Tafsir Surah al-Kahfi 1-2: Menegaskan Tauhid dan Kerasulan Nabi Muhammad saw.

0
1804

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. (QS. Al-Kahfi [18]: 1-2)

BincangSyariah.Com – Dalam susunan surah dalam Mushaf Utsmani, Surah Al-Kahfi [18] terletak setelah surah Al-Isra [17]. Yang menarik adalah kaitan pembuka kedua surat ini. Jika permulaan surah ini dibuka dengan tahmid, surah al-Isra dibuka dengan tasbih,

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra’ [17]: 1).

Imam Fakhrurrazi dalam Mafatih al-Ghayb menjabarkan bahwa urutan yang benar adalah tasbih (menyucikan Allah) dulu baru kemudian tahmid (memuji Allah). Makanya kita kerap membaca dzikir atau wiridan adalah subhanallah dulu, baru alhamdulillah. Surah al-Isra dibuka dengan tasbih, dan al-Kahfi dibuka dengan tahmid. Ini susunan sempurna.

“Tasbih adalah istilah pertama; yaitu menyucikan Allah dari apa-apa yang tak selayaknya Allah sandang. Istilah ini menunjukkan bahwa Allah itu Maha Sempurna dalam dzat-Nya. Sementara tahmid adalah istilah yang digunakan untuk menyempurnakan selain-Nya. Tak pelak, yang pertama mesti sempurna dan yang kedua menyempurnakan selainnya,” tulisnya.

Imam Fakhrurrazi juga menunjukkan manfaat lain dari keterkaitan ini. Yaitu bahwa manfaat Isra itu terbatas, hanya untuk diri Nabi Muhammad saw.; penurunan al-Quran memiliki manfaat lebih luas; sebagai 1) pemberi peringatan keras kepada orang-orang kafir (ingkar) dan 2) pemberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin. Dengan kata lain, jika Isra memberi cahaya kepada satu orang (Nabi Muhammad), maka penurunan al-Quran menerangi umat manusia, sejak dahulu sampai hari akhir nanti.

Baca Juga :  Apakah Semuanya Wajib Menyampaikan Apa yang Didengarnya?

Untuk mempercayai proses penurunan al-Quran ini perlu keimanan kepada Allah swt. Bagaimana mungkin bisa mengimani al-Quran berasal dari Allah dan mempercayai Nabi Muhammad saw. sebagai nabi-Nya bila tak memiliki keimanan sama sekali kepada Allah. Maka, memegang tauhid adalah langkah pertama dalam hal ini. Beriman kepada Allah, bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa, baru kemudian mudah untuk menerima fakta dan argumen al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada utusan Allah, yaitu Nabi Muhammad saw.

Inilah tauhid yang benar itu. Setelah tauhidnya benar maka proses selanjutnya adalah mengimani Nabi Muhammad. Setelah itu mengimani al-Quran. Dalam ayat 1-2 ini Allah mengajukan bukti al-Quran datang dari Allah: tak ada kekeliruan maupun kontradiksi antarayat. Semuanya selaras, harmoni. Padu padan. Imam Biqa’i yang mengembangkan kajian munasabah (keterkaitan) antar elemen dalam al-Quran menggambarkan al-Quran seumpama untaian mutiara dan menjadikannya sebagai judul tafsirnya, Nadhm al-Durar (Untaian Mutiara-Mutiara). Ketika untaian itu terjalin, maka tak tampak lagi mana awal dan mana akhir. Dan situlah letak keindahan untaian mutiara.

Lantas ada mungkin ada yang mengajukan, kenapa ayat mengenai khamar cenderung ambigu. Pada satu ayat disebutkan bahwa dari minuman memabukkan itu bisa menghasilkan rizki yang baik.

وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (QS. An-Nahl [16]: 67)

Bahkan, ditambah dengan ayat ini. Bahwa ada manfaat yang bisa diambil dari khamar dan judi.

Baca Juga :  Lima Rahasia Kehebatan Zikir kepada Allah

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Kalau membaca dua ayat ini, berarti Islam membolehkan minuman keras (apa pun macamnya). Karena toh bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain, meskipun kecil. Dan  rezeki orang yang berjualan minuman keras itu baik. Tetapi, kalau membaca ayat lain kita menemukan kontradiksi.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (QS. Al-Maidah [5]: 90)

Ayat ini jelas sekali bahwa Islam melarang umatnya untuk meminum minuman keras. Lantas, manakah yang benar dari ayat-ayat ini?

Atas pertanyaan-pertanyaan ini maka yang perlu dipahami adalah dalam membaca al-Quran itu perlu ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah ilmu-ilmu al-Quran (ulum al-Quran). Di dalamnya ada pembahasan awalu ma nazala (ayat dan surat yang pertama-tama turun) dan akhiru ma nazala (ayat dan surat yang terakhir turun), juga ada nasikh-mansukh. Untuk memahami ayat-ayat yang tampak bertentangan di atas maka seseorang perlu mengetahui urutan mana ayat yang lebih dulu turun dan mana yang belakangan, serta dan di mana turunnya. Setelah itu baru memahaminya dalam kerangka nasikh-mansukh.

Tak bisa dengan hanya membaca sekilas ayat-ayat itu lantas menilainya sebagai tidak selaras. Dalam ayat lain disebutkan,

Baca Juga :  Larangan Merasa Paling Benar dalam Beragama

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. (QS. An-Nisa [4]: 82)

Dalam memahami al-Quran ini memerlukan tadabbur, yaitu proses memahami dan meresapi makna dan itu memerlukan ilmu pengetahuan. Memerlukan keterpaduan antara akal dan hati. Dari situ akan tampak ayat-ayat al-Quran takkan pernah saling berlawanan.

Imam Thabari dalam Tafsir Thabari meriwayatkan dari Yunus, bahwasanya Ibn Wahb menceritakan, bahwa Ibn Zaid berkata: al-Quran itu tak berbohong antara satu (ayat/surat) dengan lainnya; tiada pula saling bertentangan antara satu (ayat/surat) dengan lainnya. Apa yang manusia tak ketahui itu lebih disebabkan ketidaktahuan dan kebodohan mereka.

Karena al-Quran tak mengandung kesalahan sedikit pun maka konsekuensinya adalah menerima semua kebenaran yang ada di dalamnya. Juga pasti menerima Nabi Muhammad. Bahwa beliau adalah benar Rasulullah, utusan Allah. Paduan antara keduanya ini lantas al-Quran bisa membawa dua fungsi: 1) sebagai pengingat kepada orang-orang yang mengingkarinya, bahwa azab bagi mereka itu akan sangat berat; di sisi lain, 2) al-Quran juga pemberi kabar gembira bagi yang mengimaninya.

Kalangan mukmin mendapatkan ganjaran berdasarkan tauhid yang kuat, mengimani kenabian Muhammad saw. dan kebenaran al-Quran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here