Tafsir Surah Al-Insyiqaq Ayat 21-25: Balasan Bagi Orang Yang Mengingkari Al-Qur’an

0
2114

BincangSyariah.Com – Dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah yang harus dijadikan sebuah renungan yang “jleb”, menginspirasi sekaligus warning bagi kita untuk senantiasa “membawa” atau mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an kapan pun dan di mana pun berada. Yaitu dalam Tafsir Surah Al-Insyiqaq Ayat 21-25, bahwa bagi mereka yang mengingkari Al-Qur’an akan memperoleh azab yang pedih sebagaimana dalam firman-Nya di bawah ini.

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ (21) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ (22) وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ (23) فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (24) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Dan apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya). Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (Q.S. al-Insyiqaq [84]: 21-25)

Ayat di atas (ayat 21) merupakan ayat sajdah, barangsiapa yang membacanya maka disunnahkan baginya untuk sujud tilawah, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Apabila dia sedang di luar shalat maka dia langsung sujud. Apabila di dalam shalat maka dia bertakbir kemudian sujud lalu bangun kembali seraya bertakbir dan melanjutkan bacaan.

Tafsir Surah al-Insyiqaq Ayat 21-25

Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan tatkala Al-Qur’an dibacakan dan diperdengarkan, mereka tidak mau sujud tunduk dan bersujud. Bahkan lantaran sikap kafir mereka, mereka mendustakan dan menentang kebenaran itu dengan sikap sombong. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka. Dalam Tafsir al-Thabari dijelaskan, dalam hati mereka ada pendustaan terhadap Al-Qur’an dan Rasulullah saw.

Baca Juga :  NU Tetapkan 5 Juni 2019 Sebagai Awal Syawal 1440 H

Selanjutnya, kata al-bisyarah pada ayat 24 dalam bahasa Arab seringkali digunakan untuk kabar gembira, akan tetapi kali ini Allah swt. menggunakan ungkapan tersebut sebagai bentuk ejekan terhadap kaum musyrik bahwasannya mereka akan mendapat azab yang pedih di akhirat.

Pada ayat selanjutnya (ayat 25) terdapat kata illa, Ini merupakan isti’sna munqati (pengecualian yang terputus), artinya azab tersebut tidak berlaku bagi orang-orang yang hatinya beriman dan beramal saleh. dengan seluruh anggota tubuhnya. Bagi mereka, pahala yang tiada putus.

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ghairu mamnun ialah tidak dikurangi. Mujahid dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa tidak terhitung banyaknya. Jadi, pahala atau balasan kebaikan akan mengalir tiada henti tanpa berkurang sedikitpun. Allah swt. berfirman dalam hadits qudsi-Nya,

فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْمِنَّةُ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ فِي كُلِّ حَالٍ وَآنٍ وَلَحْظَةٍ، وَإِنَّمَا دَخَلُوهَا بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ لَا بِأَعْمَالِهِمْ فَلَهُ عَلَيْهِمُ الْمِنَّةُ دَائِمًا سَرْمَدًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ أَبَدًا، وَلِهَذَا يُلْهَمُونَ تَسْبِيحَهُ وَتَحْمِيدَهُ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberi karunia kepada penghuni surga setiap kondisi, setiap detik, dan setiap saat. Dan sesungguhnya mereka masuk surga disebabkan karunia dan kasih sayang-Nya, bukan amal mereka. Maka Allah memberi karunia kepada mereka selalu dan selamanya, dan segala pujian adalah milik Allah semata selama-lamanya. Karenanya para penghuni surga selalu diilhamkan untuk bertasbih dan bertahmid (memujiNya) sebagaimana mereka bernafas.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/356)

Jika nikmat para penghuni surga saja tiada henti-hentinya, demikian pula sebaliknya hukuman Allah untuk orang-orang kafir, yaitu adzab yang tiada henti-hentinya dalam neraka jahanam.

Balasan Bagi Orang Yang Mengingkari Al-Qur’an

Pada dasarnya hati dan akal manusia akan menerima kebenaran, meskipun lisan mengingkari Al-Qur’an. Hal ini tidak lepas dari kodrat manusia sebagai makhluk yang beragama dan berakal.

Baca Juga :  Hukum Mencicil Mahar Nikah

Bagi mereka yang mampu menerima kebenaran dan mengejawantahkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupannya, maka janji Allah pasti kehidupannya diliputi kebaikan dan keberkahan tiada putusnya.

Begitu pula sebaliknya, mereka yang ingkar sungguh azab-Nya sangat pedih, kehidupan mereka layaknya binatang yang selalu menuruti syahwat kesenangan nafsu semata yang mendorong ke jurang kehinaan.

Maka menutup perenungan ayat ini, cuplikan nasehat dalam buku Renungan Kalam Langit karya Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Pakar Ilmu Qira’at asal Cirebon, ini sangat tepat sekali menggambarkannya. Beliau mengatakan “Jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabat karibmu, teman dudukmu, bacaan harianmu kala kau senang ataupun susah. Al-Qur’an akan menjadikanmu teman yang sangat setia dari dunia sampai akhirat”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here