia dan akhirat adalah kekuasaan Allah. Bagi mereka yang meminta kepada selain Allah, maka mereka sedang berada dalam jalan yang salah, yang bisa menghantarkan mereka kepada jurang api neraka.

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ. (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ (21)

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Baqarah [2]: 8-16: Kemunafikan Menurut Al-Qur'an

17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. 18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. 19. padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. 20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. 21. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

Pada ayat 19, sebagian ahli tafsir berpendapat bahawa ayat tersebut sebagai pujian kepada Abu Bakar al-Shiddiq yang mengeluarkan hartanya untuk membebaskan Bilal bin Rabah dari perbudakan. Tanpa mengharapkan balasan selain ridho dari Allah.

Kesimpulan dari ayat-ayat diatas adalah, sudah seharusnya kita menyadari bahwa segala sesuatu itu milik Allah, salah satunya adalah harta. Karena itu titipan, maka seyogyanya kita kembalikan kepada pemiliknya, yaitu dengan cara menginfakkan harta tersebut. Bukan justru menunjukkan rasa angkuh, merasa cukup, dan lupa untuk berbagi.

Balasan bagi mereka yang bertakwa dan berinfaq, tidak lain melainkan surga dengan segala kenikmatannya. Sedangkan balasan bagi mereka yang angkuh, sudah pasti neraka dengan segala siksaannya.

Tulisan ini adalah hasil kerjasama BincangSyariah.Com dengan CRIS Foundation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here