Tafsir Surah al-Kafirun: Batasan Toleransi dalam Islam

0
880

BincangSyariah.Com – Dalam bersosialisasi, seorang muslim tidak dibatasi untuk bergaul dengan siapa saja, dan dari golongan mana saja. Mereka boleh melakukan interaksi sosial, misalnya berdagang, belajar, ataupun yang lainnya dengan siapapun baik muslim maupun non-muslim. Namun, tidak boleh bertoleransi dalam hal beribadah, ataupun keyakinan. Alqur’an menjelaskan secara gamblang bagaimana Rasulullah menolak secara halus dan menolak secara tegas ajakan kaum Quraisy yang ingin berdamai (dalam hal ini Kaum Qurasy meminta kesepakatan pada Raslullah untuk saling menyembah sesembahan mereka).

Hal tersebut salah satunya dijelaskan dalam Surat Al-Kafirun, dimana dijelaskan bagaimana bagaimana penolakan Rasulullah terhadap ajakan-ajakan Kaum Quraisy yang meminta Rasulullah untuk menyembah sesembahan mereka.

Surah Al-Kafirun dan Asbab Nuzulnya

Surah Al-Kafirun berada pada urutan surat ke-109 di dalam Alqur’an, dan turun setelah turunnya surat Al-Ma’un. Surah ini masuk dalam kategori surat Makkiyah, karena secara historiografis surat ini turun pada saat Rasulullah berada di Makkah. Nama yang paling populer daari surat Qul Yaa Ayyuhaa al-Kaafiiruun adalah surah al-Kafirun. Nama lainnya adalah surah al-‘Ibadah, surah ad-Din. Ada juga yang menamainya surah al-Muqasqisyah (penyembuh), yakni kandungannya menyembuhkan dan menghilangkan penyakit kemusyrikan.

A Mudjab Al-Mahali dalam bukunya menjelaskan, isi pokok dalam surat ini menegaskan bahwa, sesembahan yang disembah oleh orang kafir sangat berlainan dengan apa yang disembah oleh Rasulullah SAW, beserta para pengikutnya. Yang mereka sembah adalah berhala, sedangkan yang disembah oleh Rasulullah adalah Allah, Tuhan Semesta Alam.

Diriwayatkan oleh Abi Hatim dari Sa’id bin Mina, bahwa Al Walid bin Almughirah, al ‘Ashi bin Wa’il, al Aswad bin al Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw. dan berkata : “Hai Muhammad, Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah, dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah, dan kita bersekutu dalam segala hal dan Engkaulah yang memimpin kami”. Berkenaan dengan peristiwa/ajakan itu, maka Allah menurunkan Qs. Al-Kafirun ayat 1-6,

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun tentang Peristiwa Pembantaian Imam al-Husain

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ – 6

Al-Kafirun dalam Ranah Ibadah dan Sosial

Surat Al-Kafirun, dalam sudut pandang sosial dikenal sebagai surat yang mempresentasikan bahwa muslim setidaknya harus memiliki sikap toleransi terhadap apa yang menjadi keyakinan pemeluk agama lain. Namun, tidak diperbolehkan bertoleransi dalam bentuk keyakinan yang dianut mereka.

Dalam hal keyakinan, memang umat Muslim harus berlaku tegas terlebih terhadap dirinya sendiri, bahwa Tuhan yang patut disembah hanya Allah swt. Maka, dalam ayat ke-2 Al-Kafirun ini ditegaskan; ‘Laa ‘a’budhu maa ta’budhuun’ (Tidak, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah).

Quraish Shihab menjelaskan, kalimat ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad kala itu yang diajak berkompromi oleh Quraish Makkah tidak akan pernah (baik sekarang, dana akan datang) menyembah sesembahan yang mereka sembah. Dipertegas juga oleh Ibnu Katsir dengan menyalin dari perkataan Ibnu Taimiyah bahwa kalimat dalam ayat ke-2 ini mengandung nafyul fi’li, maksudnya perbuatan itu (penyembahan pada keyakinan agama lain) tidak pernah dikerjaan oleh Nabi. Tidak ada tolerasi dalam hal beribadah dengan umat lain. Tidak ada negoisasi dalam menjalankan praktek keagamaan anta-agama.

Disisi lain, di akhir surat Al-Kafirun ini, Allah memberikan kasih sayangnya dengan membukakan pintu ‘toleransi’ atas perbedaan keyakinan yang berada di atas muka bumi ini. “Lakum dinukum wa liyadiin” (Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku). Ayat ini juga semakna dengan surat Qs. Yunus [10] ayat 4 dan Qs. Al-Baqarah [2] ayat 139. Jika penulis katakan, ada tenggang rasa dalam menyikapai perbedaan yang ada disekitarnya, serta diyakini bahwa memang beragaman/perbedaan itu sebuah ‘keniscayaan’ yang Allah ciptakan untuk diterima dengan tetap pada ‘kepercayaan’ pada-Nya.

Baca Juga :  Mengulas Terjemah Bahasa Melayu Tafsir Alquran Muhamamd Abduh

Tulisan ini adalah hasil kerjasama BincangSyariah.Com dengan Center of Research for Islamic Studies Foundation Surabaya

lakum dinukum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here