Tafsir Surah al-Kahfi [18] Ayat 3: Buah dari Perbuatan Baik

0
140

BincangSyariah.Com – Pagi baru saja mampir ketika Paul Hullings dan Tim Young duduk di Route 130 Diner dan memesan sarapan. Restoran 24 jam itu ada di New Jersey, Amerika Serikat. Hullings dan Young adalah petugas pemadam kebakaran. “Tambah kopi espresso pekat,” kata keduanya.

Mereka memerlukannya untuk menyuntikkan kebugaran ke mata dan tubuh mereka. Wajah dan tubuh mereka kelelahan. Sembari menunggu pesanan datang, mereka ngobrol ringan seputar usaha mereka untuk memadamkan api semalaman penuh.

Liz Woodward, pelayan restoran, yang wara-wiri mengantarkan pesanan mendengar obrolan mereka.

Setelah menandaskan sarapan, Hullings dan Young meminta tagihan. Begitu tagihan datang, bukan jumlah uang yang harus mereka bayarkan yang mereka baca di atas kertas tagihan, melainkan ucapan terima kasih dari Liz.

“Sarapan kalian saya yang bayar. Terima kasih atas ikhtiar yang telah kalian lakukan, melayani kami dan lari ke tempat-tempat yang justru semua orang hindari. Apa pun tugas kalian, kalian prawira, berani, dan tangguh. Terima kasih tetap bernyali setiap hari. Didorong keberanian dan dipicu nyali—teladan benar kalian ini. Rehatlah!”

Tak terasa, mata Young basah. Tak mereka nyana mereka dapat perhatian dari orang yang tak mereka kenal. Young mengunggah kertas tagihan itu ke akun sosial medianya. Kalau bertemu Woodward, “Berilah dia tip yang banyak,” katanya.

Young kemudian tahu bahwa ternyata Woodward sedang menggalang dana di sebuah platform digital untuk ayahnya, Steven. Ayah Liz kena aneurisma otak. Suda beberapa tahun hanya tergolek di atas kasur. Woodward ingin membelikan mobil yang bisa memuat kursi roda, untuk kepentingan periksa medis ayahnya ke rumah sakit maupun untuk membawa ayahnya jalan-jalan mencari angin segar. Selain menggalang dana, Woodward rela melakukan tiga kerja sampingan agar bisa membeli mobil demi ayahnya.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Kahfi 1-2: Menegaskan Tauhid dan Kerasulan Nabi Muhammad saw.

Hullings dan Young ingin ikut membantu Woodward, dengan menyebarkan cerita kebaikan Woodward dan kebutuhannya. Melalui berbagai wahana sosial media. Woodward menuliskan kebutuhannya sekira $17000, tetapi berkat kebaikan dua pemadam kebakaran tadi, mereka berhasil mengumpulkan dana $86500. Dana itu bisa untuk membeli mobil yang sesuai untuk kebutuhan ayah Woodward. Tetapi, sebelum dananya dicairkan untuk membeli mobil, sebuah perusahaan mobil yang memang khusus membuat mobil yang bisa masuk kursi roda malah menyumbangkan satu mobil mereka untuk ayah Woodwards. Jadi, dana yang terkumpul dari donasi digunakan untuk keperluan penyembuhan ayah Woodwards.

“Entah mau ngomong apa, saya,” kata Woodward, terharu atas semuanya.

Hulling, Young, dan Woodward adalah tiga orang yang bertemu karena kebaikan. Kebaikan yang melahirkan kebahagiaan. Dan, kisah ini menebalkan keyakinan kita bahwa kebaikan tiadalah melahirkan kecuali kebaikan itu sendiri. Kisah ini terjadi pada 2015, tetapi kebaikan itu tetap memancarkan kebahagiaan yang menembus ruang dan waktu. Kita yang membacanya di Indonesia dan pada 2020 ini tetap mendapatkan pancaran kebahagiaannya.

Bisa dibayangkan, betapa kebaikan yang didasarkan kepada kemanusiaan mendatangkan kebahagiaan bagi banyak orang dan itu bisa dilihat dan dirasakan di dunia ini. Jangka waktunya lama pula.

Dan, bicara mengenai kebaikan yang mendatangkan kebahagiaan lintas waktu, saya teringat keuniversalan pesan al-Quran dalam surah al-Kahfi [18]: 3,

مَّاكِثِيْنَ  فِيْهِ اَبَدًاۙ

Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

Ini mengingatkan saya kepada Muhammad Asad. Beliau dalam The Message of The Quran menafsirkannya dengan, “(suatu keadaan bahagia) yang di dalamnya mereka akan berkediaman, melampaui perhitungan waktu.”

Jika kebahagiaan di dunia ini saja bisa berlaku lama, apalagi kebahagiaan yang menjadi buah dari kebaikan seorang mukmin di dunia ini dan dia dapatkan saat di akhirat.

Baca Juga :  Memaknai Kewajiban Berpuasa Ramadan

Ya, ayat 3 surah al-Kahfi ini berbicara mengenai akibat baik yang didapatkan dari perbuatan baik di dunia, tetapi akan kita petik saat di dunia saat ini dan kelak di akhirat.

Pada ayat kedua disebutkan bahwa al-Quran ini membawa berita gembira kepada umat beriman yang mengerjakan kebaikan; mereka akan mendapatkan ganjaran baik.

Imam ath-Thabari dalam Jami al-Bayan menjabarkan bahwa mengerjakan kebajikan adalah menjalani perintah yang telah Allah berikan dan menjauhi larangan yang telah Allah sampaikan. Semua informasi ini kita dapatkan dari Nabi Muhammad saw. Kita meyakini kebenaran semua informasi itu atas dasar keimanan kita kepada Allah dan kenabian Rasulullah saw. Orang beriman atau mukmin yang demikian itulah yang akan mendapatkan ganjaran baik.

Lebih lanjut, Imam Thabari menyatakan, “Ganjaran yang patut dari Allah atas keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan atas perbuatan kebajikan mereka di dunia. Ganjaran itu adalah surga yang diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa.”

Imam Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan makatsa adalah mendiami satu tempat. Di tempat itu mereka mendapatkan segala jenis kelezatan atau balasan kebaikan yang setimpal dan itu berarti bahwa ganjaran baik itu senantiasa meliputi mereka, tak meninggalkan mereka. Sedetik pun. Selain Imam Thabari, para pakar tafsir lainnya pun menyatakan tempat itu adalah surga.

Tetapi, mereka akan mendapatkannya karena mereka beriman lagi mengerjakan kebaikan. Frase, mereka akan mendapatkan balasan yang baik (anna lahum ajran hasana) bertalian (muta’aliq) dengan kata yubasyyira tetapi ada huruf jar yang dibuang, yaitu ba’, dari anna. Mestinya berbunyi bi anna lahum (Bahwa [sesungguhnya] bagi mereka).

Menurut Imam Ibn Asyur, penyebutan iman dan kebaikan dalam ayat kedua surah Al-Kahfi adalah isyarat sebagai keduanya harus bergandengan. Tak bisa dilepaskan. Kedua hal inilah yang kemudian melahirkan ganjaran baik dan kekal di dalamnya.

Baca Juga :  Peran BI-7-Days Reverse Repo Rate pada Kebijakan Fiskal Kontraktif

Pendek kata, mukmin yang melakukan kebajikan. Semoga kita masuk dalam kelompok ini. Sehingga kita akan mendapatkannya juga kelak di akhirat. Bukan hanya di dunia ini. Dan mengimani kehidupan kelak adalah bagian dari keimanan terhadap alam gaib. Kita, sekali lagi, mengetahui informasi ini dari Nabi Muhammad saw. Kita mengimani Nabi Muhammad saw. berkat ketauhidan kita kepada Allah swt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here