Tafsir Surah al-Jum’ah Ayat 9: Fokuslah Melaksanakan Salat dan Jangan Terbelenggu Dengan Dunia

0
550

BincangSyariah.Com – Dalam Alquran, kata al-jum’ah hanya satu kali disebut dalam Alquran, yaitu dalam Surah al-Jum’ah ayat ke-9. Ayat ini secara eksplisit menjelaskan perintah melaksanakan salat Jumat. Para Imam salat, biasanya juga membaca ayat ini beserta dua ayat selanjutnya dari Surah al-Jum’ah. Berikut ini penulis cantumkan ayat 9 surah al-Jum’ah,

بسم الله الرحمن الرحيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُون

 Wahai orang-orang yang beriman, jika (kalian) dipanggil untuk melaksanakan salat di hari Jumat, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian (sedari awal) mengetahuinya. 

Ayat ke-9 pada kelompok ayat tersebut, Allah memerintahkan orang-orang yang sudah beriman (aamanuu) untuk bersegera berzikir kepada Allah dan meninggalkan jual beli pada hari Jumat. Menggunakan diksi aamanuu disini secara sekilas dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tidak beriman belum mendapatkan perintah salat Jumat. Ini juga menegaskan bahwa ibadah salat Jumat adalah ibadah yang menjadi syiar keimanan masyarakat Muslim.

Masih dalam ayat yang sama, para Muslimin justru diperintahkan untuk fas’au dalam melakukan ibadah yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah saw. saat tiba di wilayah Quba’ sebagai bagian perjalanan menuju Madinah. Namun, apa makna fas’au yang diterjemahkan menjadi “bersegeralah” itu?

Menurut para ahli tafsir, artinya bukan berarti kita tergesa-gesa dalam beribadah. Misal, berangkat salat Jumat sampai berlari-lari. Menurut Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, kata fas’au disana memiliki makna “perhatikan betul-betul dalam perjalanan menuju salat Jumat” (ihtammuu fi masiirikum ilaihaa). Bukan berjalan tergesa-gesa. Dasarnya adalah hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.,

Baca Juga :  Saingi Hoaks! Yuk Berdakwah di Media Sosial

إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة ، وعليكم السكينة والوقار ، ولا تسرعوا ، فما أدركتم فصلوا ، وما فاتكم فأتموا

Jika kalian mendengar iqamah (panggilan untuk melaksanakan shalat), maka jalanlah menuju ke sana. Dan (dalam proses menuju tempat shalat) kalian wajib untuk tenang dan anggun. Dan, janganlah kalian tergesa-gesa. Maka jika kalian mendapati (salat masih dilaksanakan) maka segeralah (bergabung untuk) salat. Jika kalian keluputan (salah satu rakaat atau bahkan salatnya) maka sempurnakanlah.

Menurut para ahli bahasa (al-lughah), kata al-Jum’ah/al-Jumu’ah pada ayat tersebut dapat dibaca menjadi tiga macam, al-Jum’ah, al-Jumu’ah, dan al-Juma’ah demikian menurut ahli bahasa dari abad ke-2 H, al-Farra’ seperti dikutip al-Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

Kata al-Jum’ah ini menjadi sifat bagi hari keenam dari tujuh hari yang sudah dikenal bangsa Arab sebelum masa Islam. Dan, tradisi bangsa Arab pada waktu itu juga melaksanakan sejenis peribadatan di berhala-berhala mereka di hari keenam tersebut. Jika merujuk kepada agama yang berkembang pada waktu itu (yaitu Nasrani dan Yahudi), Nasrani menjadi minggu sebagai “hari suci” mereka, sedang Yahudi di hari Jumat. Menurut hadis Nabi saw. seperti dirawayatkan al-Bukhari dari Abu Hurairah, orang-orang Yahudi dan Nasrani sebenarnya “hari suci”-nya juga Jumat. Namun masing-masing pemuka agama saling berselisih paham dan menentukan hari ibadah umatnya sendiri. Demikian dikisahkan dalam Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir al-Qurthubi.

Ayat ini juga mengandung perintah untuk meninggalkan jual beli. Maksudnya, kata dzaru al-bai’ (meninggalkan jual beli) ini artinya masih bergandengan dengan ketika diserukan untuk melaksanakan salat Jumat. Maka maksudnya adalah, jika sudah terdengar panggilan azan untuk melaksanakan salat Jumat, maka yang masih melakukan pekerjaan di luar ibadah, sepantasnya dihentikan. Sejak masa Khalifah Usman bin Affan, salat Jumat dilakukan dengan didahului dua azan terlebih dahulu. Meskipun, azan yang digolongkan nida’ (panggilan yang hakiki) untuk jumatan adalah azan kedua, namun para pedagang mesti sudah bersiap-siap sejak azan pertama dikumandangkan.

Baca Juga :  Mungkinkah Hukuman Zina Diterapkan di Indonesia?

Ayat ini dipungkas dengan pernyataan, dzalikum khoirun lakum (itu/bersegera salat Jumat dan meninggalkan jual beli) untuk menunjukkan bahwa salat Jumat jauh lebih baik dibandingkan dengan terus menerus berdagang padahal sudah ada panggilan salat. Apalagi, sampai tidak melaksanakan salat.  Wa al-‘Iyadzu Billah wa Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here