Tafsir Surah al-Ikhlas: Penegasan Keesaan Allah

0
1154

BincangSyariah.Com – Bagi kaum muslimin, mungkin hampir dipastikan tidak ada yang tidak mengenal surah al-Ikhlas, surah ke-112 di dalam Al-Qur’an. Surah yang hanya berisi empat ayat ini intinya menegaskan eksistensi ketuhanan Allah Swt. Mulai dari perintah untuk mengesakan Allah Swt, kemudian ditegaskan bahwa tiada ada yang dapat menyamakan dengan Allah Swt di alam semesta ini, karena bagaimana mungkin Pencipta-Nya lebih rendah dari ciptaan-Nya.

Ulama beda pendapat apakah surah ini masuk ke dalam surah Makkiyah (surah yang turun di Mekah) atau Madaniyyah (turun di Madinah). Yang berpendapat Makkiyah ini diantaranya disandaarkan kepada pendapat sahabat Abdullah bin Mas’ud, al-Hasan al-Bashri (tabi’in), ‘Atha’ bin Abi Rabah (tabi’in), ‘Ikrimah (tabi’in) dan Jabir bin Abdillah (. Sedangkan yang berpendapat Madaniyyah adalah Ibnu ‘Abbas, ad-Dhahhak (ulama tabi’in, as-Suddi (tabi’in) dan al-Tabari. Namun, jika melihat mushaf al-Qur`an secara umum, surat ini masuk dalam kategori Makkiyah.

Latar belakang turunnya surat ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul karya Jalal al-Din al-Suyuthi. Dasarnya adalah Riwayat At-Tirmizi, al-Hakim dan ibn Khuzaymah dari jalur Abu al-‘Aliyah dari Ubayy ibn Ka’ab berkenaan dengan pertanyaan kaum musyrik kepada Nabi Saw. mengenai asal usul Allah Swt. Kemudian turunlah surat al Ikhlas untuk merespon juga jawaban tegas Allah terhadap pertanyaan tersebut.

Selain itu, terdapat pula riwayat dari Ibn Abu Hatim dari ibn ‘Abbas berkenaan tentang pertanyaan tokoh Yahudi Madinah seperti Ka’ab al-Asyraf dan Huyay bin Akhtab kepada Nabi Muhammad Saw. Mengenai eksistensi Allah Swt. Apakah terbuat dari emas, perak atau permata. Lalu Allah Swt. Menurunkan surat ini kepada beliau sebagai respon terhadap pertanyaan kedua tokoh Yahudi.

Baca Juga :  Sabda Nabi Tentang Pelaku Bunuh Diri

Surat al Ikhlas menggambarkan mengenai asas pokok ajaran Islam yakni tauhid. Dalam kitab al-Tafsir al Wasith Li al-Qur`an al-Karim yang ditulis oleh Majma’ al-Buhuth al-Islamiyyah al-Azhar dijelaskan bahwa Tujuan Allah Swt. menurunkan surah ini untuk menegaskan bahwa Allah ada Dzat yang Maha Esa, suatu Dzat yang tiada berbilang. Pada surah ini Allah Swt. Menafikan semua yang dapat menyamakan dengan Eksistensi-Nya seperti Maha Mengabulkan segala sesuatu (as-Shomad). Allah Swt. Juga menegaskan bahwa Dia tidak beranak dan diperanakkan atau dengan kata lain Allah Swt. Sudah ada sejak zaman Azali. Sehingga penutup ayat dijelaskan Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad yang berarti Dan tidak ada sesuatu yang dapat menyamai-Nya.

Rahasia Penamaan Ahad pada Sifat Allah

Surah al-Ikhlas memiliki munasabah dengan surat beberapa surat sebelumnya seperti surat al-Kafirun yang menjelaskan mengenai pemisahan secara tegas antara kelompok Muslim dengan kelompok kafir. Lalu surat ini sebagai penegas mengenai pemahaman mengenai eksistensi Tuhan dalam pandangan Islam dengan pemahaman Tuhan dalam pandangan kaum kafir Quraisy.

Imam ‘Ali ibn Muhammad al-Mawardi dalam kitab al-Nukat Wa al-‘Uyun menjelaskan tentang penggunaan kata Ahad dalam surat al-Ikhlas. Jika ditilik secara bahasa kata Ahad memiliki akar kata yang sama dengan wahiid yang berarti satu. Namun, penggunaan kata Ahad dalam surat tersebut memiliki alasan tersendiri. Kata wahiid merupakan kata berbilang, sedangkan Ahad bukan merupakan kata berbilang. Sehingga Allah Swt. Adalah Dzat yang berdiri sendiri dan tidak ada yang dapat menyamai-Nya maupun menyerupai.

Makna Sifat As-Shomad pada Allah

Kemudian Imam Abu Ja’far al-Tabari dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan ‘An Ta`wil Ay al-Qur`an menjelaskan mengenai pengertian Allah as-Shomad. Menurut pengertian bahasa Arab kata tersebut berarti Tuan yang memegang sesuatu yang tidak ada seorang pun yang berhak menyamainya juga tidak ada yang dapat menandingi orang tersebut. Lalu at-Tabari pun menjelaskan beberapa penakwilan as-Shomad yakni Allah yang tidak melakukan sesuatu yang normal dilakukan oleh manusia seperti makan dan minum. Lalu pendapat lain mengatakan bahwa kata ini mengandung pengertian bahwa Allah tidak menampakkan diri-Nya secara langsung. Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Ada pula yang mengatakan bahwa kata ini mengandung pengertian bahwa Allah Maha Abadi dan tidak fana serta Allah merupakan Dzat yang Maha berdiri sendiri dan tidak ada yang dapat menyamai-Nya.

Baca Juga :  Memahami Ayat Tentang Perintah Tayamum

al-Ikhlash ayat 3 dan 4: Penegasan Allah Esa, Tak Terikat Sedikitpun dengan Ciptaan-Nya

Pada ayat ketiga yakni lam yalid wa lam yuulad, at-Tabari pun menjelaskan bahwa Allah Swt. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Hal ini merupakan penegasan bahwa Allah Swt. Tidak sama dengan hamba-Nya yang dapat memiliki keturunan. Allah Maha Suci dari sifat ini. Sehingga Allah adalah dzat yang Maha Kekal dan Abadi atau al-Baqi sampai kapan pun. Tentunya berbeda dengan seluruh ciptaan-Nya yang bersifat sementara atau Fana. Ayat ini merupakan respon utama terhadap pemahaman kaum Musyrik yang mengakui adanya banyak tuhan yang diwujudkan dengan berhala.

Penutup ayat yakni wa lam yakun lahu kufuwwan ahad yang berarti “Dan tidak ada sesuatu yang dapat menyamai-Nya”. Redaksi kufuwwan memiliki akar kata yang sama dengan al-Kufu`un, al-Kafi`u dan al-Kifa`u yang seluruhnya brmakna penyamaan (al-Mitsl) dan penyerupaan (al-Syibh). At-Thabari pun menjelaskan penakwilan ayat di atas bahwa tidak sesuatu yang dapat menyamai dan menyerupakan Allah Swt. Selain itu Allah tidak memiliki sekutu juga kawan.

Dengan demikian, telah jelas bagi kita bahwa surat al-Ikhlas yang dalam riwayat hadis disebut sebagaisepertiga dari al-Qur’an (tsulutsu al-Qur’an) terbukti dengan isinya yang menegaskan dengan singkat dan padat bahwa ia mengandung nilai-nilai tauhid. Sehingga surah ini pun mengajarkan kepada kaum Muslimin agar benar-benar memahami hakikat Allah Swt. Yang Maha Esa dan Maha Suci dari segala sifat yang mengarah maknanya pada kemusyrikan. Wallahu A’lam.

Tulisan ini adalah hasil kerjasama bincangsyariah.com dengan Center for Research on Islamic Studies (CRIS) Foundation, Surabaya

lakum dinukum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here