Tafsir Surah al-Kautsar: Mendapat Nikmat yang Banyak Mulai Dari Mensyukuri yang Sedikit

0
694

BincangSyariah.Com – Suatu ketika Nabi duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba nabi memejamkan mata dan tertunduk. Setelah diam beberapa saat, nabi berkata: “Apakah kalian tahu apa itu Al-Kautsar” ?. Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasul pun berkata: “al-Kautsar itu adalah sebuah sungai yang Allah janjikan kepadaku, didalamnya terdapat banyak kebaikan, berupa pulau yang diberikan kepada umatku pada hari kiamat.” Kemudian Nabi membacakan ayat.

(1) إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”

Selain dimaknai sebagai sungai sebagaimana asbabun nuzul diatas, Makna lain al-Kauthar adalah nikmat yang banyak. Terambil dari kata kathir, yang berarti banyak. Menandai akan berlimpahnya nikmat Allah Swt. yang tidak bisa dihitung.

Hamka dalam tafsirnya menegaskan kenikmatan itu dimulai dari Alquran diturunkan sebagai wahyu. Kemudian nikmat wahyu itu yang melahirkan fikiran, kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad sebagai penutup segala Rasul, rahmat bagi seluruh alam, pemimpin bagi umat manusia, memimpin agama yang benar, serta demi keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. (Hamka : Tafsir Al-Azhar, 283-284)

Kata a’thaynaaka memuat kata kerja (fi’il) berupa a’thaa yang arti awalnya adalah memberi, biasanya digunakan untuk pemberian yang menjadi milik pribadi seseorang, dan juga untuk menggambarkan pemberian yang sedikit.

Kata a’thaa dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad. Namun makna esensialnya tertuju pada semua hamba berupa pemberian dari Allah dengan nikmat yang banyak (al-Kauthar/Kathir). Pemberian nikmat yang banyak itu disyaratkan berupa kita harus bersyukur atas nikmat-nikmat kecil yang sudah diberikan.

Syarat lainnya untuk mendapatkan Al-Kauthar adalah sebagaimana yang diterangkan pada ayat selanjutnya,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

Kata shalli adalah bentuk perintah yang berasal dari kata kerja shalah yang berarti doa.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Beriman kepada Kitab Taurat

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa maksud kata tersebut adalah perintah melaksanakan salat lima waktu. Riwayat lain memahaminya sebagai perintah salat Idul Adha.

Doa juga bisa diartikan sebagai ibadah. Karena Alquran pun menggunakan kata doa untuk makna ibadah. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Ghafir ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.

Kemudian kata inhar terambil dari kata nahr yang dari segi bahasa berarti dada, sekitar tempat meletakkan kalung. Jika Anda berkata nahartuhu maka maksudnya adalah saya mengenai dadanya dalam arti menyembelihnya.

Sebagian ulama memahami perintah yang dimaksud di sini adalah perintah menyembelih binatang, baik dalam aktivitas salat Idul Adha ataupun dalam Aqiqah.

Pada ayat ke tiga dalam surah ini. Mayoritas ulama tafsir sepakat dengan apa asbabun nuzul tiga ayat ini. Kejadian yang memicunya adalah ejekan orang kafir Qurasy kepada Muhammad Saw. atas kematian anak pertamanyanya Ibrahim bin Muhammad.

Bagi bangsa Arab ketika itu, kematian anak laki-laki merupakan sebuah aib yang memalukan. Dan anggapan mereka terhadap Nabi bahwa ia tidak akan memiliki keturunan, yang akan melanjutkan dakwanya.

Ejekan masyarakat Makkah kepadanya membuat Nabi dirundung kesedihan yang mendalam. Sampai Allah menurunkan ayat ketiga dari surah al-Kauthar untuk menghibur Nabi Muhammad Saw.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

”Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”

Al Maraghi berpendapat bahwa kebencian yang dimaksud disini adalah kebencian terhadap ajaran-ajarannnya, bukan kebencian terhadap pribadi nabi Muhammad. Jadi, ejekan yang ditujukan pada nabi adalah bentuk melemahkan dirinya dalam mendakwahkan ajaran Islam.

Baca Juga :  Pulang Haji, Ini Pesan-Pesan Haji Menurut Ulama Mazhab Hanbali

Oleh karena itu Allah menurukan ayat ini untuk menghibur sekaligus membuat nabi move on kembali dalam jalan dakwahnya.

Hikmah yang dapat diambil dari turunnya ayat ini berdasarkan riwayat Asbabun Nuzul ialah bahwa Islam tidak mengenal sistem turunan. Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memegang tampuk kepemimpinan selagi ia memiliki kemapuan, berilmu, dan amanah, maka ia berhak menjadi pemimpin. Sekalipun dari kalangan orang yang rendah. (Munjab Mahalli, Asbabun Nuzul, hlm 956)

Dengan demikian, seorang pemimpin hendaklah mensyukuri atas amanah yang diembankan padanya. Yaitu dengan menghadapkan diri beribadah pada Allah. Utamanya memperbanyak amalan sunnah sebagaimanayang ditekankan dalam surah ini.

Tujuannya agar ia siap dengan ujian yang akan menimpa dirinya sebagai seorang pemimpin. Jika ia telah melaksanakannya, maka ia akan medapatkan kebaikan yang banyak

Tulisan ini adalah hasil kerjasama bincangsyariah.com dengan CRIS Foundation Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here