Tafsir Surah al-Ikhlash: Tauhid dan Tidak Boleh Bergantung kepada Selain Allah

1
1054

BincangSyariah.Com – Di antara kita tentunya sudah sangat akrab dengan surah al-Ikhlash, diantara surah dengan ayat-ayat pendeknya dalam Alquran. Bahkan, sebagian kita berseloroh bahwa seringkali hanya surah ini saja yang kita baca sehari-hari dalam salat, meskipun sebenarnya ada surah-surah yang lain. Namun meskipun surah al-Ikhlash adalah surah dengan ayat yang sedikit lagi pendek, namun kandungannya adalah di antara tema-tema inti dalam Alquran, yaitu soal akidah. Akidah merupakan di antara empat tema besar yang terdapat dalam Alquran. Berikut ini adalah isi dari surah al-Ikhlash beserta artinya,

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ (١) اَللّٰهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ – ٤

Katakanlah!, Allah itu Esa (1) (Kepada) Allah segala sesuatu ditanggungkan (2) Dia tidak melahirkan dan dilahirkan (3) Dan tidak ada satupun (di alam semesta ini) yang setara dengan Ia (4)

Ayat pertama menjelaskan secara tegas, bahwa kita sebagai umat manusia sebenarnya diperintahkan Alquran untuk menyatakan Allah itu Ahad, Esa. Asal usul perintah tersebut, ada riwayat sabab al-nuzul-nya. Dalam sebuah riwayat oleh Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab, seperti disebutkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibn Katsir, kaum musyrikin pernah menantang Nabi Saw., “Hai Muhammad, tunjukkan nasab tuhan-Mu !”. Pertanyaan itu tentu tidak sejalan dengan apa yang disampaikan Nabi Muhammad dengan dakwah mengesakan Allah. Maka, Allah Swt. menurunkan 4 ayat surah al-Ikhlash ini.

Dalam banyak riwayat dalam tafsir, kata ahad dalam ayat ini untuk menegaskan identitas keimanan orang yang memeluk ajaran Islam, yaitu mengesakan Allah. Asal usulnya, kata ahad juga memiliki makna yang sama dengan kata waahid. Dasarnya adalah pendapat Imam al-Baghawi dalam tafsirnya yang mengutip riwayat Ibn Mas’ud Ra. Riwayat bacaan ayat pertama surah al-Ikhlas menurut Ibn Mas’ud adalah qul huwa Allahu al-waahid. Wallahu A’lam Ahad dalam ayat ini seperti ditafsirkan oleh Imam al-Qurthubi, yaitu al-waahid al-witr alladzi laa syabiiha lah (yang satu dan ganjil, tidak ada persamaannya dengan yang lain).

Baca Juga :  Tafsir Basmalah: Kenapa Allah Disifati Ar-Rahman dan Ar-Rahim?

Ayat kedua kembali menjadi penegasan kedudukan Allah, setelah memerintahkan kita umatnya untuk mengesakan-Nya, lalu dilanjutkan dengan pernyataan sifat as-Shomad. Ada banyak riwayat yang menjelaskan penafsiran kata as-Shomad, tapi pada intinya seluruhnya bermuara pada makna, “tidak membutuhkan apapun, dan justru menjadi tempat bergantung seluruh ciptaan di alam semesta ini”. Kata as-Shomad, menurut Ibn ‘Abbas Ra maknanya adalah sifat untuk yang menjadi tempat bergantung segala kebutuhan dan urusan. Makna lainnya menurut ahli tafsir adalah, as-Shomad bermakna as-Sayyid (tuan) atau as-Syarif (orang yang mulia) yang kemuliannya itu sudah sangat sempurna (alladzi qad kamula fi syarafihi).

Ayat ketiga kembali mendeskripsikan “independensi” Allah dari apapun. Setelah di ayat sebelumnya ditegaskan sebagai Yang Maha Menjadi Gantungan bagi segala yang ada di alam semesta, dilanjutkan dengan sifat “tidak melahirkan dan tidak dilahirkan”. Untuk menegaskan keesaan, dan Maha Dibutuhkan, Allah bahkan menyifati diri-Nya tidak berasal dari apapun (yuulad= dilahirkan) dan tidak bersifat sementara sehingga butuh penerus (yalid = melahirkan). Ini menjadi bantahan bagi penganut agama yang masih meyakini kalau Tuhannya memiliki anak-anak, seperti dewa-dewa yang akan memiliki penerus, sebuah keyakinan yang cukup banyak berkembang di agama-agama di dunia. Andaikan Tuhan masih terikat dalam rangkaian dilahirkan-melahirkan, maka itu justru akan membatalkan keesaan dan sifat As-Shomad pada diri-Nya. Apalagi, Tuhan juga disifati dengan sifat al-Ghaniyy (Maha Tidak Membutuhkan Apapun).

Ayat keempat, adalah pamungkas penegasan deskripsi Tuhan tentang diri-Nya. Bahkan kalaupun Tuhan tidak terikat dengan rangkaian dilahirkan-melahirkan, bahkan yang setara dengan diri-Nya pun, satu saja tidak ada sama sekali. Itulah makna dari kata kufuww dalam ayat keempat ini. Al-Kufuww seperti disebutkan dalam kitab tafsir, laysa lahu shaahibah (tidak ada yang serekan dengan Tuhan) atau laysa lahu al-matsal (tidak ada yang setara).

Baca Juga :  Opini: Menimbang-Nimbang Ceramah Ustaz Abdul Somad

Walhasil, pelajaran yang bisa dipetik dari ayat ini adalah selain ketegasan bahwa Allah Swt. itu Maha Esa dan tidak membutuhkan apapun, kita sebagai hamba tidak sepatut-Nya menggantungkan sesuatu di dunia kepada selain Allah. Karena, hakikat-Nya Dia yang mengatur segala ciptaan di alam semesta ini. Wallahu A’lam wa ilaihi al-Musta’an.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Ketika kita shalat fardhu atau shalat sunah, kita dianjurkan untuk membaca surah al-Quran setelah membaca surah al-Fatihah pada rakaat pertama dan kedua. Kita boleh membaca surah apa saja dari surah-surah yang ada dalam al-Quran. Namun khusus shalat Maghrib di malam Jumat, kita dianjurkan untuk membaca surah yang biasa dibaca oleh Nabi Saw, yaitu surah al-Kafirun dan surah al-Ikhlas. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here